Tamu Hati Tak Diundang

Tamu Hati Tak Diundang
BAB 110


__ADS_3

Di sepanjang jalan keduanya hanya bisa terdiam dan membisu. Diko tak berani mengeluarkan sepatah kata pun karena isyarat Riana yang sedang tak ingin diajak bicara.


Ia cukup bingung menghadapi Riana yang seperti ini. Tak hentinya ia mengutuk dirinya di masa lalu. Betapa cerobohnya, bodohnya dan bejatnya ia dulu yang kini mengakibatkan istrinya merana. Seseorang yang seharusnya ia lindungi dan ia jaga, ternyata karena perbuatannya malah harus merasakan pengalaman pahit seperti ini.


Tak tergambarkan begitu besarnya rasa bersalah Diko pada Riana. Walaupun waktu tak dapat di putar kembali, ia terus saja menyesali semuanya.


Riana pun sibuk dengan pikirannya sendiri yang bercampur aduk dan tak bisa digambarkan saking kacaunya. Ia harap Diko bisa memahaminya saat ini.


Ia hanya ingin tenang agar bisa berpikir jernih. Ia tahu saat ini emosinya meledak-ledak oleh karena itu ia berusaha untuk diam.


Saat mobil Diko parkir di halaman, Riana langsung keluar dan buru-buru masuk ke dalam.


Ia melihat suasana sepi di dalam rumah. Tak terlihat seorangpun d isana pertanda semua orang telah tidur. Diko pun bergegas mengejar Riana masuk.


Diko tahu Riana pasti langsung masuk ke dalam kamar. Ia pun langsung berlari mengejarnya.


Ia membuka pintu kamar dan mendapati Riana baru saja melemparkan tas dan ponselnya ke atas tempat tidur. Tanpa basa-basi, Diko langsung mendekat.


"Sayang, aku mohon jangan seperti ini" ucap Diko sambil menarik Riana untuk melihat ke arahnya.

__ADS_1


"Jangan sentuh aku Mas" jawab Riana seperti menahan emosinya.


Diko terlihat tak mengindahkan perkataan Riana. Ia makin menggenggam erat kedua tangan Riana.


"Ga Ri, aku ga akan lepasin kamu" ucap Diko sambil menggeleng.


"Jangan sentuh aku!" teriak Riana sambil menghempaskan tangannya agar terlepas dari genggaman Diko.


"Kamu tu brengsek Mas!" teriaknya lagi sambil menangis.


'Plakk!'


"Kamu laki-laki kurang ajar!" teriaknya sekali lagi.


'Plakk!'


Sebuah tamparan selanjutnya didaratkan kembali oleh Riana ke pipi Diko. Riana tak bisa mengendalikan emosinya saat ini. Air matanya pun terus mengalir tak bisa berhenti.


Diko hanya bisa menahan perih dan panas yang terasa di pipi kirinya. Ia biarkan Riana melakukannya tanpa perlawanan sedikitpun.

__ADS_1


"Aku benci Mas sama kamu!!" ucap Riana sambil memukul dada Diko kemudian mengarahkan kakinya menendang tungkai kaki Diko sepuas hatinya.


Diko tak mencegahnya sedikitpun. Ia benar-benar ikhlas jika memang ini bisa melampiaskan emosi Riana.


Sampai pada akhirnya Riana semakin tak terkendali. Dadanya sudah terasa sakit karena berulang kali terkena pukulan istrinya.


Diko mengambil kedua tangan Riana kemudian mendekap tubuh istrinya itu agar tak bisa bergerak. Riana berusaha meronta namun tak berhasil. Dalam tangisnya ia terus meracau.


"Kamu laki-laki jahat. Aku benci sama kamu" ucapnya di sela tangisannya.


"Iya, aku laki-laki jahat. Aku laki-laki brengsek. Aku kurang ajar. Kamu benar" jawab Diko yang tak menyadari air matanya kini turut mengalir.


"Tapi jangan benci aku" ucap Diko lirih.


"Aku benci kamu" tangis Riana kemudian.


"Ga sayang, ga!" ucap Diko sedikit keras sambil menggelengkan kepalanya.


Riana kembali berusaha melepaskan diri dari dekapan Diko namun masih saja gagal. Tenaga Diko yang lebih kuat daripada dirinya membuat usahanya sia-sia.

__ADS_1


__ADS_2