Tamu Hati Tak Diundang

Tamu Hati Tak Diundang
BAB 51


__ADS_3

Riana bergegas mengetuk ruangan atasannya. Dengan wajah panik ia menjelaskan kondisi ayah mertuanya.


Begitu mendapat izin, Riana pun segera keluar dan ingin bergegas berangkat ke rumah sakit.


Namun baru saja ia menutup pintu ruangan atasannya, tiba-tiba Tia menelepon lagi.


Buru-buru Riana mengangkatnya.


"Iya Tia, Mbak on the way ya" ucap Riana tanpa menunggu Tia berbicara.


"Mbak" ucap Tia mencoba untuk tenang.


"Iya, Mbak sebentar lagi sampai yaa" ucap Riana menenangkan adik iparnya.


"Mbak ga usah ke rumah sakit ya" lanjut Tia datar.


"Lho, kenapa?" tanyanya heran.


"Mbak langsung ke rumah aja ya" ucap Tia dengan masih menahan tangisnya.

__ADS_1


"Kenapa Tia? Kok Mbak harus ke rumah?" tanya Riana dengan suara agak keras. Karena ia takut dengan terkaannya sendiri. Darahnya berdesir karena menduga-duga.


"Papa udah ga ada Mbak, ini mau di bawa pulang ke rumah" ucap Tia dalam isaknya yang sungguh menyayat hati.


"Innalillahiwainailahirojiun, Ya Allah, Papaaaa" tangis Riana seketika pecah memenuhi ruangan kantornya.


Teman-temannya sontak mendekati Riana dan bertanya. Begitu mereka tahu Riana sedang berduka, semua menenangkan Riana dengan sabar. Semua berempati dengan kondisi Riana yang sedang sedih dan terkejut.


Mei langsung membopong tubuh Riana dan membantunya berjalan menuju parkiran. Mei pun berinisiatif mengemudikan mobil Riana sampai ke rumah duka.


Sepanjang jalan Riana menangis terisak-isak. Seorang Pak Ridwan yang cukup lama ia kenal baik sebagai atasannya, kemudian sekarang menjadi Papa mertuanya yang begitu menyayangi Riana seperti anaknya sendiri kini sudah pergi meninggalkan mereka untuk selamanya. Ternyata Tuhan tak memberikan Riana waktu lebih panjang lagi untuk merasakan kasih sayang ayah mertuanya sebagai pengganti ayah kandungnya.


Tak lama kemudian, mereka sampai di depan pekarangan rumah mertua Riana.


Riana langsung menghambur berlari keluar dan ingin segera masuk ke dalam. Namun di dekat pintu rumah, baru saja berhenti sebuah ambulance. Terlihat Diko turun dari dalamnya.


Dari jauh Riana melihat jenazah Pak Ridwan diturunkan dari ambulance oleh beberapa petugas dan dibaringkan di atas kasur yang terletak di tengah-tengah ruang tamu.


Diko berdiri terdiam di depan jenazah ayahnya. Air matanya terus menerobos menetes membasahi pipinya.

__ADS_1


Perlahan Riana mendekatinya. Dari belakang digenggamnya jemari Diko guna memberi kekuatan. Dipeluknya tubuh Diko dari samping dengan begitu erat sambil terus terisak.


Diko menoleh dan mendapati istrinya yang sedang berada disisinya. Dipeluknya Riana sambil keduanya bertangisan melepaskan rasa sedih yang sama-sama sedang mereka rasakan karena kehilangan.


"Mas, kamu harus kuat ya" ucap Riana lirih dalam tangisnya.


Tanpa bisa menjawab, Diko hanya mengangguk lemah.


Kemudian Riana pun melepaskan pelukannya dan duduk di samping jenazah Pak Ridwan.


Hatinya benar-benar nyeri dan hancur. Ada perasaan menyesal menyelinap dalam dirinya karena saat terakhir bertemu, Riana tak sempat pamit dengannya dikarenakan Diko yang mendesaknya untuk segera masuk ke dalam mobil dan pulang.


"Maafin Riana Paa" bisiknya.


Kemudian terlihat Bu Hesti dan Tia keluar dari kamar. Ibu mertuanya terlihat di papah oleh beberapa orang. Riana langsung berdiri dan berlari menghambur ke pelukannya.


Mereka menangis bertukar duka, melepaskan kesedihan mendalam atas kehilangan yang tiba-tiba hadir ditengah mereka hari ini.


Bagian dari rencana Tuhan untuk hambaNya yang terpilih untuk belajar dari suatu kejadian yang dikemas dalam bentuk KEDUKAAN.

__ADS_1


__ADS_2