Tamu Hati Tak Diundang

Tamu Hati Tak Diundang
BAB 22


__ADS_3

Diko sudah siap dengan kemeja biru laut berlengan panjang serta celana jeans berwarna navy yang membuat tampilannya kian terlihat macho dan tampan.


Sebelum ia turun ke bawah, tak lupa ia ke kamar Tia terlebih dahulu.


"Eh, Mas pergi dulu ya.. Doain" ucapnya setelah membuka pintu kamar adiknya itu dan melihat Tia tengah santai sambil membolak-balikkan majalah.


Tia langsung turun dari tempat tidurnya kemudian mendekat ke arah pintu.


"Iya Mas, aku pasti doain. Kamu juga berdoa semoga Tuhan membukakan dan memudahkan jalanNya. Good luck ya Mas" ucapnya sambil menepuk pundak kakak sematawayangnya itu.


Setelah itu Diko pun bergegas turun ke bawah.


Tampak Pak Ridwan dan Bu Hesti sedang menonton televisi.


"Ma, Pa, aku jalan dulu ya, ada urusan sebentar" ucapnya sambil menyalami kedua orang tuanya itu.


Kemudian setelah berpamitan dengan kedua orang tuanya, Diko segera masuk ke dalam mobilnya dan mengemudi menuju ke tempat Riana.


Hatinya benar-benar deg-degan. Ia takut kalau Riana menolaknya. Tapi Diko berusaha tetap positive thinking agar bisa tetap fokus menyetir.


15 menit kemudian, ia sampai di parkiran kos Riana.


Dilihatnya jam di ponselnya yang menunjukkan pukul 19.56 WIB.

__ADS_1


Diko langsung mencari kontak Riana kemudian melakukan panggilan. Tak lama terdengar suara menyambung.


"Halo" ucap suara di seberang.


"Ri, aku udah di parkiran kosan kamu" ucap Diko lembut.


"Kita ngobrolnya dimana?" tanya Diko.


"Di kamar aku aja Mas, kalau di luar takutnya ga enak kalau di dengar orang lain" jawab Riana.


"Yaudah aku ke sana sekarang ya" ucap Diko kemudian mematikan sambungan teleponnya.


Ia pun turun dari mobilnya dan bergegas menuju kamar Riana.


"Heh Bro, mau ke mana lu?" tanya Rio yang kaget melihat keberadaan Diko di sana.


"Hmmm, guee.." jawabnya gugup.


"Guee.. Gue ya mau ketemu lu lah, siapa lagi coba.. Tapi keliatannya lu mau pergi ya? Yaudah deh kapan-kapan aja gue main ke kamar lu ya" jawabnya berbohong.


"Hmm.. Ga.. ga.. Kalau ke kamar gue lu ga pernah rapi wangi begini. Paling juga baju kusut muka kusut abis pulang kerja. Ga percaya gue" ucap Rio curiga.


"Hmmm, tau gue.. Lu mau jemput Riana yaa? Lu ngegebet Riana Bro? Lu naksir dia?" tanya Rio bertubi-tubi.

__ADS_1


Diko bingung mau menjawab apa.


"Heh, lu kan katanya mau pergi. Udah pergi dulu sana, cepetan" ucap Diko sambil mendorong tubuh Rio intuk segera masuk ke dalam mobil dan berhenti menanyainya.


"Lu hutang cerita ya sama gue, awas lu kalau ga cerita" jawab Rio sambil masuk ke dalam mobilnya.


"Iya, gue janji cerita" ucap Diko sambil mengacungkan jempolnya.


Kemudian Diko segera bergegas menuju kamar Riana.


Ia mengetuk nya 3 sampai 4 kali. Tak kama terdengar suara Riana menyahut dari dalam.


Riana pun membukakan pintu kamarnya untuk menemui Diko.


"Silahkan Mas," ucap Riana mempersilahkan Diko masuk dan duduk di sofa berukuran panjang 1 meter yang tertelak di sudut kamarnya.


Kemudian Riana mengambilkan segelas air putih dan sepiring brownis potong yang tadi sore dibelinya.


"Ga usah repot-repot Ri" ucap Diko basa -basi.


"Ga apa-apa Mas" jawab Riana.


Setelah meletakkan minum dan brownis di atas meja, Riana pun duduk bersebelahan dengan Diko di karenakan sofa yang ada di yang hanya satu.

__ADS_1


"Ri.." ucap Diko memulai obrolan.


__ADS_2