
Riana menggeleng sambil menangis sesenggukan. Ia tak menyangka Pramudya mengetahui kehidupannya selama ini.
"Aku tidak pergi Ri, sampai kamu menikah aku selalu di dekat kamu. Walaupun aku tidak bisa bersama dengan kamu, dengan selalu memastikan kamu dalam keadaan baik-baik saja sudah membuat aku tenang" ucap Pramudya.
Riana tak bisa berucap sepatah kata pun. Ia benar-benar speechless.
"Maaf aku dulu tak sempat minta maaf Ri. Walau aku tahu sebanyak apapun kata maaf dariku tidak akan bisa membuat kamu memaafkan aku. Aku akan dengan besar hati menerimanya, karena aku tahu semua ini memang salahku" lanjutnya.
"Butuh waktu 4 tahun bagiku untuk siap dan bisa menceritakan semua ini. Saat itu kondisiku sedang sulit. Tiba-tiba orang tuaku membatalkan untuk berangkat ke Surabaya. Aku diminta untuk menikah anak dari teman Papa secepatnya. Kondisi perusahaan saat itu sudah hampir collaps, keuangan perusahaan sangat morat marit, hutang milyaran di beberapa bank yang membuat Papa terpaksa menyetujui perjodohanku dengan anak temannya yang akan membantu melunasi hutang perusahaan. Aku tidak punya pilihan Ri, posisiku sangat sulit" jelas Pramudya.
Riana tersenyum sinis.
"Ya, perusahaan ini memang jauh lebih berharga dibandingkan aku. Kamu memilih jalan yang tepat" ucap Riana.
"Maaf Ri, sekali lagi aku benar-benar minta maaf. Hanya kata maaf yang bisa aku ucapkan walaupun aku tahu itu tak akan merubah pandanganmu terhadapku" ucap Pramudya.
Tanpa menjawab sepatah kata pun, Riana bangkit dan berdiri. Ia melangkah pergi.
"Ri" panggil Pramudya.
__ADS_1
Riana menghentikan langkahnya tanpa berpaling.
"Aku lega telah menceritakan semuanya. Aku tak akan memaksamu untuk memaafkan aku, karena kalau aku di posisimu pun mungkin akan melakukan hal yang sama untuk sesorang seperti diriku. Tapi, rasa ini masih ada di sini Ri. Masih ada sampai saat ini. Bukannya aku sengaja, memang dia belum mau pergi. Tapi biarlah aku yang rasa, mungkin ini hukuman bagi ku. Aku berharap kamu selalu bahagia" ucap Pramudya lagi.
Air mata Riana lolos kembali menetes tanpa bisa di bendung. Ia memejamkan mata dan menarik napas untuk berusaha menetralkan perasaan marah dan kecewanya yang kembali hadir.
Riana melangkahkan kakinya kembali menuju pintu. Namun tiba-tiba kepalanya pusing, pandangannya buram, kemudian gelap.
Pramudya seketika panik melihat Riana yang menangis sambil sempoyongan, dan ia menangkap tubuh Riana yang terjatuh pingsan.
"Ri, Riana" ucapnya sambil menepuk pipi Riana pelan.
Pramudya segera bangkit dan membopong tubuh Riana ke atas sofa. Ia bergegas memanggil sekretarisnya untuk memberitahu Diko yang sedang ada di lobby.
Sambil menunggu Diko datang, dipandangnya wajah Riana yang kini telah menjadi milik orang lain. Wajah yang selalu membuat hatinya sejuk, wajah yang cantiknya tak berubah sejak saat ia mengenalnya, wajah yang seharusnya ia lihat setiap hari menemani hidupnya. Namun kini semua tinggal kenangan, yang harus ia hapuskan dan mulai ia lupakan.
Tiba-tiba Pramudya tersentak dan menjauh saat ada suara langkah kaki mendekat.
Diko datang dengan panik dan langsung mendekat pada Riana.
__ADS_1
"Sayang, bangun, Sayang" panggil Diko sambil membelai mesra rambut Riana.
Pramudya mencoba berpaling dan tak melihat adegan itu. Jujur ada perasaan perih yang teramat sangat di dadanya.
"Sebenarnya ada apa ini?" tanya Diko.
"Maaf Pak, Bu Riana pingsan saat mau keluar ruangan" jawab Pramudya dengan tenang.
"Kami sudah memanggil dokter, dan dokter akan segera datang" lanjutnya.
"Saya akan langsung bawa istri saya ke rumah sakit saja" ucap Diko sambil mengangkat tubuh Riana dari sofa.
"Baik Pak, sekretaris saya akan ikut serta dan akan mengurus segala administrasinya" ucap Pramudya lagi
"Maaf, Tidak perlu, terima kasih" ucap Diko menolak dengan sopan.
"Baik Pak, saya mohon maaf atas ketidaknyamanannya" ucapnya lagi.
Pramudya langsung menginstruksikan sekretarisnya dan beberapa karyawan lain untuk membantu Diko membawa Riana sampai ke mobil.
__ADS_1
Dilihatnya dari kejauhan punggung Diko yang mengangkat Riana dan sedang berjalan masuk ke dalam lift. Ia menarik napas panjang, hatinya benar-benar sedih. Gara-gara dirinya, Riana shock hingga pingsan. Dalam hati ia berdoa semoga Riana baik-baik saja.