Tamu Hati Tak Diundang

Tamu Hati Tak Diundang
BAB 109


__ADS_3

Riana tak bisa berkata-kata. Air matanya sudah entah dari kapan meleleh dan tak bisa di cegahnya.


Ia tak tahu harus bagaimana. Ia pun tak mengerti perasaannya sendiri. Ada rasa kecewa yang sangat besar pada Diko, padahal ia sudah bersedia menerima segala masa lalu suaminya. Tetapi entah kenapa saat ini hatinya seperti mengingkari apa yang sudah ia sepakati dengan dirinya sendiri.


Mungkin karena dirinya adalah seorang wanita, hatinya sakit membayangkan betapa jahatnya Diko.


Di sisi lain Diko tak bersalah secara langsung padanya, tapi gara-gara kelakuan Diko di masa lalu ia harus menanggung semua ini Ia tak menyangka cobaan yang harus dihadapinya sampai sebesar ini.


"Sesakit hati apapun kamu denganku tapi tak sepantasnya kamu melakukan semua ini!" ucap Diko penuh amarah.


"Apa setelah kamu melakukan semua ini waktu bisa diputar kembali?? Tidak kan?" tanya Diko.


"Tapi setidaknya aku puas telah membalaskan sakit hatiku" jawab Devi sinis.


"Karena sikap gegabahmu itu, silahkan kamu nikmati dinginnya penjara, karirmu yang hancur dan kehancuran lainnya" ucap Diko tak kalah sinis.


"Sia*an kamu Diko!!" pekik Devi yang sangat marah.


"Kamu Riana, silahkan kamu menyesal telah memilih laki-laki ini sebagai suami. Tunggu saja saatnya kamu di campakkan olehnya" ucapnya.

__ADS_1


"Itu bukan urusanmu. Urusan rumah tanggaku bukanlah urusanmu. Sekarang tak ada sedikitpun rasa hormatku untuk kamu. Yang ada hanya rasa jijik dan muak" ucap Riana menahan emosi.


Devi tertawa bagai orang gila.


"Riana, riana. Kamu memang sangat polos ya. Sangat bodoh, pantas saja bisa termakan rayuan laki-laki brengsek ini" ucap Devi.


Amarah Diko sudah sampai ke ubun-ubun. Ingin rasanya ia menyumpal mulut Devi yang sungguh kejam itu.


Kini gantian Riana yang tertawa sinis.


"Iya, aku memang bodoh termakan rayuan Mas Diko yang brengsek ini. Tapi setidaknya aku tak sebodoh dirimu, memberikan kehormatan dengan begitu mudahnya. Setidaknya diriku yang bodoh ini menikah dulu baru kemudian memberikan kehormatanku hanya untuk suamiku" jawab Riana yang di sambut tatapan tajam Devi.


"Dan untuk lelaki yang datang malam itu?" tanya Devi dengan senyum sinisnya.


"Kamu menikmatinya bukan?" ucapnya sambil tertawa.


Riana langsung menutup telinganya tak ingin lagi mendengar apapun dari mulut Devi yang hanya akan menyakitkan hatinya.


Diko sontak berdiri kemudian menampar Devi hingga tersungkur ke lantai. Emosi yang sedari tadi berusaha ia redam kini tak dapat ia kendalikan.

__ADS_1


Devi berteriak kesakitan. Satu orang polisi yang berada di sana membantunya kembali duduk, dan yang satu lagi menenangkan Diko yang hampir saja kembali menampar Devi untuk kedua kalinya.


"Bapak dan Ibu sebaiknya keluar, tenangkan diri. Tidak dibenarkan melakukan kekerasan fisik" ucap polisi tersebut sambil menjauhkan Diko dari Devi yang terlihat shock karena tamparan Diko yang cukup keras dan suksrs membuat ujung bibirnya berdarah.


Diko merangkul istrinya kemudian membawanya keluar ruangan tersebut. Riana terlihat masih cemas dan gelisah setelah kejadian tadi.


Mereka langsung keluar dan menuju parkiran. Begitu ingin membantu Riana untuk masuk ke dalam mobil, Riana langsung melepaskan rangkulan Diko dan menepis tangannya yang hendak membukakan pintu mobil.


Diko sedikit terkejut. Kemudian kembali dirangkulnya pundak Riana. Tapi lagi-lagi Riana menepisnya dan mengangkat satu tangannya mengisyaratkan tidak memerlukan bantuan, kemudian ia langsung masuk ke dalam mobil.


Diko menarik nafas berat, inilah yang ia takutkan. Ia takut Riana berubah padanya setelah kejadian ini.


Ia langsung masuk ke dalam mobil.


"Sayang," panggilnya sambil menatap Riana penuh harapan agar ketakutannya tidak jadi kenyataan.


Tanpa menjawab, Riana hanya menggeleng mengisyaratkan untuk jangan dulu berbicara apapun padanya.


"Sayang, please jangan seperti ini" ucap Diko memohon.

__ADS_1


"Kita pulang" jawab Riana singkat.


Diko pasrah kemudian mengemudikan mobilnya ke arah pulang ke rumah.


__ADS_2