
Diko menarik tangan Riana untuk masuk ke halaman rumah baru mereka.
Diko memastikan rumah mereka kali ini tingkat keamanannya harus tinggi. Ia tak mau sesuatu hal yang buruk terjadi lagi.
Memang rumah mereka yang sebelumnya adalah murni design Diko dari eksterior hingga interiornya. Diko terjun langsung dalam setiap pengawasan pengerjaannya. Itu juga rumah pertama yang berhasil ia bangun dari hasil kerjanya.
Namun sekarang ia harus megikhlaskan rumah yang telah dibangunnya itu. Ia harus rela kini membeli rumah yang telah jadi di sebuah komplek perumahan yang tak jauh dari rumah ibunya, hanya berkisar 10 menit saja.
Namun tetap Dikolah yang mendesain interior dan barang yang ada di rumah ini, semua ia kerjakan secara kilat di sela-sela pekerjaannya agar tidak memakan waktu terlalu lama. Ia tertarik dengan rumah ini karena perumahan ini bertype cluster yang mana hanya mempunyai satu jalan masuk sehingga lebih terpantau siapapun yang masuk ke perumahan ini. Tiap rumah memiliki pagar serta penjagaan security yang tiap 2 jam sekali selalu berpatroli mengecek keadaan tiap rumah juga menjadi nilai plus di sini. Jumlah rumah yang hanya sekitar 50 unit juga membuat keamanannya lebih tinggi, karena pasti bisa terpantau secara detail oleh security jaga.
Diko membuka pintu rumah dengan perlahan. Begitu masuk terasa kental suasana minimalis modern yang cukup menggunakan dua warna sebagai pemanisnya dindingnya.
Dengan warna dominan putih dan coklat muda membuat kesan adem dan menenangkan menyelimuti rumah ini. Diko benar-benar tak diragukan lagi keahliannya dalam mendesain.
"Gimana? Kamu suka?" tanya Diko pada istrinya yang masih terpana dengan isi dalam rumah mereka.
Riana hanya bisa mengangguk bahagia. Ia tak bisa berkata apa-apa saking sukanya.
__ADS_1
"Tapi, untuk barang-barang sebagus ini pasti harganya mahal banget ya Mas?" tanya Riana tak enak.
Diko tersenyum mendengar pertanyaan istrinya itu.
"Uang dari hasil penjualan rumah yang lama cukup untuk semua ini" ucap Diko.
Riana mengangguk paham.
Memang rumah mereka kini tak sebesar rumah yang dulu. Namun interiornya jauh lebih bagus dan terlihat mewah.
Riana memeluk suaminya dengan mesra.
Diko tersenyum bahagia. Ia sangat senang bisa membuat Riana bahagia dan kembali bisa mempunyai semangat dalam menjalani hidupnya.
"Ayo kita lihat kamar nya" ajak Diko
Mereka menuju pintu yang berseberangan dengan pintu masuk tadi. Dibukanya dengan perlahan lalu nampaklah sebuah kamar tidur yang lumayan luas dan lebar tetap dengan warna dominan putih.
Riana kembali takjub melihatnya. Kamar ini sedikit mirip dengan kamar mereka sebelumnya, bernuansa monokrom membuat kesan kamar tidur yang tak terlalu feminin, masih ada kesan maskulin yang pertanda kamar tidur ini milik berdua yaitu suami dan istri.
__ADS_1
Begitu membuka lemari, Riana terperangah karena barang-barangnya sudah tersusun di sini.
"Mas, kapan kamu pindahin?" tanya Riana heran.
"Setelah barang-barang berharga aku bawa, aku minta beberapa karyawanku untuk bantu memindahkan barang-barang pribadi kita" jawab Diko.
"Terus, kita akan segera pindah ke sini?" tanya Riana.
"Kapanpun kamu sudah merasa siap, baru kita pindah ke sini. Kalau sementara ini, karena kamu masih menjalani therapy aku rasa sebaiknya kita di rumah Mama dulu. Karena aku juga akan sedikit sibuk karena mengurus pembukaan cabang baru di Jogja" jelas Diko.
Mata Riana terbelalak mendengar penjelasan Diko.
"Kamu serius Mas mau buka cabang?" tanyanya excited.
Diko mengangguk sumringah.
"Doakan rencana ini lancar ya sayang, biar rezeki kita semakin luas" ucapnya sambil mengacak rambut Riana dengan mesra.
__ADS_1