Tamu Hati Tak Diundang

Tamu Hati Tak Diundang
BAB 91


__ADS_3

"Diko kenapa ga bangunin aku ya Ma pas mau pergi?" tanya Riana sambil duduk di sebelah ibu mertuanya yang sedang menonton tv.


"Iya, tadi katanya kamu tidurnya nyenyak banget. Mungkin ada hal yang berkaitan dengan kerjaan yang harus diambil di rumah" jawab Bu Hesti berbohong.


"Mana aku telepon juga ga di angkat Ma" ucap Riana.


"Mungkin lagi di jalan, paling sebentar lagi juga sampai rumah. Kita tunggu aja yaa Ri" ucap Bu Hesti berusaha menenangkan Riana.


Riana mengangguk kemudian berdiri.


"Yaudah aku mandi dulu ya Ma kalau gitu" ucap Riana seraya berdiri dan menunu kamarnya.


Sejak saat itu Riana memang sering merasa tak nyaman bila Diko terlalu lama pergi. Ia masih ada perasaan takut saat Diko pergi, namun beruntungnya ibu mertuanya selalu ada untuk Riana.


Oleh karena itu, Diko sering membawa pekerjaannya pulang ke rumah dan bekerja dari rumah. Dengan ikhlas Joe menghandle segala pekerjaan yang tidak bisa di tangani Diko. Joe mengerti saat ini Diko perlu waktu yang lebih banyak guna mensupport istrinya.


Tiba-tiba terdengar suara pintu yang terbuka. Ternyata Diko sudah pulang dari kantor polisi.


"Gimana nak?" tanya Bu Hesti dengan cepat.

__ADS_1


Diko duduk di samping ibunya sambil menghela nafas berat.


"Riana mana Ma?" bisiknya memastikan bahwa situasi aman.


"Lagi mandi di kamar" jawab Bu Hesti.


Kemudian Bu Hesti terlihat mengeryitkan dahi menunggu penjelasan Diko.


"Aku sudah jumpa dengan pelakunya Ma" ucapnya memulai penjelasan.


"Tapi aku ga kenal dengan laki-laki itu. Polisi ngasih aku foto pelaku itu untuk ditunjukkan pada Riana, mana tahu Riana kenal dengan orang itu" lanjutnya.


"Tapi polisi dan aku yakin sekali bahwa dia bohong Ma. Pasti ada seseorang di balik semua ini. Pasti ada yang menyuruhnya untuk melakukan itu Ma" ucap Diko.


Bu Hesti mengelus pundak anak lelakinya itu dengan lembut. Ia mengerti benar dengan apa yang dirasakan anaknya itu.


"Mama yakin pasti akan ada jawaban atas semua ini" ujarnya sambil menatap anaknya yang sedang memikul beban yang begitu berat itu.


...***...

__ADS_1


Riana terlihat baru saja menaiki tempat tidur. Diko yang sedari tadi mencari cara kemudian berbaring di sebelahnya.


"Sayang, tadi aku ketemu teman lamaku. Katanya dia kenal sama kamu" ucapnya memulai.


"Hah?! Siapa Mas?" tanya Riana penasaran sambil beringsut ke lengan Diko dan memeluk pinggang suaminya.


"Duh aku lupa lagi siapa ya namanya. Soalnya teman lama banget, yaa ga begitu deket lah. Cuma kenal aja, pernah kenal di mana gitu. Aku juga lupa" jawabnya mencari alasan.


"Oh iya aku ada fotonya, tadi sempat aku foto buat tanya ke kamu" ucap Diko sambil mengutak atik ponselnya kemudian menyerahkan pada Riana.


Riana mengambil ponsel tersebut kemudian melihat foto seorang lelaki yang terpampang di sana. Riana berpikir sejenak mencoba mengingat-ingat siapakah lelaki yang ada di foto tersebut.


Di pandanginya dengan seksama, di cobanya memutar memorinya barangkali bisa ingat.


"Masa sih Mas katanya dia kenal aku?" tanya Riana.


"Emangnya kenapa? Kamu ga kenal?" tanya Diko penasaran.


Riana menggeleng dengan mantap.

__ADS_1


Diko semakin yakin bahwa pelaku ini adalah orang suruhan. Pasti ada dalang di balik semua ini.


__ADS_2