Tamu Hati Tak Diundang

Tamu Hati Tak Diundang
BAB 41


__ADS_3

Melihat Riana yang tidur memunggunginya pun Diko tak terlihat berusaha untuk mencari tahu lebih lanjut. Ia dengan santainya ikut berbaring kemudian tertidur.


Sampai keesokan harinya Riana tak bisa membendung perasaannya yang uring-uringan karena Diko. Ia membuat sarapan tanpa sepatah kata pun, padahal Diko sedang menyeruput kopi di meja makan.


Tak ada obrolan berarti pagi itu. Hanya sebatas Riana yang menyuruh Diko untuk makan, dan juga ketika ia berpamitan dengan Diko sebelum keduanya berangkat kerja dengan menggunakan mobil yang berbeda.


Riana tak tahu apakah Diko sadar dengan perubahan sikapnya ini. Ia pun makin kesal karena Diko seperti tak merasa berdosa sedikitpun.


Hari ini mood Riana benar-benar berantakan. Seharusnya pengantin baru adalah masa-masa dimana setiap hari berbunga-bunga, penuh kemesraan. Bukan seperti dirinya, yang rasanya hanya seperti teman serumah Diko yang mengurusinya dari A sampai Z.


...***...


"Tia, pelan-pelan, nanti kebayanya keinjek" ucap Riana sambil mengangkat ekor kebaya Tia sebelum masuk ke dalam mobil.


"Iya Mbak, maaf. Aku lupa kalau kebaya ini panjang" jawab Tia cengengesan.


Riana menemani Tia di mobil pengantin menuju gedung tempat akad nikah dan resepsi yang akan berlangsung hari ini. Sedangkan Diko, Pak Ridwan dan Bu Hesti berada di mobil yang lain.


Mereka sekeluarga beserta keluarga besar Pak Ridwan dan Bu Hesti sama-sama berangkat menuju lokasi. Kurang lebih ada 12 mobil yang mengiringi mobil pengantin tersebut.


"Mbak, aku deg-degan" ucap Tia.


Riana langsung teringat moment-momentnya sebelum akad nikah berlangsung. Ia pun benar-benar gugup dan nervous menunggu detik-detik SAH hari itu.

__ADS_1


"Kamu tarik nafas yang dalam biar tenang, positive thinking semua akan berjalan dengan lancar. Sebentar lagi kamu akan resmi jadi istrinya Reza" jawab Riana menenangkan Tia sambil menggenggam tangan adik iparnya itu.


Tiba-tiba Riana teringat tentang Diko.


'Apakah dia tidak ingat moment pernikahan kemarin? Apa Mas Diko tidak ingat apa yang dibacakannya dalam 'sighat taklik' saat akad nikah? Kenapa Mas Diko tega memperlakukannya seperti ini?"


Sampai hari ini Riana masih betah melakukan perang dingin terhadap Diko. Walaupun Diko masih terlihat anteng-anteng saja. Sampai pagi ini ia tak berbicara pada Diko bahkan ia tak menawari Diko untuk sarapan. Untung saja Bu Hesti sudah berinisiatif untuk cepat-cepat menyuruh seluruh anggota keluarga untuk sarapan dulu sebelum berangkat.


Akhirnya mobil yang membawa mereka pun sampai di area gedung. Riana bersiap-siap memegangi ekor kebaya Tia agar tidak terseret. Ia pun memegangi Tia dan membantunya untuk turun dari mobil.


Ketika masuk ke dalam gedung, keluarga besar Reza, calon suami Tia sudah berada di sana. Reza pun terlihat baru saja duduk di kursi yang berada di meja akad.


Setelah mengantarkan Tia sampai ke kursi yang ada di sebelah Reza, Riana pun duduk di kursi yang telah disediakan untuk keluarga bersebelahan dengan ibu mertuanya, Bu Hesti.


Riana tahu Bu Hesti pasti sedang gelisah karena sebentar lagi anak perempuannya dipersunting orang. Ia mengerti akan perasaan ibu mertuanya yang juga deg-degan menjelang akad nikah ini.


Tiba-tiba Diko duduk di sebelah Riana. Riana pura-pura tak melihat karena ia masih malas berbicara dengan Diko.


Diko memandang Riana, karena tak ada respon ia pun kembali fokus pada akad nikah yang segera berlangsung.


Pak Ridwan sudah mengambil posisi sebagai wali nikah, semua saksi sudah berada di tempat, penghulu yang bertugas pun sudah siap.


Pertama di mulai sesi latihan dulu, agar saat ijab qabul tidak ada kesalahan. Setelah Pak Ridwan dan Reza sudah saling siap, ijab qabul sesungguhnya pun dilaksanakan.

__ADS_1


Suasana tegang dan khidmat terasa ke penjuru gedung. Para keluarga tidak diperkenankan untuk bersuara dan membuat kebisingan karena proses ijab qabul akan di laksanakan.


Terdengar dengan lantang suara Pak Ridwan menikahkan putrinya.


"Saya nikahkan dan saya kawinkan anak kandungku Heltia Anindita dengan engkau, Reza Ibrahim Malik dengan mas kawinnya sebentuk cincin emas dibayar tunai"


Reza pun menjawab dengan lancar dan percaya Diri.


"Saya terima nikah dan kawinnya anak kandung Bapak, Heltia Anindita dengan mas kawinnya sebentuk cincin emas dibayar tunai"


Para saksi mengangguk sebagai kode bahwa pernikahan tersebut telah sah.


Seisi ruangan berubah menjadi bahagia dan haru. Bu Hesti pun mentitikkan air mata bahagianya.


Riana memandang wajah Diko. Diko sedang menyeka air matanya yang menetes setelah menyaksikan ijab qabul adiknya.


Tak terasa air mata Riana meleleh melihat Diko.


'Mas, adikmu telah menikah. Mungkin salah satu tujuanmu menikahiku adalah demi terwujudnya hari ini, walaupun dengan mengorbankan perasaanku sebagai ganti atas pernikahan adikmu' bathinnya dalam hati sambil terus memandang Diko.


Entah kenapa rasa kesalnya semakin dalam terhadap Diko.


'Kalau memang karena ini pernikahan kita harus berlangsung, kenapa harus aku yang kau jebak dalam pusaran ini?' gumamnya dalam hati dengan perasaan semakin geram.

__ADS_1


__ADS_2