
Riana bangkit dan berniat untuk mandi membersihkan diri setelah adegan panasnya dengan Diko.
Dipungutnya satu persatu pakaian yang berserakan di ruang tamu sampai tak tersisa. Kemudian ia menyambar handuknya yang tergantung di kamar dan memakainya.
Riana lanjut memungut pakaian yang juga berserakan di kamar. Kemudian mengambil bantal yang tergeletak di berbagai tempat. Serta merapikan sprai dan selimut yang sudah seperti gado-gado saking berantakannya.
'Baru sehari sejak malam pertama aja udah begini berantakannya, bagaimanakah kondisi rumah ini seminggu lagi? Bisa-bisa penggorengan pun mungkin bisa pindah ke atas kasur' bathinnya dalam hati sambil membereskan tempat tidurnya.
Selepas mandi, Riana mulai beraksi di dapur untuk menyediakan makan malam untuk suaminya yang baru saja terlihat tertatih-tatih masuk ke dalam kamar mandi.
'Siapa suruh pulang kerja langsung gituan ga pake istirahat dulu, lemes deh tu kaki' bathin Riana sambil terkekeh.
Karena sudah waktunya makan malam, ia harus buru-buru memasak untuk Diko. Ia memasak makanan simple agar cepat selesai.
Digorengnya udang yang terlebih dahulu dilumurinya dengan telur dan tepung panir, kemudian disiramnya dengan saus lada hitam instant yang sudah ia tumis dengan bawang bombay. Sebagai pelengkap, ditaruhnya beberapa brokoli dan wortel rebus di atas piring, kemudian dicampurnya dengan saus salad yang selalu distoknya di kulkas. Disajikan dengan sepiring nasi hangat, sudah cukup membuat siapapun yang melihatnya menelan ludah karena ingin mencicipi.
Sambil menunggu Diko selesai mandi, Riana lanjut mencuci piring. Namun tiba-tiba ia dikagetkan dengan kedatangan Diko yang tiba-tiba sudah memeluknya dari belakang.
__ADS_1
"Masak apa sayangku? Wangi banget" ucapnya sambil meletakkan dagunya di pundak Riana.
"Aku masak yang simpel aja Mas, abisnya takut kamu udah laper" jawab Riana sambil terus melanjutkan mencuci piringnya yang hampir selesai.
"Apapun itu, aku pasti suka. Masakan istriku ini emang best" ucap Diko gombal.
"Ah kamu emang paling bisa kalau ngerayu" jawab Riana sambil berbalik dan mendorong Diko mendekat ke meja makan.
Selang 20 menit kemudian, keduanya telah menyelesaikan makan malam. Riana mulai membereskan piring kotor yang ada di atas meja. Tiba-tiba ponselnya yang terletak di atas meja makan berdering.
Diko langsung melirik ke arah ponsel Riana dan melihat bahwa sedang ada panggilan masuk atas nama Geo. Riana buru-buru melihat kemudian menjawab panggilan tersebut.
Samar-samar Diko mendengar suara lelaki yang sedang berbicara di seberang telepon. Kupingnya makin ia tajamkan karena penasaran Riana sedang menerima telepon dari siapa.
"Oh jadi besok malam?" tanya Riana di telepon.
Diko makin mengencangkan pendengarannya setelah mendengar Riana seolah janjian dengan seseorang.
__ADS_1
"Iya, pasti seru banget. Kangen deh gue" ucap Riana kemudian.
Diko yang cukup terkejut dengan kata kangen yang diucapkan istrinya langsung berdiri dan masuk ke ruang kerjanya. Hatinya sedikit memanas, siapakah lelaki yang sedang menelepon Riana itu sampai-sampai istrinya mengungkapkan kangen.
Sekitar 10 menit berbincang, Riana pun memutuskan sambungan telepon. Kemudian ia melihat ke sekitar mencari keberadaan Diko. Namun tak ia temukan.
'Perasaan tadi masih duduk di sini' gumamnya dalam hati.
Riana melihat ke kamar, tapi tak juga ia temukan Diko di sana. Ia langsung beranjak menuju ruang kerja suaminya barangkali Diko sedang bekerja.
Ternyata benar, Diko sedang fokus menatap layar laptopnya. Dengan melongokkan kepalanya di pintu Riana menawarkan secangkir kopi untuk suaminya itu.
"Mas, aku bikinin kopi ya" ucap Riana.
Namun Diko tetap fokus dan tak bergeming.
Riana merasa ada yang aneh langsung mendekat dan mengelus pundak Diko. Namun Diko tetap seolah tak melihat keberadaan Riana.
__ADS_1
"Maas, kenapa sih? Aku ada salah? Kamu marah sama aku?" tanyanya penasaran sambil memeluk leher suaminya itu.
Diko masih betah untuk diam. Riana pun mengingat-ingat kesalahan apa yang telah ia perbuat sehingga Diko marah padanya.