Tamu Hati Tak Diundang

Tamu Hati Tak Diundang
BAB 65


__ADS_3

Setelah itu, langsung ia bergegas kembali ke cafe dan memberikannya pada Riana.


"Ri, nih" ucapnya sambil mengetuk pintu toilet.


Kemudian Riana membuka pintu sedikit dan menyembulkan kepalanya. Ia langsung menadahkan tangan untuk menerima pembalut yang telah dibeli Diko untuknya.


"Makasih yaa Mas Diko" ucap Riana penuh penekanan sambil tersenyum begitu lebar.


"Hmmm" ucap Diko pura-pura kesal.


Setelah Riana menutup pintu toilet. Diko pun tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


Inilah sesungguhnya kehidupan suami istri. Sudah tak ada lagi malu dan gengsi sekalipun harus membeli pembalut wanita.


Sambil terus tersenyum mengingat betapa konyolnya kejadian barusan, Diko segera kembali menuju tempat pemesanan kopi.


Dari dalam toilet, Riana pun tersenyum membayangkan bagaimana Diko yang kebingungan tadi.


Tak lama kemudian, Riana pun keluar dari toilet dan segera mencari Diko.


Tiba-tiba Riana melihat Diko di dekat antrian pemesanan. Setelah ia mendekat, terlihat Diko yang ternyata sedang mengobrol dengan seorang wanita.


Diko yang menyadari kedatangan Riana langsung memperkenalkan dirinya dengan wanita tersebut.


"Han, kenalin ini istri ku, Riana" ucap Diko.


Riana langsung mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan.


"Hana" ucap wanita itu pada Riana yang juga menyebutkan namanya.


Riana cukup minder melihat penampilan dan fisik Hana yang aduhai. Fisik idaman wanita mana pun yang ada di dunia ini. Begitu terlihat proporsional.

__ADS_1


Di lihatnya belahan payudara Hana yang terlihat menyembul dari balik blouse yang dikenakannya. Kemudian ia melirik payudara miliknya dari luar pakaiannya.


'Sungguh beda jauh' gumamnya karena minder.


Memang ukuran payudaranya tidak begitu minimalis, masih berisi sedikit. Tapi juga tidak bulat padat serta menyembul seperti punya Hana.


Di tambah lagi rok ala knee length skirt berbahan stretch yang terlihat super ketat membalut tubuh Hana yang begitu proporsional, membuatnya semakin terlihat sempurna.


Riana diam-diam memperhatikan ekspresi Diko. Ia menganalisa Diko terkesan centil atau tidak ketika berhadapan dengan Hana.


"Kamu masih sering ke Vine?" tanya Hana yang menyebutkan nama sebuah club malam.


"Hmm, udah lama ga. Udah ga pernah kontak-kontakan juga sama temen-temen dulu yang sering ke sana" jawab Diko.


"Wah pantes aku ga pernah liat kamu lagi. Kalau mampir ke sana hubungin aku, ntar aku turun. Ada bonus deh buat pelanggan lama" ucap Hana sambil terbahak yang membuat Riana melirik karena ucapannya itu sama saja dengan mengundang suaminya untuk ke club malam.


Diko langsung salah tingkah karena ucapan Hana tersebut di depan Riana. Tapi Riana pura-pura tidak memperdulikan obrolan mereka. Ia menyibukkan diri dengan ponselnya.


Riana lagi-lagi melirik dan tak habis pikir. Bisa-bisanya wanita ini mengundang Diko ke club sedangkan di sampingnya ada istrinya.


"Duh maaf Han, aku emang udah lama banget ga ke club" tolak Diko dengan sopan.


"Yaah, ntar kan ada aku. Aku temenin deh biar ga canggung. Seru lho pastinya, di jamin ga nyesel" bujuk Hana lagi.


Riana sudah benar-benar tak habis pikir kali ini. Bisa-bisanya Hana membujuk Diko untuk datang ke club di depan dirinya. Bahkan menawarkan diri untuk menemani Diko selama di sana.


'Cari perkara nih perempuan' ucapnya dalam hati.


Diko yang tahu Riana pasti tidak senang langsung menolak kembali.


"Maaf Han, ga deh. Aku ada acara sama keluarga" tolak Diko seraya menarik tubuh Riana dan merangkulnya mesra.

__ADS_1


"Ya kan sayang??" tanya Diko penuh penekanan pada Riana.


Riana hanya tersenyum terpaksa karena hatinya yang panas.


Setelah pesanan mereka datang, keduanya langsung pamit pada Hana kemudian segera menuju mobil untuk melanjutkan perjalanan.


Di dalam mobil, Riana terlihat cemberut dan memandang ke arah jendela.


Diko mencoba meraih tangan Riana untuk membujuknya.


"Ga usah pegang-pegang!" ucap Riana sebal.


"Kan aku ga ngapa-ngapain Ri. Aku juga tolak ajakannya" jawab Diko lembut.


"Bodo amat" ujar Riana merajuk.


"Kamu cemburu yaa?" tanya Diko menggodanya.


"Ih siapa juga yang cemburu. Aku cuma ga suka aja liat dia ngotot ngajakin kamu. Udah tau di situ ada aku" jawab Riana yang masih kesal.


"Mungkin karena dia manager di club itu, makanya sekalian promosi biar rame yang dateng" ucap Diko.


"Iya tapi ga suami orang juga, pake bilang mau nemenin kamu lagi" jawab Riana.


Diko tersenyum simpul. Ia tahu Riana cemburu, tapi gengsi mengakuinya.


"Iyaaa, kan aku ga mau Ri. Udah aku tolak langsung juga kan tadi, kamu denger sendiri" jelas Diko agar Riana luluh.


"Udah ah, males. Bodo amat" rajuknya sambil kembali menepis tangan Diko yang terus mencoba meraih tangannya.


Dalam hati sebenarnya Diko senang. Ia senang karena Riana cemburu padanya. Menurut Diko cemburu itu tanda sayang.

__ADS_1


__ADS_2