Tamu Hati Tak Diundang

Tamu Hati Tak Diundang
BAB 162


__ADS_3

Setelah Diko selesai sarapan, Riana mengajaknya untuk masuk ke dalam kamar.


"Mas" panggilnya dari dalam kamar.


Diko yang baru saja menghabiskan kopinya langsung bangkit dan menemui Riana.


Terlihat Riana yang sudah duduk di pinggir tempat tidur sambil memegang ponsel. Diko mendekat dan duduk di sampingnya.


Tak lama kemudian, terdengar suara sambungan panggilan dari ponsel Riana. Ternyata ia sedang menghubungi Pramudya.


Tak lama kemudian terdengar suara Pramudya dari seberang panggilan telepon. Suara yang girang dan senang karena di hubungi oleh Riana.


"Hallo Ri" ucapnya percaya diri.


"Hari ini kamu sibuk? Bisa ketemu di kantor kamu pagi ini?" tanya Riana to the point.


Pramudya senang bukan kepalang. Tak biasanya ia mengajak bertemu, apalagi terakhir kemarin sikap Riana sangat ketus padanya.


Ia berfikir bahwa mungkin Riana telah berubah pikiran dan mau bekerja di perusahaannya. Pastinya Pramudya dengan sangat senang hati akan menerimanya tanpa syarat apapun, bahkan mungkin ia berani menggaji Riana dengan sangat tinggi.


"Tidak, aku tidak sibuk. Tentu saja bisa" jawab Pramudya sumringah.


"Sekitar jam 9 aku sampai di sana ya" ucap Riana.


"Oke, aku tunggu" jawab Pramudya tak sabar.


Setelah mematikan sambungan panggilan telepon itu, Riana memandang Diko.


"Berangkat sekarang?" tanya Diko.


"Boleh" jawab Riana sambil menyambar tas yang ada di sebelahnya.


Diko terliat terdiam sejenak.

__ADS_1


"Kenapa Mas?" tanya Riana heran.


Diko menggeleng.


"Kamu kenapa? Jangan bilang kamu mulai emosi lagi" tanya Riana khawatir.


Lagi-lagi Diko menggeleng.


"Kamu yakin perasaan kamu untuknya sudah hilang?" tanya Diko kemudian.


Riana mengeryitkan dahi karena heran dengan pertanyaan Diko.


"Iya, aku yakin" jawab Riana.


"Memangnya kenapa Mas?" tanya Riana kemudian.


"Tidak apa-apa. Aku hanya memastikan langkah yang kita lakukan ini benar" jawab Diko.


"Kamu meragukan aku?" tanya Riana.


"Aku hanya memastikan, hanya si sia*an itu saja yang masih menaruh hati, dan istriku tidak" jelasnya.


"Sejak saat dia meninggalkan aku, jangankan menaruh hati, namanya pun sudah tak ingin aku ingat lagi. Kamu tidak perlu ragu Mas, tak ada lagi yang aku cari di dunia ini. Semua sudah lengkap, ada kamu, ada anak kita" jawab Riana sambil mengambil tangan Diko dan meletakkan di atas perutnya.


Diko tersenyum. Ditariknya Riana ke dalam pelukannya. Kini ia benar-benar yakin, bahwa Riana memang tak lagi punya perasaan terhadap Pramudya.


"Yaudah yuk kita berangkat sekarang" ajak Riana memecah suasana.


Diko mengangguk dan menggandeng tangan Riana keluar.


Selama dalam perjalanan keduanya terlihat tak ingin membahas perihal Pramudya, mungkin karena tak ingin menghancurkan mood.


Di sana nanti, Riana menyerahkan sepenuhnya kepada suaminya, ia hanya mendampingi. Sekaligus berjaga-jaga agar Diko tak emosi.

__ADS_1


Setelah menempuh perjalanan sekitar 20 menit, Diko dan Riana sampai di parkiran PT. Praja Cipta Informasi.


Keduanya berpandangan.


"Siap?" tanya Diko.


Riana mengangguk sambil tersenyum percaya diri.


Ia yakin ini adalah langkah yang benar untuk menghentikan Pramudya, untuk menyelesaikan semuanya dengan cara baik-baik dan dengan kepala dingin.


Keduanya turun dari mobil dan memasuki lobby.


"Ada yang bisa saya bantu?" tanya receptionist.


"Saya Riana, saya ingin bertemu dengan Bapak Pramudya" jawab Riana.


Receptionist tersebut sedikit kaget karena mendengar Riana akan bertemu dengan pimpina perusahaan itu. Itu bukan hal yang main-main.


"Sudah ada janji?" tanya receptionist itu kemudian.


"Sudah" jawab Riana singkat.


Receptionist yang tak bisa begitu saja percaya langsung mengkonfirmasi pada pimpinannya.


"Baik Bu Riana, anda sudah ditunggu di ruangan Bapak Pramudya, di lantai 5" ucap receptionist tersebut dengan ramah.


Tanpa membuang waktu lagi, Diko dan Riana segera menuju ke ruangan Pramudya.


Keduanya ternyata masih ingat dimana ruangan Pramudya. Tak butuh waktu lama Riana dan Diko sudah berada di depan pintu ruangan yang mereka tuju.


Meja sekretarisnya terlihat kosong. Mereka memutuskan untuk langsung mengetuk pintu ruangan dan masuk.


Saat melihat Riana masuk ke dalam ruangannya, Pramudya terlihat begitu sumringah.

__ADS_1


Namun saat terlihat Diko ikut muncul di belakangnya, wajah Pramudya langsung berubah.


__ADS_2