Tamu Hati Tak Diundang

Tamu Hati Tak Diundang
BAB 118


__ADS_3

"Kamu mau bikin kue?" tanya Diko pada Riana saat akan makan malam.


Ia melirik meja dapur yang dipenuhi dengan bungkusan tepung, gula, coklat, dan lain-lain.


"Iya Mas, besok Mey ke sini. Katanya ada yang mau dia bicarakan. Jadi aku mau menjamu dia Mas. Yaaah bikin cemilan rencananya" ucap Riana.


"Rencananya aku besok mau buat pangsit rebus dan soft cookies" lanjutnya sambil mengabsen bahan-bahan yang sudah ia keluarkan.


"Wah enak banget sayang. Sisain buat aku ya" pinta Diko sambil menelan ludah membayangkan lezatnya pangsit rebus dan soft cookies buatan istrinya.


Kemudian Riana pun segera menuju meja makan dan menemani suaminya makan malam.


Setelah selesai makan malam, ia kembali berkutat dengan bahan-bahan yang ada di dapur. Dengan dibantu oleh Bi Yum, membuat pekerjaannya menjadi lebih cepat selesai.


Tak sabar ia rasanya ingin bertemu dengan Mey besok. Sudah lumayan lama ia tak bercengkrama seperti dulu dengan sahabatnya itu. Memang harus mempersiapkan amunisi yang cukup jika bertemu dengan Mey, karena tak lengkap rasanya jika bercerita ngalor ngidul tanpa mengunyah.

__ADS_1


Setelah semuanya selesai, Riana yang sudah merasa lelah kemudian masuk ke dalam kamar untuk bersih-bersih dan segera tidur.


Kemudian dilihatnya Diko sudah terlelap, dan tentu saja hanya dengan celana pendek tanpa mengenakan baju seperti biasanya.


Riana menyelimuti suaminya agar tak kedinginan walaupun biasanya dalam waktu sebentar saja selimutnya bisa terbuka kembali karena ditepis Diko saat tidur. Baru saja tangannya menutup tubuh suaminya dengan selimut tiba-tiba tangan Riana dipegang oleh Diko yang membuat Riana terperanjat kaget.


"Ya Tuhan" teriaknya terkejut.


Diko tertawa terpingkal-pingkal melihat ekspresi kaget istrinya. Dengan perasaan kesal Riana mengambil bantal guling dan memukulkannya pada Diko berulang-ulang.


"Jangan marah dong sayang. Kalau marah gitu nanti cepat tua lho" goda Diko.


Riana berusaha melepaskan diri namun gagal.


"Masih marah?" tanya Diko sambil menggelitik pinggang istrinya yang kegelian.

__ADS_1


Riana tertawa karena geli.


"Kalau udah ketawa berarti udah ga marah" ucap Diko yang langsung mencium bibir istrinya sebelum Riana menjawab.


'Yah, bakal begadang nih' bathin Riana yang bisa menebak apa yang selanjutnya akan dilakukan suaminya.


Keduanya sudah begitu paham alur penyatuan yang memang sudah sering mereka lakukan. Riana dan Diko bergantian memimpin permainan.


Tanpa menunggu waktu lama, baju dasternya sudah terbuka yang membuat Diko leluasa melakukan pekerjaan pada spot-spot favoritenya. Seperti tak ada puasnya ia menikmati inci demi inci tubuh istrinya yang hanya bisa pasrah dan menikmati sensasi nikmat yang menjalar di sekujur tubunya.


Ingin rasanya Riana menyuruh Diko untuk tak berhenti dan terus meng-eksplore apa yang dia mau dari tubuhnya. Ia menyukai sensasi yang bisa membuat tubuhnya terkadang mengejang, terkadang lemas bahkan terkadang harus menutup mulutnya agar tak bersuara keras.


Riana dan Diko memang sedang mengusahakan untuk segera mempunyai anak. Oleh karena itu Riana tak pernah menolak jika Diko menginginkannya, dan Riana pun tak segan memberi kode jika ia menginginkan suaminya.


Mungkin hampir tiap malam terdengar lenguhan-lenguhan kenikmatan dari kamar mereka. Tiap pagi pemandangan yang terlihat pun selalu pakaian yang berserakan di sembarang arah. Sprei yang lecek karena ulah permainan panas mereka pun sudah menjadi pekerjaan rutin Riana untuk membereskannya.

__ADS_1


Biasanya jika Diko belum merasa lelah dan lemas maka permainan akan terus berlanjut hingga keduanya benar-benar lelah.


__ADS_2