
Pagi itu suasana di kamar hotel mereka terasa begitu dingin. Dingin karena cuaca, dan juga dingin karena sikap Riana yang masih belum sepenuhnya bisa bersikap seolah-olah semua baik-baik saja.
Namun ia tetap menjalankan perannya sebagai istri. Ia tetap menyiapkan pakaian suaminya, masih menyiapkan kopi sebagai pelengkap sarapan mereka. Tapi ada yang terasa berbeda, masih ada terselip rasa amarahnya terhadap Diko. Ucapan Diko tadi malam masih terngiang-ngiang di pikirannya.
Ia sudah memaafkan suaminya, namun belum bisa lupa dengan ucapannya semalam. Mungkin perlu waktu. Mudah-mudahan saja dengan berjalan-jalan akan membuat suasana hatinya bisa lebih baik.
Hari ini Riana dan Diko berencana akan pergi ke Tokyo Imperial Palace. Mereka sudah menjadwalkannya sejak kemarin.
Diko menyadari sikap dingin Riana. Namun ia tak ingin memaksakan istrinya, biarlah Riana perlahan memaafkannya.
Saat sarapan pun mereka hanya berbicara seadanya, tanpa ada candaan-candaan seperti biasanya. Diko terlihat beberapa kali mencoba untuk mengambil hati istrinya.
Sehabis mandi ia lipat baju kotornya dengan baik kemudian ditaruhnya di tempat yang semestinya. Riana yang melihat hal tersebut hanya bisa terheran-heran, biasanya sehabis mandi ia lah yang mengutip baju kotor suaminya di kamar mandi ataupun lantai.
Setelah menggunakan handuk, Diko memastikan menggantungnya kembali di kamar mandi. Riana juga hanya bisa melirik saja, biasanya memungut handuk basah di atas tempat tidur adalah rutinitas sehari-harinya. Ia tahu Diko berusaha well mannered untuk mengambil hatinya.
__ADS_1
Dan yang paling terlihat aneh, ketika mereka akan berangkat Riana yang akan menunduk untuk memasang tali sepatu sneakersnya langsung kaget karena Diko dengan begitu cepat menunduk dan memasangkan tali sepatu Riana.
Kemudian dengan sigap ia membukakan pintu kamar dan mempersilahkan istrinya keluar terlebih dahulu. Dalam hati Riana merasa geli melihat Diko yang berusaha membuatnya tak marah lagi. Tapi mungkin ini lebih baik, agar lain kali Diko tak dengan mudahnya bersikap seperti kemarin.
Mereka berangkat menggunakan kareta bawah tanah. Perjalanan akan menempuh jarak sekitar 15 menit.
Kereta tidak terlihat begitu ramai. Hanya ada beberapa orang di dalamnya. Diko dan Riana duduk bersebelahan.
Di tengah sikap diam mereka berdua, tiba-tiba keduanya terlihat salah tingkah. Pasalnya, pasangan di depan mereka yang awalnya hanya duduk dan mengobrol kini terlihat sedang berciuman.
Walaupun sudut mata keduanya sesekali melirik pasangan tersebut yang masih dengan mesra berciuman. Tanpa sengaja pandangan Diko dan Riana bertemu. Mereka berdua makin salah tingkah.
Diko meraih tangan Riana dan menggenggamnya. Riana tersenyum dengan begitu manis. Diko lega akhirnya bisa melihat senyuman indah dari bibir istrinya. Diko membalas senyuman istrinya kemudian mengelus rambut Riana dengan lembut.
Tak lama kemudian mereka tiba. Keduanya keluar dari stasiun dan berjalan keluar menuju Tokyo Imperial Palace, yaitu sebuah kawasan kekaisaran Tokyo yangbbegitu autentik dan memanjakan mata para pengagum bangunan dengan desain tradisional Jepang.
__ADS_1
Ada jembatan yang indah dan sangat artistik. Terlihat begitu tradisional namun tetap mewah. Di bawahnya terdapat hamparan sungai beserta alirannya yang menenangkan.
Di beberapa alirannya terdapat beberapa bagian yang penuh dengan bunga seroja yang begitu indah. Benar-benar bisa membuat refresh pikiran dan hati Riana saat ini.
Suasana yang begitu indah membuat kesan romantis begitu kental terasa. Banyak pasangan yang sedang duduk santai saling bercengkrama.
"Mas" panggil Riana saat keduanya sedang fokus melihat hamparan bunga seroja.
"Hmm" gumam Diko sambil menoleh ke arah istrinya.
Riana diam tak menjawab. Ia terlihat seperti ingin mengucapkan sesuatu namun berat. Ia hanya ingin mengucapkan terima kasih karena Diko telah menyadari kesalahannya dan bertekad untuk menjadi lebih baik.
Belum sempat Riana berkata-kata, Diko sudah menarik tubuh Riana dan memeluknya.
__ADS_1
"Maafkan aku sayang" bisik Diko yang di balas dengan anggukan Riana yang melegakan hati Diko saat itu.