
Riana mencoba berteriak sekuat tenaga. Namun sebuah tamparan keras dari tangan yang begitu besar langsung mendarat telak di wajahnya yang membuat Riana hampir saja pingsan karena sakitnya. Riana tersungkur ke lantai dan nyaris saja kepalanya terkena sudut meja.
Melihat Riana yang tak berdaya, lelaki itu langsung menutup mulut Riana dengan selembar lakban berwarna hitam yang terasa menempel kuat di mulutnya.
Riana menangis tak tertahankan. Ia tak tahu siapa orang itu, ia juga tak tahu apa kesalahannya sehingga diperlakukan seperti itu.
Lelaki itu lanjut melilitkan lakban ke kedua tangan Riana dengan erat sehingga tangannya tak bisa lagi memberontak.
Riana merasakan sakit luar biasa. Wajahnya terasa panas dan begitu pedih. Namun ia tetap berusaha menggerakkan kakinya untuk memberontak
Sekali lagi ditamparnya wajah Riana dengan begitu keras sehingga mengucur beberapa tetes darah dari sudut matanya yang bercampur dengan air mata.
Diseretnya tubuh Riana dengan begitu kasar dan dihempaskannya di atas sofa ruang tamu.
Riana berteriak dalam keadaan mulutnya yang terlakban. Ia takut luar biasa, ia bisa menebak apa yang akan dilakukan orang tersebut padanya. Ia terlihat akan melecehkan Riana.
__ADS_1
Dengan paksa ia menarik baju tidur Riana hingga robek.
Riana berusaha menendang wajah lelaki itu dengan sekuat tenaga. Dan benar saja, tendangan itu mendarat telak di dagu lelaki itu hingga pria itu tampak begitu kesakitan.
Namun dari penutup wajahnya tampak sorot mata yang begitu marah karena perbuatan Riana padanya.
Dengan begitu kasar ia meninju kedua kaki Riana hingga Riana menjerit dan merasakan kakinya begitu sakit dan ngilu. Namun dengan sekuat tenaga ia kembali menendang perut lelaki itu hingga terlihat kesakitan.
Lelaki itu makin murka, namun tetap tak memgeluarkan suara.
Riana terus menjerit dan berusaha berteriak walaupun mulutnya tertutup. Ia berharap ada orang ataupun security yang lewat mendengar teriakannya.
Riana merasa harga dirinya tercabik-cabik di depan lelaki itu. Ingin rasanya ia melawan namun tubuhnya terkunci dan kakinya sudah seakan mati rasa.
Hanya mengandalkan suaranya yang sejak tadi terus saja ia keluarkan sekuat tenaga berharap ada seseorang yang menolongnya.
__ADS_1
Sesaat Riana sadar bahwa orang ini telah benar-benar melakukan pelecehan padanya. Melakukan sesuatu yang tak pantas, yang harusnya dilakukan oleh suaminya, bukan pria lain.
Riana menjerit sekuat-kuatnya. Sungguh sakit hatinya, ia menangis dan membuatnya seperti kehilangan nafas.
Ia menangis dan terus menangis.
"Mas Dikooo.." jeritnya dalam kebisuan.
"Toloooong" begitulah teriaknya dalam kebungkaman yang membuatnya tak berdaya.
Riana benar-benar merasakan hancur sehancur-hancurnya. Harga dirinya benar-benar sudah di injak-injak lelaki itu.
Ia tidak pernah merasa lebih terhina dibandingkan dengan saat ini. Hal ini benar-benar seperti titik terendah yang ia alami sepanjang hidupnya.
Tangisannya sudah tak bisa lagi bersuara, tubuhnya sudah seperti mayat yang terbujur tak berdaya.
__ADS_1
Lelaki biadab itu benar-benar tak mengasihaninya sedikitpun. Entah apa kesalahan yang telah ia perbuat hingga hal ini terjadi padanya.
Hingga akhirnya semua terlihat samar dan semakin samar. Dari penglihatannya yang buram, ia melihat lelaki itu mulai beranjak dan buru-buru pergi meninggalkannya yang sudah hampir tak sadarkan diri.