Tamu Hati Tak Diundang

Tamu Hati Tak Diundang
BAB 102


__ADS_3

"Masa harus lembur sih Mas?" tanya Riana setengah kesal saat menerima panggilan telepon dari Diko sore itu.


"Maaf ya sayang, tapi aku benar-benar harus lembur dan ga bisa pulang cepat" jawab Diko.


"Yaudah deh" jawab Riana pasrah.


"Yaah, kamu jangan ngambeg dong. Aku usahain cepat pulang yaa. Begitu selesai aku pasti langsung pulang ke rumah. Jangan marah yaa sayang" bujuk Diko.


"Iyaaa, tapi janji yaa" ucap Riana.


"Siap bos" jawab Diko.


Diko terpaksa berbohong pada Riana karena malam ini ia harus bertemu Ferdy dan rekannya di kantor kuasa hukum. Ia tahu Riana pasti akan kesal, karena beberapa bulan ini ia memang begitu memanjakan istrinya itu untul menjaga perasaannya. Ia lebih sering kerja dari rumah, sekalipun kerja di kantor ia juga selalu pulang tepat waktu. Jadi wajar saja sekalinya ia lembur, Riana langsung kecewa.

__ADS_1


Nanti saat semua sudah terungkap dan Riana sudah benar-benar pulih, ia akan pelan-pelan kembali membuat istrinya mandiri seperti dulu. Namun ia cukup tenang karena ia dan Riana masih tinggal di rumah ibunya, jadi Riana tak akan sendirian.


Begitu masuk ke halaman kantor kuasa hukumnya, sudah terlihat mobil Ferdy di sana. Diliriknya jam tangannya yang menunjukkan pukul 7 malam. Ferdy benar-benar on time ternyata.


Begitu Diko masuk, ternyata mereka sedang membahas temuan yang didapat Ferdy dengan kuasa hukumnya.


"Gimana gimana?" tanya Diko penasaran sambil mengambil posisi duduk di tengah.


"Iya Dik, ini kita lagi bahas untuk menambahkan bukti yang baru ke dalam berkas banding yang sudah terlanjur masuk ke pengadilan" jawab Ferdy memberitahu.


"Kamu kenal Dik dengan orang yang bernama Sefara? Atau mungkin istri kamu pernah cerita tentang nama itu?" tanya Ferdy.


Diko mengeryitkan dahinya sambil berusaha keras mengingat. Tapi ia belum menemukan clue tentang nama itu kemudian menggeleng.

__ADS_1


"Kami kemarin tunggu sampai pagi di sana. Berharap orang itu keluar dari apartemennya, tapi belum membuahkan hasil. Kami keburu di curigai pihak apartemen karena lalu lalang di sana" jelas Ferdy lagi.


"Tapi besok, kita akan gunakan talent lagi untuk berusaha bertemu dengan target. Talent akan kita lengkapi dengan kamera tersembunyi, jadi begitu target membuka pintu langsung bisa terekam wajahnya" lanjut Ferdy.


Diko mengangguk setuju. Ia butuh wajah orang itu, karena nama saja belum membuatnya puas.


"Tenang Dik, yang jelas kita jangan gegabah. Aku yakin pelakunya ini bukan orang yang ahli. Dia pasti orang biasa, bukan orang yang biasa berbuat kriminal. Karena dia dengan polosnya mengirim pesan langsung dari lokasi apartemennya. Dan dia pasti tidak menyangka kamu akan menyelidiki kasus ini sampai begini, mungkin dia kira kamu 100% mempercayakan semuanya pada pihak kepolisian. Selangkah lagi kita pasti dapatkan orang itu" jelas Ferdy yang paham Diko pasti sedang menggebu-gebu karena penasaran.


"Begitu dapat wajahnya, langsung serahkan semua bukti ke kepolisian dan minta untuk segera amankan orang tersebut" perintah Diko saat itu.


Ferdy dan yang lainnya mengangguk paham.


"Aku ga mau dia punya waktu untuk berkelit. Kita harus cepat supaya dia ga sempat kabur" ucap Diko lagi.

__ADS_1


"Siap, kami akan lakukan yang terbaik" jawab Ferdy sigap.


__ADS_2