
"Ada apa Mas? Kok keliatannya gelisah?" tanya Riana yang baru datang setelah mengantarkan Bu Hesti beristirahat.
Diko cukup terkejut dengan kedatangan istrinya.
"Hmm, ga kok. Hmm, ini, cuma agak sakit perut aja abis nya makannya banyak banget" ucap Diko berbohong.
"Mules perutnya? Kembung?" tanya Riana sambil mengetuk perut Diko berulang kali.
"Hmm, ga apa-apa kok sayang. Cuma ga nyaman aja" jawab Diko lanjut berbohong. Padahal ia sedang gelisah menunggu kiriman video dari Ferdy.
"Mas" panggil Riana.
Diko mengeryitkan dahinya pertanda menunggu ucapan Riana selanjutnya.
"Makasih ya udah bikin aku happy" lanjut Riana.
Diko tersenyum mendengar ucapan istrinya itu.
"Sudah seharusnya aku buat istriku senang, bukan begitu?" tanya Diko.
Tanpa menjawab, Riana memeluk suaminya itu dengan erat.
"Aku ga tau Mas sesayang apa aku sama kamu saking sayangnya. Aku juga ga tahu apa jadinya aku tanpa kamu sekarang" ucap Riana yang masih dalam pelukan Diko.
__ADS_1
"Aku juga sayang banget sama kamu. Aku cuma mau kamu terus bahagia dalam kehidupan pernikahan kita" jawab Diko.
Tiba-tiba terdengar suara Bu Hesti memanggil keduanya.
"Ada apa Ma? Kok Mama ga jadi istirahat?" tanya Diko heran.
"Ayo kita pulang sekarang" ajaknya.
"Ya memangnya kenapa? Ada apa Ma?" tanya Diko lagi.
"Sepertinya Maag mama kambuh nih. Mama ga bawa obat" ucap Bu Hesti.
Diko dan Riana mengangguk dan dengan sigap langsng membawa ibunya itu ke dalam mobil.
"Ada apa Mas kok dari tadi liatin handphone terus?" tanya Riana.
"Lagi nunggu telepon dari siapa?" tanyanya lagi.
"Hmm, ga kok. Cuma lagi bahas kerjaan sama Joe" jawabnya lagi-lagi berbohong.
"Nanti di rumah aja ya, bahaya kalau di jalan gini" jawab Riana.
Diko mengangguk.
__ADS_1
Namun sebenarnya hatinya benar-benar tak tenang. Ia masih penasaran siapakah pelakunya.
'Duh, Fer ayo dong kirimin videonya' gumamnya dalam hati.
Riana mencium sesuatu yang tak beres. Ia sudah hapal dengan gerak-gerik suaminya itu. Jika gelisah seperti ini, pasti ada sesuatu yang sedang ditunggunya dan membuatnya begitu penasaran.
Riana menebak bahwa Diko sedang ada masalah.
Begitu sampai di rumah, Riana langsung mengantar ibu mertuanya ke dalam kamar dan membantunya meminumkan obat. Diko sejak awal tiba sudah langsung tak keliatan batang hidungnya. Bahkan melihat ibunya yang sakit pun tidak.
Riana makin penasaran, ada apa dengan suaminya. Apa yang sedang ditutupi Diko darinya.
"Ya udah Mama istirahat aja ya jangan ngapa-ngapain dulu" ucap Riana sambil berdiri berniat keluar.
"Iya, mama ga apa-apa. Paling sebentar lagi juga enakan" jawab ibu mertuanya.
Lalu Riana bergegas mencari Diko. Dilihatnya ke ruang tamu tidak ada, di teras juga tidak ada. Riana berinisiatif menuju ke kamar mereka, barangkali Diko ada di kamar.
Ketika menaiki tangga ke lantai dua, Riana mendengar sayup-sayup suara Diko yang sedang mengobrol dengan seseorang. Sepertinya Diko sedang mengobrol lewat telepon.
Karena begitu penasaran, Riana tak langsung masuk. Ia berdiri di depan pintu berniat mendengarkan percakapan suaminya.
Ia berusaha mendengar dengan seksama. Namun tak bisa begitu terdengar jelas. Tapi ia bisa mendengar Diko berulang kali menyebut kata polisi.
__ADS_1
Darah Riana berdesir. Ada masalah apa hingga suaminya berurusan dengan polisi.