Tamu Hati Tak Diundang

Tamu Hati Tak Diundang
BAB 21


__ADS_3

Pagi itu terdengar suar ketukan pintu di kamar Diko.


"Mas.."


"Mas Dikoo"


"Udah bangun belum?"


Ternyata Tia yang memanggilnya dari balik pintu kamar.


"Ada apa?" tanya Diko sambil membukakan pintu kamarnya dengan masih hanya menggunakan celana pendek tanpa memakai baju. Begitulah kebiasaannya kalau tidur.


"Hehehe.. hmmm" jawab Tia kebingungan.


"Ini Mas, aku mau tanya.. Kamu gimana sama Mbak Riana? Udah ada obrolan lebih lanjut?" tanya Tia penasaran.


"Mas udah ngelamar, Mas ajak nikah" jawab Diko sambil memakai baju kaos miliknya.


"Hah?? Serius Mas?" tanya Tia antusias.


"Nanti malam dia bakal kasih jawaban, kamu doain ya" jawab Diko sambil duduk di pinggir tempat tidurnya.


"Pasti Mas, pasti aku doain" ucap Tia dengan wajah berbinar-binar.

__ADS_1


"Tapi Mas, kamu udah ada perasaan?" tanya Tia menanti kejujuran kakaknya.


"Hmmm, ya belom.. Secepat ini soalnya" jawab Diko jujur.


"Kalau kagum udah, dia cantik, pintar, ramah juga. Tapi kalau untuk sayang, Mas rasa perlu waktu. Tapi Mas pasti berusaha" lanjutnya.


Tia meraih tangan Diko.


"Mas, kamu janji ya Mas untuk berusaha sayang dan cinta sama Mbak Riana. Aku ga mau kamu jadikan dia alat untuk memuluskan pernikahanku aja" ucap Tia dengan mata berkaca-kaca.


"Dia juga wanita Mas, sama sepertiku. Hatiku sakit jika ada laki-laki yang hanya pura-pura cinta sama aku" lanjutnya.


"Iya kamu tenang aja, Mas yakin Riana orang baik. Mas pasti bisa dengan mudah menumbuhkan perasaan" ucap Diko menenangkan adiknya.


"Mas, nanti pas kamu ketemu, kamu jangan tangan kosong ya" ucap Tia mengajari kakaknya.


"Kamu beliin cincin, kalau lamaran kamu diterima kamu langsung kasih cincinnya" lanjutnya.


"Hah? memangnya harus gitu ya?" tanya Diko polos.


"Ya biar seneng lah Mas, biar kamu kelihatan romantis, biar ada pengorbanan kamu" jawab Tia sambil membayangkan kakaknya akan memberikan cincin pada wanita.


"Lha kalau di tolak gimana?" tanya Diko.

__ADS_1


"Yaah kan bisa disimpan cincinnya, bisa dijual lagi juga, atau bisa buat akuuu" jawab Tia girang.


"Yeee enak aja kamu" ucap Diko sambil menoyor kepala adiknya yang sedang terbahak-bahak.


'Benar juga kata Tia' bathin Diko.


"Udah sana siap-siap cepat beliin cincinnya" ucap Tia sambil mendorong kakaknya ke kamar mandi.


Diko pun bergegas mandi dan bersiap-siap.


Kemudian ia langsung segera pergi ke salah satu pusat perbelanjaan dan menuju toko perhiasan rekomendasi dari Tia.


Tia tidak bisa menemaninya karena ada keperluan lain yang tidak bisa ditinggalkan. Ia hanya bisa memberi rekomendasi dan petunjuk untuk kakaknya itu agar tidak salah pilih.


Setelah menemukan toko perhiasan yang di rekomendasikan adiknya, Diko segera masuk ke dalam toko.


Ia langsung di sambut oleh beberapa pramuniaga yang sangat ramah menawarkan bantuannya. Di lihatnya beberapa cincin wanita yang terbaru. Kemudian dibukanya beberapa foto yang dikirim Tia ke ponselnya sebagai referensi model cincin yang di sukai wanita.


Setelah sekitar 15 menit melihat dan memilih, akhirnya pilihannya jatuh pada sebuah cincin berlian yang memiliki bentuk kotak dengan sudut 90 derajat pada siku-sikunya. Cincin dengan model Princess Cut Diamond ini terlihat simple dan elegan.


Lingkarnya yang sederhana, tanpa detail khusus, membuat cincin ini sangat terlihat simpel, muda, namun tetap cocok untuk Riana yang feminin.


Ia cukup yakin dengan pilihannya, Ia membayangkan cincin ini melingkar di jari Riana. Pasti akan sangat manis sekali.

__ADS_1



__ADS_2