
"Gimana? Masih sakit perutnya?" tanya Diko yang baru bangun pagi itu karena mendengar suara Riana turun dari tempat tidur.
"Kamu udah bangun Mas? Udah mendingan, udah lebih enakan" jawab Riana sambil beringsut turun dari tempat tidur.
"Syukurlah, yaudah kamu mandi gih. Kita kan mau nganterin Tia ke bandara" ucap Diko.
Riana mengangguk, kemudian segera menuju ke kamar mandi.
Hari itu Tia akan berangkat menyusul suaminya yang sedang bertugas di Sulawesi. Dengan berat hati ia harus meninggalkan ibunya. Walau Bu Hesti selalu menguatkannya bahwa ia akan baik-baik saja
Semua terlihat sibuk membantu Tia mengeluarkan beberapa koper yang akan dibawa. Diko terlihat bolak balik memasukkan koper Tia ke bagasi mobil agar tidak ada satu pun barang yang ketinggalan.
Suasana melow sudah terasa sejak pagi ini. Tia sejak tadi sudah terlihat meneteskan air mata karena sedih harus meninggalkan rumah ini, meninggalkan ibunya, kenangan dengan ayahnya, meninggalkan Diko dan Riana.
Setelah semua beres, mereka pun segera berangkat menuju bandara.
...***...
Sepulang dari bandara, Bu Hesti tidak pulang ke rumahnya melainkan ikut ke rumah Diko dan Riana.
"Nanti mama tidur sama aku ya kita di kamar depan. Biar Mama ada temennya" ucap Riana saat baru saja turun dari mobil.
"Ah ga usah, mama tidur di kamar tamu aja" tolak Bu Hesti sambil menutup pintu mobil.
__ADS_1
"Ga apa-apa Ma. Masa Mama tidur sendirian? Mama ke sini kan biar rame" lanjut Riana.
"Udah, Mama harus bisa terbiasa tidur sendirian sekarang. Kalau ditemenin terus kapan terbiasanya?" jawab Bu Hesti yang sudah beranjak menuju teras.
Riana dan Diko seketika berpandangan.
Melihat ibunya yang sudah duluan masuk ke dalam rumah, Diko pun tergopoh-gopoh mengambil koper ibunya yang masih berada di dalam bagasi.
"Ma, Mama serius? Mama tidur sama aku aja ya" ucap Riana yang terus berusaha.
"Ga apa-apa. Kalau ada apa-apa kan Mama bisa panggil kalian. Udah kamu jangan khawatir" jawab ibu mertuanya.
Riana hanya bisa tersenyum pasrah.
"Lho, ini barang-barang siapa Ri?" tanya Bu Hesti saat memasuki kamar tamu dan melihat ada handuk basah Diko yang masih tergeletak di tempat tidur, kemudian ada deodorant dan parfumnya di atas nakas.
Riana dan Diko lagi-lagi berpandangan.
"Ma, ini punya Mas Diko" jawab Riana berusaha tenang.
"Lho kok ada di sini?" tanya ibu mertuanya penasaran.
"Iya Ma, kemarin aku mandi di sini. Abisnya Riana lama banget mandinya" jawab Diko sedikit berbohong.
__ADS_1
"Iya Ma, maklum lah Ma. Mas Diko emang sering lupa taruh handuk kalau habis mandi. Sama ini ni, deodorant sama parfumnya suka sembarangan" timpal Riana sambil mengambil handuk basah bekas suaminya serta deodorant dan parfum yang masih tegak manis di sana.
"Yaudah Mama istirahat dulu aja ya. Pokoknya lakukan apa yang membuat Mama nyaman di sini" ucap Riana sambil mengelus lengan ibu mertuanya.
Bu Hesti mengangguk kemudian tersenyum.
Kemudian Riana pun keluar dan membiarkan Bu Hesti beristirahat.
Sesampainya di kamar, Diko yang sedang melamparkan baju ke keranjang baju kotor pun bertanya.
"Kamu masih ga mau ya satu kamar sama aku?" tanya Diko sambil mengambil baju kaos bersih di lemari kemudian memakainya.
"Hmm, bukan gitu Mas. Aku cuma ga mau Mama sendirian" jawab Riana sedikit berbohong.
"Kamu belum bisa percaya sama aku?" tanya Diko sambil mendekat.
"Mas, aku ganti baju dulu ya" ucap Riana sambil masuk ke kamar mandi.
Diko hanya bisa menghela nafas.
Dibalik pintu kamar mandi Riana tersandar.
Iya meyakinkan dirinya, apa benar ia sudah bisa menerima segala resiko dari masalalu Diko? Kembali percaya pada suaminya berarti ia harus benar-benar bisa menjadi istri seutuhnya untuk Diko. Termasuk punya anak dari Diko.
__ADS_1
Riana mencoba tenang, kemudian mengganti bajunya. Kemudian ia keluar dan langsung ke luar kamar.
"Aku masak buat makan malam dulu ya Mas" ucapnya sambil keluar kamar menghindari Diko.