
"Tadi pas aku angkat telepon kamu ada ngomong sama aku ya? Terus aku ga denger?" tebaknya sambil berusaha mengingat.
"Ga, mana berani aku ganggu yang lagi kangen-kangenan" ucapnya datar.
"Kamu cemburu ya Mas?" tanya Riana tak habis pikir.
"Siapa juga yang cemburu. Biasa aja" jawab Diko.
'Galak juga ni orang kalau cemburu' bathin Riana yang baru sekali ini melihat Diko mencemburuinya.
"Emangnya siapa tadi yang telepon?" tanya Diko jutek.
'Katanya ga cemburu, tapi nanya juga' Riana terkekeh dalam hati.
"Geo, tadi Geo yang telepon aku" jawab Riana sambil memijat pundak Diko.
"Aku ga tanya namanya, tapi dia itu siapa?" tanya Diko lagi sambil menoleh ke arah Riana.
'Duh beneran galak ni orang ternyata' bathin Riana.
"Sayaaang, Geo itu teman SMA aku. Jadi sebenarnya udah dari beberapa minggu lalu teman-teman angkatanku itu ada rencana mau reunian, cuma jadwal dan tempatnya itu belum fix. Nah ternyata sekarang udah disetting tempat dan waktunya, makanya tadi Geo sebagai koordinatornya ngabarin ke aku" jelas Riana sambil duduk menyamping dipangkuan Diko yang pura-pura masih sibuk dengan pekerjaannya.
"Terus kenapa tuh bilang kangen-kangen segala?" tanya Diko lagi dengan nada sewotnya.
"Ya maksud aku kangen sama semuanya, sama teman-teman SMA aku" jawab Riana membela diri.
"Ya bilang dong harusnya kangen sama semuanya, aku kan jadi mikir yang bukan-bukan" jawab Diko lagi.
__ADS_1
Riana menarik nafas panjang.
'Ya makanya nanyaaaa dong, bukannya main marah-marah ajaa' gumamnya dalam hati.
Tidak ada gunanya ia berkeras dengan makhluk yang sedang cemburu ini, pastilah ia merasa benar.
"Jadi udah ga marah kan?" tanya Riana sambil menggelayut manja di pangkuan suaminya.
"Siapa bilang?" ucap Diko cuek.
"Masa sih masih marah? Serius nih masih ngambek??" tanya Riana sambil memegang rahang Diko dengan kedua tangannya memaksa Diko untuk menatap matanya.
"Yakin marah?" tanya Riana sambil memasang wajah konyol nya dengan memonyongkan bibirnya dan menyatukan kedua bola hitam matanya.
Diko tak bisa menahan tawa. Ia terkekeh sambil menoyor kepala istrinya itu pelan.
"Kamu tu yaa" ucap Diko kemudian mengacak rambut Riana.
"Berani bayar berapa buat nyewa aku?" tanya Diko.
Riana manyun mendengar pertanyaan Diko.
"Masa gajiku bulan depan harus aku relain buat bayar kamu?" ucap Riana cemberut.
Diko tersenyum nakal.
"Kalau bayarnya pake ini gimana?" tanya Diko sambil menarik daster selutut yang digunakan Riana pelan.
__ADS_1
Riana mencubit pinggang Diko gemas.
"Capek yang tadi aja belum hilang Mas" ucapnya.
Kemudian Diko tertawa puas karena berhasil menggoda istrinya itu.
"Hmm, tapii" ucap Diko mulai serius sambil membelai lengan Riana.
Riana menunggu Diko melanjutkan kalimatnya.
"Aku berharap kita bisa punya anak" ucap Diko sambil mengelus perut Riana yang datar.
Riana terdiam sejenak.
"Aku juga berharap begitu Mas, mungkin kalau kita bisa kasih cucu buat Mama, jadi bisa sedikit mengurangi kesedihannya" jawab Riana.
Diko mengangguk.
"Umurku juga sudah hampir 31 kan sayang, kasian anak kita nanti kalau papanya sudah tua" ucap Diko kemudian mengecup pipi Riana mesra.
"Makanya, kita harus rajin bikinnya. Biar cepet jadi" ucap Diko sambil berdiri meggendong Riana ke kamar.
"Maaas, Maas, turunin akuu" ucap Riana berusaha melepaskan diri.
Tapi Diko menggendongnya dengan erat dan melangkah ke arah kamar.
"Biariiin, siapa suruh mancing-mancing pake duduk di pangkuan aku segala" jawab Diko dengan senyum nakalnya.
__ADS_1
"Maaas, aku baru beres-beres kamar. Masa udah harus berantakan lagiii??" teriak Riana sambil berusaha melepaskan diri.
Namun teriakannya tak digubris oleh Diko yang sedang menendang pintu kamar dengan satu kakinya kemudian menghempaskan tubuh istrinya ke tempat tidur.