Tamu Hati Tak Diundang

Tamu Hati Tak Diundang
BAB 136


__ADS_3

Melihat keduanya yang saling berpelukan, semua keluarga saling berpandangan. Karena semua sudah tahu bahwa Dira dan Riana sudah lama tidak begitu akur, selalu ada saja perselisihan di antara mereka. Pastinya Diralah yang lebih sering menyulut perselisihan itu.


Malam itu Dira terlihat lebih pendiam. Tidak banyak bicara seperti biasanya. Senyum pun hampir tak terlihat di bibirnya. Riana sudah bisa menebak apa yang terjadi. Karena beberapa waktu yang lalu Dira pernah meneleponnya terkait masalah yang sedang di alaminya dengan Reyhan.


Setelah selesai makan malam, Diko dan para lelaki berkumpul di halaman belakang rumah Budhe Retno. Tentunya sedang asyik bermain bilyard. Sedangkan Para wanita sedang asyik mengobrol di ruang tamu.


"Ri, ikut Budhe sek ndhuk" ucap Budhe Retno sambil mengajak Riana ke kamarnya.


Budhe Retno terlihat mengeluarkan sesuatu berbentuk kotak persegi berwarna coklat tua dari lemari pakaian.


"Ini, Budhe rasa lebih baik kamu yang pegang ini" ucap Budhe Retno sambil menyerahkan kotak tersebut.


Riana yang keheranan namun enggan bertanya. Ia langsung mengambil kotak tersebut dan membukanya.

__ADS_1


Terlihat sebuah gelang emas kecil dan mungil sekali. Riana mengeryitkan dahi sambil mengangkat kepala memandang Budhenya itu.


"Dulu, mama kamu menitipkan ini ke Budhe. Beliau minta untuk diberikan ke kamu saat kamu hamil, supaya nanti ketika anak kamu lahir bisa dipakaikan gelang ini. Ini dulu gelang kamu Ri pas masih bayi" jelas Budhe Retno.


"Budhe berikan sekarang saja, karena Budhe rasa ini sudah waktunya. Budhe berdoa supaya kamu dan Diko cepat diberikan momongan. Anggap saja gelang ini sebagai doa supaya harapan kita semua jadi kenyataan, terlebih harapan mama kamu. Beliau simpan ini dan menitipkan ke Budhe untuk cucunya dari kamu kelak, sebegitu sayangnya beliau sama cucunya" jelas Budhe Retno lagi.


Tanpa berkomentar apapun, Riana langsung memeluk Budhenya itu. Air matanya jatuh, perasaannya campur aduk. Bahagia dan juga sedih.


Ia bahagia karena masih memiliki Budhe Retno yang begitu sayang padanya dan juga sangat amanah tentang apapun yang pernah di titipkan orang tuanya. Namun ada perasaan sedih yang terselip di sela rasa bahagianya, yaitu sedih karena mamanya tidak bisa memberikan gelang itu secara langsung pada cucunya, dan juga saat ini Riana belum juga hamil. Yaa walaupun mungkin terlalu dini untuk bersedih karena pernikahan mereka terbilang masih baru dan belum menyentuh angka satu tahun.


"Ri, aku mau ngomong sebentar bisa?" tanyanya.


Riana sedikit heran karena biasanya Dira selalu ceplas ceplos, kalau mau bicara ya tinggal bicara aja tanpa harus bertanya.

__ADS_1


"Hmm, iya bisa Dir. Ada apa?" tanya Riana to the point.


Budhe Retno yang melihat ada sesuatu yang serius di antara kedua keponakannya itu langsung pamit meninggalkan Riana dan Dira.


"Budhe ke sana dulu ya, kalian lanjut saja di situ kalau mau ngobrol berdua" ucap Budhe Retno sambil menunjuk sofa ruang tengah, kemudian pergi kembali ke ruang tamu untuk melanjutkan obrolannya.


Riana dan Dira beranjak ke ruang tengah. Dira sengaja mengambil posisi duduk di sebelah Riana.


"Ada apa Dir? Kalau kamu mau tanya tentang Reyhan, aku ga tahu apa-apa. Kami tidak pernah bertemu dan tidak pernah komunikasi" ucap Riana cepat.


Dira menyunggingkan senyum sedikit di sudut bibirnya.


"Bukan Ri, kalau soal itu aku sudah tidak bertanya-tanya lagi. Aku dan Reyhan sudah berakhir" ucapnya.

__ADS_1


"Aku mau minta maaf Ri, mungkin terlambat, tapi setidaknya aku mau kamu tahu kalau aku menyadari kesalahanku. Seharusnya dari awal aku mendengarkan kamu untuk tidak berhubungan dengan Reyhan" ucapnya sambil terlihat menerawang.


__ADS_2