Tamu Hati Tak Diundang

Tamu Hati Tak Diundang
BAB 56


__ADS_3

"Jangan bilang begitu Ri, kamu jangan ucapkan hal sembarangan" jawab Diko yang masih mengontrol erat tubuh Riana yang terus memukulinya.


"Biar! Biar aja sekalian kita pisah! Kita jalani hidup kita masing-masing! Biar aku juga tidak harus menanggung sakit hati atas semua ini Mas" teriaknya sambil terisak-isak.


"Riana aku mohon sudaah, sudah Ri, sudaaaah" teriak Diko yang sudah tak kuasa membendung air matanya melihat emosi Riana yang tak bisa di kendalikan.


"Aku mohoon, tenang Riana, tenaang Ri" isak Diko sambil mendorong tubuh Riana ke kasur dan tetap menguncinya.


Riana makin menjadi, terisak menangis dengan kerasnya sambil terus berusaha memukul Diko. Tak puas sampai disitu, karena tubuhnya tengah terbaring dan tangannya terkunci, ditendangkannya kakinya sekuat tenaga sambil terus melampiaskan emosinya.


Diko lagi-lagi mengunci kaki Riana dengan kakinya. Hingga Riana tak bisa berkutik sama sekali.


"Dengar Ri, dengar aku!" ucap Diko berteriak agar Riana mendengarnya.


"Kamu mau pukul aku? Tendang aku?? Apa itu yang membuat kamu puas? Apa itu yang bisa membuat kamu lega?" teriak Diko lagi.

__ADS_1


Riana tak menjawab, ia terus menangis.


"Jawab Ri! Cepat katakan! Kalau memang iya, aku rela, aku lepaskan kamu, pukul aku sekuat-kuatnya. Tendang aku sampai kamu puas" ucap Diko sambil melepaskan kunciannya.


Riana yang masih terbaring, kemudian menutup wajahnya dengan kedua tangannya sambil terisak-isak.


"Ayo Ri, ayo pukul aku" ucap Diko sambil mengarahkan tangan Riana ke wajahnya, ke dadanya, ke kepalanya.


Riana menarik tangannya kemudian menjauh ke sudut tempat tidur dan meringkuk sambil menangis tersedu-sedu.


Diko pun terduduk di pinggir tempat tidur sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan sambil tak kuasa menahan air mata yang sejak tadi terus saja mengalir. Hatinya nyeri melihat kondisi Riana yang begitu tersakiti oleh dirinya. Ia tak menyangka semua akan menjadi serumit ini.


'Anak macam apa aku? Suami macam apa aku ini?' rutuknya dalam isak tangisnya.


Riana terlihat sudah lebih tenang, suara tangisannya tidak terdengar sekeras tadi. Diko pun langsung mendekat.

__ADS_1


Dibawanya Riana ke pelukannya. Riana pun membenamkan kepalanya ke dada Diko yang bidang.


"Aku sayang kamu Ri, aku sayang sama kamu. Tolong jangan pikir yang aneh-aneh lagi, jangan bicara macam-macam lagi. Aku mohon maafkan segala kesalahanku" ucap Diko sambil mengelus punggung Riana.


"Kita mulai semua dari awal. Aku sudah kehilangan Papa, aku ga mau selanjutnya kehilangan kamu" lanjutnya.


Riana kembali terisak mendengar ucapan Diko. Tapi kali ini terisak karena ada rasa nyeri di dadanya oleh perasaan haru.


"Kamu mau Ri? Kamu mau maafin aku? Kamu mau kita mulai semuanya dari awal lagi? Kamu mau mulai percaya sama aku lagi?" tanya Diko lembut.


Ditariknya wajah Riana yang masih tenggelam di dadanya. Di tatapnya istrinya itu dengan begitu penuh harapan.


"Kamu mau?" tanyanya sekali lagi sambil satu tangannya mengelap air mata Riana yang masih saja menetes, satu tangannya lagi memperbaiki anak rambut Riana yang terlihat acak-acakan.


Riana mengangguk sambil menangis haru. Itu menyatakan bahwa ia mau untuk memulai semua dari awal lagi bersama Diko.

__ADS_1


Diko bahagia bukan kepalang. Dibawanya tubuh Riana ke pelukannya. Dipeluknya dengan erat seperti tak ingin lagi terlepas.


Suasana penuh tangis dan amarah beberapa saat lalu kini berubah menjadi lebih indah dan mengharukan.


__ADS_2