
Saat tengah makan malam, Riana tiba-tiba berhenti dan mengurungkan suapannya. Ia merasakan perutnya sedikit kram.
"Kenapa sayang?" tanya Diko heran.
"Ga apa-apa Mas" jawab Riana berbohong.
Padahal hatinya sedang tidak karuan. Selera makan pun tiba-tiba menghilang. Menelan makanan yang ada di dalam mulutnya pun sangat susah rasanya.
Kram yang dirasakannya menandakan darah haidnya akan segera keluar. Dalam hatinya berdoa semoga ini hanya perasaannya saja.
Setelah selesai makan, Riana langsung bergegas ke kamar mandi dan mengecek. Ternyata tidak ada noda darah. Hatinya sedikit lega.
Ia tersenyum dan cukup merasa senang, karena jarang-jarang ia telat haid. Jadi jika kali ini ia telat haid, maka memang benar sepertinya jika dirinya hamil.
Namun Riana belum bercerita pada Diko bahwa hari ini seharusnya jadwal haidnya. Ia takut Diko ikut-ikutan menaruh harapan yang begitu besar sama seperti dirinya saat ini.
Begitu keluar dari kamar mandi, Riana melihat Diko sudah mulai membuka laptopnya dan mengerjakan pekerjaannya yang mungkin belum selesai.
Tak lama kemudian, Bi Yum mengetuk pintu. Bi Yum membawakan sewadah kurma muda. Riana heran dari manakah Bi Yum mendapatkannya, karena seingatnya ia tak pernah membeli kurma muda.
"Ini Bu kurma mudanya, udah Bibi cuciin biar bersih dan tinggal dimakan" ucap Bi Yum sambil menyerahkan wadah kurma tersebut.
"Dari mana Bi?" tanya Riana sambil mengambil wadah yang diberikan Bi Yum.
"Bapak tadi yang bawa pas pulang kerja" jawab Bi Yum.
Riana langsung melirik Diko.
"Iya aku beli dari temanku yang biasa impor makanan dari Arab" jawab Diko tanpa Riana bertanya.
__ADS_1
Riana mendekat pada Diko dan meletakkan kurma muda tersebut di atas nakas.
"Katanya, kurma muda bagus untuk yang lagi usaha untuk hamil. Jadi aku beli, mudah-mudahan kamu suka ya" lanjut Diko lagi.
Riana mengambil sebuah kurma muda tersebut dan menggigitnya. Rasa manis yang segar langsung terasa di mulutnya.
"Gimana?" tanya Diko.
"Enak banget Mas" jawab Riana berbinar.
Diko tersenyum. Ia senang jika Riana menyukainya.
"Mas" panggil Riana.
"Hmm" jawab Diko sambil terus fokus pada layar laptopnya.
"Terima kasih ya Mas atas semua usaha kamu" ucap Riana.
Riana pun mendekat dan duduk di pangkuan suaminya. Ia mengalungkan tangannya di leher Diko.
"Sayang, apa yang aku lakukan itu memang sudah seharusnya aku lakukan. Kamu tidak perlu berterima kasih. Apapun yang bisa aku lakukan pasti akan aku lakukan demi kamu dan calon anak kita yang lagi on the way ini" ucap Diko sambil mengelus perut istrinya yang rata.
Riana tersenyum. Ia merasa jadi istri paling beruntung di muka bumi jika Diko sedang bersikap manis seperti saat ini.
...***...
Riana terbangun dari tidurnya dan merasa ingin buang air kecil. Diliriknya jam dinding yang menunjukkan pukul 02.30 malam.
Ia segera menuju kamar mandi untuk menuntaskan hajatnya. Namun saat ia membuka ****** ********, ia melihat ada bercak darah di sana.
__ADS_1
Otomatis hati Riana langsung hancur berkeping-keping. Terbayang usaha suaminya untuk mendapatkan anak, namun lagi-lagi ia belum bisa mewujudkannya.
Air mata Riana langsung menetes tanpa di komando. Menerobos dengan lancar dan mendarat di pipi. Ada rasa perih di dadanya ketika apa yang ia harapkan tak menjadi kenyataan. Sulit rasanya di saat seperti ini untuk tetap berpikir positif.
Tak ia sadari ternyata sudah hampir 20 menit Riana menangis di kamar mandi. Diko mendengar sayup2 suara tangisan dari kamar mandi.
Kemudian ia tak mendapati Riana di kasurnya. Diko langsung melompat dan menuju arah pintu lamar mandi yang ternyata tak di kunci.
Tampak Riana sedang menangis terduduk di lantai kamar mandi. Diko sontak berlari masuk dan menarik tubuh Riana untuk berdiri.
"Ada apa sayang?" tanya Diko panik.
"Kamu sakit, mana yang sakit? tanya Diko lagi.
Riana menggeleng.
"Maafin aku Mas" ucapnya lirih.
"Ada apa?" tanya Diko sambil mengelap air mata yang masih membasahi pipi istrinya.
"Maafin aku" ucap Riana lagi tanpa mampu menjelaskan yang sebenarnya. Ia tahu Diko pastinya akan kecewa.
"Kenapa sayang? Cerita sama aku" bujuk Diko.
"Akuu.." ucap Riana terbata.
"Aku,.. Akuu,.. Aku haid Mas" ucapnya.
"Maafin aku ya" ucap Riana.
__ADS_1
"Hei, kamu jangan ngomong seperti itu. Kamu ga perlu minta maaf sayangku, ini bukan salah kamu. Mungkin kita hanya perlu bersabar. Semua sudah ditentukan oleh Tuhan, kita sebagai manusia hanya menjalani sambil berusaha dan berdoa. Kamu jagan sedih ya, kan bisa kita coba terus. Atau kalaupun seandainya kamu mau kita ke dokter kandungan untuk konsultasi aku juga akan mendukung sepenuhnya" jelas Diko sambil memegang kedua rahang Riana agar menatapnya.
Riana mengangguk tanpa bisa berkata-kata. Ia memeluk Diko dengan erat. Hanya pelukan suaminya itu yang benar-benar bisa menenangkannya saat ini.