
Setelah Diko berangkat, Riana segera masuk ke dalam kamar untuk bersiap-siap. Begitu masuk ke dalam kamar, ia baru teringat sesuatu.
Di tariknya selimut yang menutupi sebagian tempat tidur mereka. Terlihat bercak berwarna merah akibat perbuatan mereka tadi malam.
Walaupun itu darah buatan yang memang ditaruh di selaput dara buatan hasil operasi hymenoplasty yang telah dijalaninya beberapa bulan lalu, tetap saja ia merasa senang. Memang benar ternyata operasi tersebut membuatnya kembali percaya diri di hadapan suaminya setelah kejadian itu.
Ditariknya sprei tersebut kemudian dibawanya ke ruang cuci. Di bersihkannya noda merah yang begitu mencolok itu dengan air mengalir. Kemudian berusaha dikuceknya agar segera hilang.
Tiba-tiba Bi Yum yang baru saja selesai menjemur pakaian masuk.
"Mbak Riana lagi ngapain?" tanyanya heran.
"Hmm, ini Bi, lagi nyuci sprei yang kotor" ucapnya sambil terus mengucek.
"Eh sini biar Bi Yum aja Mbak, nanti baju Mbak Riana basah" ucapnya sambil berusaha mengambil sprei yang sedang dikucek Riana tersebut.
__ADS_1
"Jangan Bi, jangan. Biar saya aja" tolak Riana.
"Beneran Bi, biar saya aja. Ga apa-apa" lanjutnya karena melihat Bi Yum yang masih berusaha membantunya.
"Bi Yum beresin piring sarapan tadi aja ya, terus Bi Yum sarapan, abis itu baru kita berangkat" ujar Riana sambil memberi isyarat agar Bi Yum keluar dari ruang cuci.
"Beneran Mbak ga perlu di bantu?" tanya Bi Yum yang masih belum yakin.
"Beneran Bi, ini dikit lagi selesai kok" jawab Riana.
Setelah Bi Yum pergi, barulah Riana bernafas lega. Ia segera kembali mengucek noda darah yang masih terlihat samar sampai benar-benar bersih kemudian segera menjemurnya.
Sudah lama Riana tidak berbelanja seperti ini. Kalau di rumah mertuanya, lebih sering Bu Hesti yang berbelanja memenuhi kebutuhan di rumah.
Ia merasa senang, dan keluar walaupun sekedar ke supermarket rasanya benar-benar seperti refreshing baginya.
__ADS_1
Sesampainya di sana, mereka mulai menelusuri rak demi rak untuk membeli kebutuhan. Mulai dari bahan makanan hingga deterjen dan sabun tak luput dari sambarannya.
Saat Riana celingak-celinguk di dekat rak pendingin yang berisi kotak-kotak yoghurt dan susu karena bingung mencari susu yang biasa dibelinya, tiba-tiba seorang pramuniaga laki-laki mendekatinya menawarkan bantuan karena melihat Riana yang sedang kebingungan.
"Cari apa Bu? Ada yang bisa saya bantu?" tanya pramuniaga itu.
Bukannya menjelaskan apa yang sedang di carinya. Riana tiba-tiba menjerit sekeras-kerasnya. Ia berlindung di balik Bi Yum dan berusaha menepis laki-laki tersebut.
Bi Yum dan Pramuniaga tersebut terlihat keheranan melihat Riana yang seperti orang ketakutan. Ia kini terduduk di dekat sebuat rak, sambil menutup wajahnya dengan tubuh bergetar hebat.
Bi Yum panik bukan kepalang. Ia tak tahu harus berbuat apa.
"Mbak, Mbak Riana kenapa? Mbak Riana takut apa?" tanyanya kebingungan.
Bukannya menjawab, Riana kini malah menangis.
__ADS_1
Bi Yum semakin panik melihat Riana yang makin ketakutan. Ia berinisiatif menelepon Diko agar segera datang. Karena ia tak tahu harus berbuat apa.
Beruntungnya karena masih pagi, pengunjung belum begitu ramai sehingga tak terlalu memancing perhatian orang lain.