Tamu Hati Tak Diundang

Tamu Hati Tak Diundang
BAB 90


__ADS_3

"Diko.." panggil Bu Hesti sambil mengetuk pintu kamar anaknya.


Setelah beberapa saat kemudian Diko keluar dan menemui ibunya.


"Kenapa Ma?" tanyanya penasaran.


"Ini handphone kamu bunyi dari tadi" ucap Bu Hesti sambil menyerahkan ponsel milik Diko.


Diko yang menyadari bahwa ponselnya tadi tertinggal di meja makan langsung melihat ada 4 panggilan tak terjawab dari nomor tak dikenalnya.


Diko menelepon balik nomor tersebut sambil menutup pintu perlahan. Ia takut Riana terbangun sebab ia sedang tidur siang.


"Halo, dengan bapak Diko?" jawab orang di seberang telepon.

__ADS_1


"Iya benar, saya sendiri. Ini siapa?" tanya Diko penasaran.


"Kami dari kepolisian, apa bapak bisa datang ke kantor sekarang?" tanya orang diseberang telepon yang ternyata polisi.


"Oh iya, bisa pak bisa. Tapi kalau boleh tahu, ada apa ya ?" tanya Diko.


"Kami sudah berhasil menangkap pelaku pemerkosaan terhadap ibu Riana" jawab polisi tersebut.


"Oh oke baik, saya akan segera kesana" jawab Diko dengan cepat.


"Ma, pelakunya tertangkap. Aku ke kantor polisi sekarang ya. Nanti kalau Riana bangun, bilang saja aku pulang ke rumah sebentar" ucap Diko buru-buru.


"Ya Allah, iya sayang, iya kamu cepat ke sana ya. Nanti Mama sampaikan sama Riana. Kamu hati-hati ya nak" ucap Bu Hesti sambil seraya berdoa agar kasus ini bisa menemui titik terangnya.

__ADS_1


Diko langsung bergegas pergi dan berharap bisa segera mengetahui pelaku di balik semua ini.


Setelah kepergian Diko, Bu Hesti membuka pintu kamar Riana sedikit. Dilihatnya Riana tertidur sangat pulas. Tak terasa air matanya menetes membayangkan apa yang telah di alami oleh menantunya itu.


'Kasihan kamu nak,' bathinnya.


Ya, sudah satu bulan Riana dan Diko kembali tinggal dirumah ini. Diko tak ingin pulang ke rumah mereka akan menjadi trauma Riana semakin berat.


Bu Hesti merawat Riana dengan penuh kasih sayang. Ia juga yang rutin mengantarkan Riana untuk kontrol ke psikiater serta terapi ke psikolog hypnotherapy. Segala upaya mereka lakukan untuk Riana, dan tujuannya hanya satu yaitu Riana bisa menjalani hidupnya seperti semula tanpa ada lagi bayang-bayang rasa takut dan paranoid yang sering datang padanya.


Riana pun sudah mengajukan surat resign ke kantornya beberapa hari sejak kejadian tersebut. Kini ia benar-benar fokus pemulihan kondisi mental dan psikologisnya.


Hampir setiap hari ibu mertuanya mengajak Riana untuk keluar rumah. Walaupun hanya sekedar berjalan-jalan di pusat perbelanjaan, ngopi di cafe ataupun sekedar berjalan-jalan keliling komplek. Karena setelah kejadian tersebut, Riana di rawat beberapa hari di rumah sakit dan saat keluar dari rumah sakit ia mengalami serangan paranoid yang lumayan parah.

__ADS_1


Riana takut setiap melihat laki-laki yang memakai baju dan celana hitam. Bayangan kejadian tersebut langsung muncul menyerangnya setiap ia melihat laki-laki berpakaian hitam. Oleh sebab itu psikiater dan psikolognya menyarankan untuk pelan-pelan pergi ke tempat umum untuk membuatnya semakin terbiasa bertemu orang dan berharap trauma yang dialami Riana perlahan bisa hilang.


Dengan telaten Bu Hesti dan Diko mengajarkan Riana untuk bertemu dengan orang banyak. Hypnotherapy yang dijalaninya pun membuahkan hasil yang bagus. Sugesti positif yang terus ditanamkan di alam bawah sadarnya masih bisa Riana respon dan sedikit demi sedikit mengikis segala permasalahan psikologis yang sedang dialaminya.


__ADS_2