Tamu Hati Tak Diundang

Tamu Hati Tak Diundang
BAB 88


__ADS_3

Riana berusaha untuk tetap sadar dalam kondisinya yang mengenaskan. Ia tak ingin mati dalam keadaan seperti ini.


Dirasakannya tubuhnya benar-benar seakan remuk dan sakit luar biasa.


Ia berusaha menggerakkan kaki kanannya dengan sekuat tenaga. Ia mencoba mencapai taplak meja dengan ujung kakinya.


Setelah mendapatkan ujung taplak meja itu, tangannya berusaha menariknya hingga vas bunga yang ada di atasnya terjatuh dan pecah.


Ditutupnya tubuhnya dengan taplak meja tersebut seadanya. Ia benar-benar seperti sedang tak lagi mempunyai harga diri.


Tangisannya mulai terdengar lagi saat merenungi nasibnya kini. Tak pernah ia bayangkan akan mengalami hal menyakitkan dan memalukan seperti ini.


'Mas Diko tolong akuu' isaknya dalam hati berharap ada keajaiban yang bisa mengirimkan suaranya pada Diko.


Riana terisak-isak tiada henti. Ia bisa melihat darah segar di pahanya sejak tadi. Tak tertahankan rasa sakit yang ia rasakan di sana.


Tiba-tiba terdengar suara mobil memasuki halaman rumah.


Diko keluar dan melihat pintu rumahnya dalam keadaan terbuka lebar. Ia segera masuk karena tak biasanya Riana masih membuka pintu jam segini. Ia takut hal buruk terjadi.

__ADS_1


Begitu kakinya melangkah masuk, tampak olehnya tubuh Riana yang hanya tertutupkan taplak meja ,dengan mulut terlakban, dan tangan terikat.


Diko melemparkan tas yang sedang ditentengnya dan langsung menghambur ke arah istrinya sambil berteriak histeris seperti orang gila.


Dengan cepat dilepaskannya penutup mulut dan ikatan di tangan istrinya. Dipeluknya Riana sambil menangis tak karuan.


"Ya Tuhaaan" isaknya sambil mendekap tubuh istrinya.


Riana tak kalah menangis dan meraung di tengah kondisinya yang tak berdaya.


Diko tak sanggup harus menanyakan apa yang terjadi karena ia sudah bisa menebak apa yag barusan menimpa istrinya.


Dengan sigap ia mengambil air dan handuk. Sebelum memakaikan pakaian untuk istrinya yang sudah dibalutnya dengan selimut, sambil menangis tersedu-sedu dibersihkannya bagian tubuh istrinya dengan handuk basah.


Tangisnya semakin kuat dan begitu menyayat, rasa sakit hatinya teramat dalam dan bersumpah tak akan melepaskan siapapun pelakunya. Dengan tergesa-gesa ia pakaikan pakaian pada Riana dan berniat membawa Riana ke rumah sakit dengan segera.


Digendongnya tubuh istrinya yang sudah tampak lemah.


"Sayang, aku mohon kamu harus kuat" ucap Diko dalam tangisannya.

__ADS_1


Dimasukkannya Riana ke dalam mobil kemudian diciuminya.


"Sayang bertahanlah, aku mohon" ucapnya kemudian langsung berlari ke arah kemudi dan melaju menuju rumah sakit terdekat.


Dalam perjalanan, sesekali ia melihat kearah belakang untuk mengecek keadaan Riana.


Riana berusaha mengeluarkan suara sebisanya untuk memberi tanda pada suaminya bahwa ia masih sadar.


Diko tak pernah merasa sepanik saat ini. Jantungnya terus saja berdegub kencang dan rasa amarah kian menjalar dalam dirinya.


Ia bersumpah akan terus mengusut siapakah yang telah melakukan ini pada istrinya. Ia berjanji pada dirinya sendiri bahwa orang itu harus merasakan hal yang setimpal dengan apa yang telah dialami Riana.


"Sayang, sebentar lagi kita sampai di rumah sakit. Kamu harus kuat" ucapnya sambil membelokkan stir ke halaman rumah sakit dan mencari pintu IGD.


"Hmmm" jawab Riana dengan bersusah payah.


Riana rasanya seperti tak sanggup lagi bertahan untuk tetap dalam kesadaran penuhnya. Pandangannya kembali samar dan terus saja semakin samar. Sesuatu terasa begitu sakit di bawah sana dan rasanya tak tertahankan.


Hingga sayup-sayup terdengar suara pintu mobil terbuka dan badannya terasa melayang seperti sedang diangkat oleh seseorang.

__ADS_1


Tampak di dalam pandanganya yang semakin buram Diko dan beberapa orang dengan pakaian putih-putih sedang mendorong tubuhnya yang terbaring, kemudian gelap.


__ADS_2