Tamu Hati Tak Diundang

Tamu Hati Tak Diundang
BAB 40


__ADS_3

Setelah pulang dari Surabaya, Riana dan Diko kembali menjalani aktifitas mereka seperti biasa. Pagi hari bekerja, sore hari pulang kerumah. Terkadang malam harinya mereka pergi berkunjung ke rumah orang tua Diko.


Seperti malam ini, mereka berdua sedang berkunjung untuk membantu persiapan pernikahan Tia yang akan di adakan lusa.


Riana terlihat sibuk meletakkan souvenir ke dalam beberapa kotak untuk memudahkan dalam mengangkutnya ke gedung resepsi.


Tia yang sedari tadi sibuk packing baju dan barang yang akan di bawa ke gedung resepsi besok terlihat sudah selesai dengan pekerjaannya. Kemudian ia mendekati Riana berniat untuk membantunya.


"Mbak, maaf ya pas nikahan aku kalian jadi repot begini. Sedangkan pas nikahan kalian kemarin aku terima bersih aja udah kayak tamu" ucap Riana sambil mengambil beberapa souvenir untuk disusun rapi.


Riana tertawa mendengar ucapan Tia.


"Ga apa-apa, ini udah tugas kita kan saling bantu. Lagian juga kemarin pas nikahan kami, aku juga terima beres kok, semua Budhe Retno yang urus." jawab Riana.


"Oh iya Mbak, maaf ya aku tanya-tanya. Abisnya aku deg-degan nih, takut aja bawaannya. Ini Mbak, gimana sih rasanya malam pertama? Mbak ada rasa takut juga ga waktu itu?" tanya Tia tanpa basa-basi.


Riana langsung salah tingkah mendengar pertanyaan adik iparnya itu. Bagaimana ia bisa menjawabnya, sudah hampir satu minggu menikah bahkan Diko belum pernah menyentuhnya.


"Hmmm, wajar sih kalau awalnya takut. Tapi kamu harus santai, harus relax pokoknya" jawabnya menutupi keadaan.


"Emangnya beneran sakit ya Mbak pas pertama kali?" tanya Tia lagi.


Riana makin pusing bagaimana menjawabnya. Mana ia tahu sakit atau tidaknya, dijamah saja belum pernah.


"Hmmm, iya sih sedikit. Tapi ga apa-apa kok. Kamu jangan mikir yang aneh-aneh dulu, mikirnya yang positif. Kalau kamu udah takut duluan ntar malah makin sakit" ucapnya berbohong.


"Iya juga ya Mbak" jawab Tia sambil mengangguk.


"Ngomong-ngomong Mbak, kan kalian baru kenal nih, terus pas setelah ngelakuin itu apa langsung timbul rasa sayang atau cinta gitu?" tanya Tia sambil tersenyum tersipu malu.

__ADS_1


Lagi-lagi Riana merasa seperti dikuliti oleh Tia. Ia benar-benar bingung mau menjawab apa.


"Yaiya lah Tia, kalau udah suami istri itu pasti timbul rasa sayang karena dari pagi sampai pagi lagi ketemunya dia dia terus" jawab Riana.


Lagi-lagi Tia mengangguk setuju.


Tiba-tiba Diko datang memanggil Riana untuk mengajaknya pulang.


"Ri, yuk. Udah malem, besok malam kita nginap di sini biar bisa barengan ke gedung resepsi" ucap Diko.


Riana pun menggangguk dan segera berdiri. Ia mengambil tasnya, kemudian berpamitan pada Tia.


Kemudian menemui Pak Ridwan dan Bu Hesti untuk pamit pulang.


Riana dan Diko pun menyalami Pak Ridwan dan Bu Hesti satu persatu, kemudian segera masuk ke dalam mobil.


Wajah Bapak dan Ibu mertuanya terlihat segar dan ceria sejak pernikahan Diko dan Riana kemudian di susul pernihakan Tia. Mereka sungguh excited menyambut pernikahan anak-anaknya yang hanya berjarak 1 minggu.


Ia sendiri sangat bingung pada hubungan pernikahannya. Sampai saat ini Diko belum juga menyentuhnya. Riana tak tahu apa penyebabnya.


Kekhawatiran-kekhawatiran dan prasangka-prasangka buruk terkadang melintas di benaknya. Namun sering tertepis karena sikap Diko padanya terlihat baik-baik saja, tidak jutek, tidak seperti orang yang sedang marah atau tidak suka. Tapi juga tidak mesra layaknya suami pada istrinya. Benar-benar membingungkan bagi Riana.


"Ri, kamu kenapa?" tanya Diko memecah lamunannya.


"Eh, hmm, iya, hmm, ga apa-apa kok Mas" jawabnya menutupi.


"Bener ga apa-apa? Kamu kecapean ya?" tanya Diko lagi.


"Ga Mas, aku ga apa-apa" jawabnya meyakinkan Diko.

__ADS_1


Lagi-lagi Riana harus berbohong. Keadaan ini membuat Riana pusing dan uring-uringan. Ia tidak tahu sikap seperti apa yang harus diambilnya. Karena ia dan Diko sebelum menikah juga belum terlalu dekat, sehingga canggung baginya untuk berbicara hal semacam itu saat ini.


Sesampainya di rumah, Riana langsung masuk ke dalam kamar dan bergegas ke kamar mandi. Diko mengira Riana kebelet buang air.


Sesampainya di kamar mandi, Riana membasuh wajahnya dengan air berkali-kali. Di pejamkannya matanya seperti mencoba untuk berpikir. Ada apa sebenarnya dengan Diko.


'Apa aku tidak menarik?' pikirnya dalam hati sambil berputar-putar di depan cermin. Tapi ia tak menemukan sesuatu yang aneh di tubuhnya


'Apa aku bau badan?' bathinnya lagi sambil mengangkat kedua tangannya kemudian berusaha mencium daerah ketiaknya. Namun ia tak mencium bau tak sedap.


'Kalau bukan karena itu, kira-kira apa?' gumamnya dalam hati sambil terus berpikir.


'Apa sebegitu tidak cintanya Mas Diko sama aku sampai-sampai untuk menyentuhku pun ia tak sudi?' bathinnya.


Kepalanya sakit kalau sudah memikirkan hal ini. Ia tak tenang dan merasa penasaran.


Setiap malam menjelang tidur ia selalu menantikan Diko yang mencoba untuk mesra padanya, tapi tak kunjung di dapatkannya.


Diko selalu beralasan menyelesaikan pekerjaan hingga larut malam sampai Riana tertidur.


"Ri, Riana" panggil Diko dari luar karena Riana tak kunjung keluar dari kamar mandi.


"Iya Mas" ucapnya sambil membuka pintu.


"Kamu kenapa? Sakit?" tanya Diko sambil memegang keningnya.


"Hmm, ga Mas. Aku cuma itu, hmm, sakit perut, sepertinya masuk angin" jawab Riana berbohong.


"Mau aku belikan obat?" tanya Diko lagi.

__ADS_1


"Eh,hmm ga usah Mas, aku pake minyak kayu putih aja. Ga apa-apa kok" jawab Riana sambil berlalu mengambil minyak kayu putih kemudian mengoleskannya ke perutnya yang tidak sakit.


Kemudian ia segera beranjak ke tempat tidur, berbaring memunggungi Diko yang masih berdiri di depan kamar mandi. Ditahannya air matanya sekuat tenaga, ditahannya isaknya yang sudah terasa sesak ingin menerobos melepaskan segala kegundahan.


__ADS_2