Tamu Hati Tak Diundang

Tamu Hati Tak Diundang
BAB 165


__ADS_3

"Dasar, bisa-bisanya dia bikin kita seperti mengemis begini, sampai harus berulang kali datang ke sini" keluh Diko saat mobil mereka baru saja terparkir di basement perusahaan milik Pramudya.


Keduanya pun bergegas turun dan menuju ruangan Pramudya.


Sesampainya di depan meja sekretaris, sang sekretaris meminta keduanya untuk menunggu sebentar.


Terlihat sekretaris Pramudya mengangjat gagang telepon.


"Pak, Bu Riana dan suaminya sudah datang" ucapnya.


Tak lama kemudian tampak Pramudya keluar dari ruangannya.


"Silahkah langsung saja kita ke ruangan sebelah sini" ucapnya sambil menunjukkan ruangan yang lumayan berdekatan dengan ruangannya.


Riana dan Diko mengikuti langkah Pramudya. Terlihat ruangan yang tidak terlalu besar, ada beberapa unit komputer, dan ada seorang karyawan laki-laki di sana.


"Tolong perlihatkan rekaman cctv tanggal 5 Mei" perintahnya pada karyawannya tersebut.


Lelaki tersebut bangkit dan meminta mereka untuk melihat di layar komputer lain. Diko sedikit heran, padahal jelas-jelas di layar komputernya memperlihatkan video cctv saat itu, tapi kenapa ia harus berpindah di komputer lainnya.


Diko pun masih tetap diam tak berkomentar. Tak lama terlihatlah rekaman cctv yang terdapat di ruangan Pramudya saat Riana pingsan. Terlihat Riana yang baru masuk, kemudian duduk.

__ADS_1


Mereka semua masih dengan seksama memperhatikan rekaman tersebut. Sampai akhirnya video memperlihatkan saat-saat Riana jatuh pingsan. Tak lama kemudian terlihat Diko datang untuk membawa Riana.


Pramudya tersenyum puas.


"Seperti yang sudah bersama kita lihat, kejadiannya sama persis dengan apa yang saya ceritakan" ucapnya.


Diko terlihat gelisah bolak balik mengecek ponselnya.


Ia seperti tak mendengarkan apapun yang di ucapkan Pramudya. Riana paham suaminya sedang menunggu pesan dari seseorang. Dan ia sengaja mengulur waktu dengan bertanya hal yang tidak penting pada Pramudya.


Diko semakin gelisah. Pramudya pun terlihat canggung karena keduanya tak kunjung pergi.


"Hmm, apa mau ke ruangan ku dulu untuk minum?" ucap Pramudya menawarkan.


Ia langsung menarik tangan Riana untuk segera keluar dari ruangan itu.


Namun baru saja pintu ruangan tersebut tertutup, pesan yang ditunggu-tunggu oleh Diko datang juga.


Ia langsung mengecek ponselnya. Terlihat seseorang mengirimkannya sebuah video. Yaitu video asli rekaman cctv tersebut.


Segera dipercepatnya video tersebut sampai ketika Riana pingsan. Dan benar saja, ternyata video yang di perlihatkan oleh Pramudya tadi merupakan video yang telah dipotong.

__ADS_1


Terlihat di dalam video itu sesaat setelah mengangkat dan membaringkan Riana ke sofa. Pramudya tampak meraih tangan Riana dan mencium punggung tangannya dengan mesra.


Darah Diko seperti menggelegak melihatnya.


Tak sampai di situ, setelah itu Pramudya membelai lembut Rambut Riana dan mencium keningnya.


Tanpa di bisa dicegah lagi. Diko masuk kembali ke dalam ruangan tersebut.


Pramudya yang masih berada di sana terlihat terkejut terlebih melihat tatapan Diko yang seperti ingin menerkamnya.


Belum sempat ia bertanya, tinju Diko sudah melayang dan mendarat tepat di pipinya.


"Brengsek!!" teriak Diko saat melihat Pramudya tersungkur di lantai.


Karyawan Pramudya yang berada di sana langsung kaget dan buru-buru membantu pimpinannya yang masih terduduk di lantai dengan pipi merah dan hidung mengeluarkan beberapa tetes darah.


Tanpa di duga, setelah pulang dari kantor Pramudya kemarin, Diko langsung menghubungi Ferdy. Seorang detektif yang dulu berhasil membantunya mencari dalang dari pemerkosaan yang menimpa Riana.


Ferdy dan timnya meretas akses untuk mendapatkan rekaman cctv asli di perusahaan milik Pramudya. Untuk detektif sekelas Ferdy, untuk meretas rekaman cctv adalah perkara mudah.


"Lo coba bermain-main sama gue?" teriak Diko penuh emosi.

__ADS_1


"Salah orang lo!" lanjutnya sambil menunjuk ke arah Pramudya.


__ADS_2