
Riana tersadar sedikit demi sedikit. Dilihatnya Diko yang masih menangis tersedu sambil menggenggam tangan Riana erat.
Diliriknya ruangan tersebut yang seperti ruang rawat inap rumah sakit. Ia pun telah memakai baju rumah sakit.
Dicobanya menggerakkan tangan dan kakinya. Kakinya masih terasa ngilu namun sudah terasa lebih baik.
Merasa tangan Riana bergerak, Diko langsung memalingkan pandangannya ke wajah Riana.
"Sayang, kamu udah sadar?" tanyanya sambil membelai rambut Riana.
Tiba-tiba bayangan kejadian biadab tadi terlintas di ingatannya. Seketika tubuh Riana yang baru saja siuman bergetar hebat sambil berteriak.
"Toloong.. Toloong.. Toloong" teriaknya sambil menutup kedua telinganya.
Diko yang panik langsung memeluk tubuh Riana sekuatnya.
"Sayang, kamu sudah aman. Ada aku di sini" ucap Diko sambil mencoba menangkis tangan Riana yang berusaha menepisnya.
"Aku ga mauu, lepaskan akuu, laki-laki jahanam!!" ucapnya tak karuan.
Hati Diko nyeri melihat kondisi istrinya kini. Tak pernah ia merasa semenyesal ini karena telah meninggalkan Riana sendirian di rumah.
"Jangan mendekat, pergi kamuuu!!" teriak Riana sambil menangis.
"Sayang ini aku, ini akuu" ucap Diko terus menyadarkan Riana.
__ADS_1
Riana meraung dan mengoceh penuh sumpah serapah. Tubuhnya masih terus bergetar bagai tak bisa ia kendalikan.
Bayangan kejadian tadi silih berganti melintas di ingatannya. Ia merasa seperti sedang mengulang kejadian yang tadi ia alami.
Tangannya terus meronta dan kakinya berusaha menendang.
Diko terlihat begitu kewalahan dan berusaha terus menenangkan istrinya. Diko yakin Riana mengalami traumatis yang mendalam hingga membuat tubuhnya bergetar hebat seperti ini.
Emosi Riana seperti meluap-luap mengeluarkan kata-kata penuh kemarahan yang ia tujukan pada pelakunya. Ia seperti tak melihat keberadaan Diko, yang ia lihat hanya lelaki biadab itu yang kini ada di hadapannya.
Namun karena dekapan Diko ia tak bisa dengan puas melampiaskan emosinya dengan memukul dan menendang sekuat tenaga.
"Laki-laki iblis! Kurang ajar! Pergiiiiiiii!" teriaknya lagi semakin keras.
Tak lama kemudian terlihat dua orang perawat wanita masuk dan menanyakan apa yang terjadi. Diko menielaskan bahwa Riana baru saja sadar kemudian langsung histeris seperti ini.
Salah satu perawat tadi berlari keluar dan kembali dengan membawa wadah stainless berisikan beberapa buah suntikan.
Diambilnya salah satu kemudian disuntikkannya ke selang infus yang terpasang pada tangan Riana.
Tak lama Riana terlihat semakin melemah dan tak sanggup lagi meronta. Ia merasa persendiannya seperti setengah mati rasa, dan rasanya seperti mengantuk yang teramat sangat.
Kini ia mulai bisa melihat dan menyadari bahwa Dikolah yang sedang berada di hadapannya bukan lelaki biadab itu.
Tampak oleh Riana mata Diko yang bengkak karena menangisinya. Tampak juga sisa-sisa air mata yang masih tergenang di sana.
__ADS_1
"Jangan kasih tahu Mama dan keluargaku tentang ini Mas" bisik Riana lemah.
Hanya itu yang ada di pikirannya saat ini. Ia tak ingin semua tahu kejadian yang menimpanya saat ini.
Diko mengangguk sambil terus mengelus rambut istrinya itu.
Lama kelamaan rasa kantuk semakin merajai Riana hingga tak bisa ia tahankan. Ia tertidur dengan begitu dalam dan merasakan sedikit ketenangan datang padanya.
Diko mengenggam tangan Riana dan mengecupnya dengan penuh air mata. Perasaanya benar-benar sedih saat melihat Riana harus disuntikkan obat untuk bisa menenangkannya.
...***...
Hai semua pembaca..
Aku mau ngucapin terima kasih untuk yang udah setia sama novel ini, you're so precious to me ❤
Terima kasih juga untuk segala saran dan masukannya, yang sangat berarti banget buat aku sebagai penulis. Aku selalu baca setiap komentar yang masuk sebagai motivasi dan koreksi, dan itu sering buat aku senyum-senyum sendiri saking bahagianya. Mau motivasi, maupun koreksi, komentar pembaca selalu membuat aku senang membacanya.
Aku paham terkadang ada alur cerita yang tidak bisa memuaskan pembaca, dan aku minta maaf, but kembali lagi konflik tetaplah konflik. Dan pemilihan konflik pastinya sudah dalam pertimbangan matang penulis sebuah novel manapun. Jadi, sekali lagi aku minta maaf atas ketidakberkenanannya.
Dan hanya terima kasih banyak yang luar bisa yang bisa penulis ucapkan untuk yang sudah setia dengan novel ini no matter what. I'm so blessed to have you guys ❤❤
With Love
Amelia. R
__ADS_1