Tamu Hati Tak Diundang

Tamu Hati Tak Diundang
BAB 25


__ADS_3

Sekitar pukul 22.00 WIB, Diko mengantarkan Riana untuk pulang.


Mereka berdua cukup lega setelah bertemu keluarga Diko. Terutama Riana, ia sangat senang karena keluarga Diko yang bersikap hangat padanya. Tia pun tak canggung bercengkrama dengannya, ia merasa seperti punya adik perempuan. Maklum, Riana anak tunggal. Ia tidak pernah merasa bagaimana rasanya punya saudara.


Sesampainya di halaman, Diko turut mengantar Riana sampai ke depan pintu kamarnya.


"Hmmm..Mas, maaf sebelumnya aku mau nanya" ucap Riana sebelum Diko pamit.


"Iya, ada apa?" tanya Diko penasaran.


"Duduk dulu Mas," ucap Riana sambil menarik tangan Diko untuk duduk di kursi tamu yang berada tepat di depan jendela kamarnya.


Diko pun duduk bersebelahan dengan Riana.


"Hmm, begini Mas. Aku mau tanya, setelah menikah nanti, aku masih boleh bekerja?" tanya Riana to the point.


Diko tersenyum mendengar pertanyaan Riana.


"Boleh kok, aku tidak melarangmu Ri. Lakukan apa yang membuatmu bahagia" jawab Diko jujur.

__ADS_1


Riana tersenyum lebar mendengar jawaban Diko.


"Makasih ya Mas, sebelumnya" ucapnya lega.


"Hmmm terus satu lagi..Nanti setelah menikah, kita akan tinggal dimana?" tanya Riana lagi.


"Menurut kamu lebih baik kita tinggal dimana?" tanya Diko.


"Yaah kok balik tanya sih Mas" ucap Riana cemberut.


Diko tertawa melihat ekspresi Riana yang seperti anak kecil sedang merajuk.


"Iya Mas, aku mengerti. Tapi, aku sudah terlanjur membayar sewa kamarku untuk 6 bulan kedepan Mas. Kalau nanti sebagian barangku masih ada di sini tidak apa-apa?" tanya Riana.


"Hmm, aku rasa ga apa-apa Ri. Kamu bisa cicil apa yang kamu rasa perlu untuk di bawa. Aku mengerti ini mendadak, jadi kita perlu waktu untuk membereskan segala sesuatunya nanti." jawab Diko sambil tersenyum.


"Hmmm, kalau begitu aku lega Mas. Karena setelah dari Surabaya nanti kita tetap mesti bekerja, jadi untuk langsung pindah 100% aku rasa sedikit repot Mas. Jadi memang sebaiknya pelan-pelan aja" ujar Riana menambahkan.


Diko pun mengangguk setuju. Kemudian berdiri untuk siap-siap berpamitan.

__ADS_1


Riana turut berdiri dan menuju pintu kamarnya.


"Yaudah kamu istirahat ya, besok kan mesti penerbangan pagi" ucap Diko sambil mengelus rambut Riana dengan lembut.


Lagi-lagi jantung Riana berdegub dengan kencangnya. Desiran-desiran darah dirasanya dengan sangat jelas.


"Iya Mas, kamu juga. Besok kan mesti kerja" ucap Riana.


"Iya, tapi aku ke kamar Rio sebentar. Ada urusan sedikit" jawab Diko.


Ia akan mampir sebentar ke kamar Rio untuk memberitahu bahwa beberapa hari lagi ia akan melangsungkan pernikahan dengan Riana. Diko bisa memastikan betapa terkejutnya Rio dengan penjelasannya nanti.


"Iya Mas, kalau bisa jangan sampai larut malam ya" ucap Riana sambil menatap Diko.


Diko bisa merasakan Riana sudah mulai menaruh hati padanya.


"Iya, yaudah kamu masuk ya." ucap Diko sambil melambaikan tangan kemudian berjalan ke arah kamar Rio.


Riana segera masuk ke kamarnya kemudian menutup pintu dan menguncinya.

__ADS_1


Kemudian ia bersandar di balik pintu sambil tersenyum malu. Dirinya benar-benar sudah dimabuk kepayang pada sosok Diko, yang sebentar lagi menjadi suaminya.


__ADS_2