
Riana tersenyum sinis mendengar ucapan Pramudya.
"Dua kali kamu mengorbankan orang lain demi perusahaanmu, dan mirisnya itu orang yang sama" sindir Riana telak.
Pramudya langsung tertunduk tak bisa berkat apa-apa.
"Kami memohon kerendahan hati Bu Riana dan Pak Diko, karena jika klien kami harus di penjarakan maka banyak pihak yang terkena dampaknya, sekali lagi kami memohon kerendahan hati Ibu dan Bapak" ucap pengacara Pramudya.
"Kurang rendah hati apa kami?" tanya Diko sinis.
"Kalau saat itu bukan klien anda yang menyulut semua ini, mungkin ini tidak akan terjadi. Setelah istri saya pingsan di kantornya, saya tidak pernah menuntut apapun. Sampai akhirnya dia mengirimi istri saya bingkisan-bingkisan. Bisa dilihat siapa yang memulai semua ini. Kalau memang klien anda tidak mau berurusan dengan hukum, kenapa tidak berfikir dulu sebelum bertindak? Bahkan sempat-sempatnya memanipulasi video CCTV ketimbang mengakui kesalahannya dan meminta maaf. Kalau memang mengakui salah, kenapa tidak sejak saat itu? Kalau kemarin kami tidak berhasil mendapatkan video asli CCTV nya mungkin sampai saat ini klien anda masih bersembunyi dibalik kesalahannya" ucap Diko panjang lebar.
Pramudya dan pengacaranya tak berkutik tak bisa berkata-kata.
"Baik, saya paham klien kami sangat kecewa dan marah pada klien anda, tapi biarkan mereka berpikir. Mudah-mudahan ada jalan tengah untuk kasus ini. Semua harus bertindak dengan kepala dingin" ucap Pak Yohanes.
"Saya minta maaf, sekali lagi sama mohon maaf. Tolong pertimbangkan permintaan saya ini, dengan segala kerendahan hati saya meminta maaf yang sedalam-dalamnya. Semoga Riana dan suaminya bersedia dan berkenan untuk mencabut laporan di kepolisian" ucap Pramudya akhirnya.
__ADS_1
Semua pun hening, Diko dan Riana seperti enggan untuk berkomentar lagi.
"Baik, kalau begitu, semua yang telah Pak Pramudya sampaikan telah kami dengarkan, kami simak dan akan menjadi bahan diskusi kami dan klien kami. Semoga ada jalan terbaik untuk kasus ini" ucap Pak Yohanes mengakhiri pertemuan hari itu.
Pramudya dan pengacaranya mengangguk. Lalu keduanya pamit dan meninggalkan ruangan.
Setelah Pramudya pergi, Diko dan Riana masih terdiam seperti tak tahu harus berkomentar apa.
Pak Yohanes memanggil rekan-rekannya yang lain untuk masuk ke dalan ruangan dan membahas pertemuan tadi.
Diko dan Riana saling berpandangan.
"Kami belum bisa memutuskan Pak, kami perlu waktu untuk berpikir" jawab Diko kemudian.
...***...
Sesampainya di rumah, mereka melihat sebuah karangan bunga berukuran kecil berbentuk bouqet sudah terpajang di ruang tamu.
__ADS_1
Di depan karangan bunga itu terdapat kartu ucapan yang bertuliskan,
Saya memohon kerendahan hati Riana dan Pak Diko atas kesalahan yang telah saya perbuat. Saya memohon maaf yang sebesar-besarnya.
Pramudya
Diko dan Riana tak menyangka Pramudya sampai mengirimkan karangan bunga segala.
"Biii" panggil Diko pada Bi Yum yang tidak nampak keberadaannya sejak mereka masuk rumah tadi.
"Iya Pak" sahut Bi Yum sambil muncul dari arah dapur.
"Tolong ini di taruh di luar" ucap Diko sambil menunjuk ke arah halaman rumah.
"Hmmmmm, baik Pak" ucap Bi Yum yang terlihat kebingungan karena bunga itu baru saja sampai sebelum keduanya pulang dan saat ini ia di perintahkan untuk menaruh keluar.
"Ayo sayang" ucap Diko sambil merangkul pundak Riana dan menuntunnya untuk masuk ke dalam kamar. Ia tak mau Riana terlalu lama memandangi karangan bunga itu dan hanya akan menambah beban pikiran istrinya yang tengah hamil.
__ADS_1