
Air mata Riana sudah mau tumpah. Ia tak menyangka hanya karena perkara melihat Asian Festival saja suaminya bisa semarah ini padanya.
"Apa karena kita ketemu Akira?" tanya Riana to the point.
Diko terdiam tak menjawab dan membuat Riana yakin jawabannya adalah iya.
"Memangnya dia siapa?" tanya Riana.
Lagi-lagi Diko diam.
"Mantan?" tanya Riana bak menginterogasi.
Diko mengangguk lemah.
"Aku sudah menyangka akan bertemu dia kalau kita ke Asian Festival" ucap Diko berapi-api.
"Makanya aku bersikeras ga mau dan kamu tetap memaksa. Aku tahu kalau Asian Festival itu pasti akan ada stand dari KBRI dan kemungkinan ada dia di sana karena dia bekerja di KBRI" jelas Diko.
Riana yang masih belum puas dengan penjelasan Diko seolah ingin informasi lebih.
__ADS_1
"Tapi kenapa kamu tidak mau bertemu dia? Bukankah itu hanyalah bagian dari masa lalu?" tanya Riana penasaran.
"Sudahlah, aku ga mau bahas ini sekarang" jawab Diko.
"Ga bisa gitu dong Mas, aku butuh penjelasan. Kamu jangan cuma mikirin perasaan kamu aja" ucap Riana yang mulai tersulut emosinya.
Diko terlihat memejamkan mata kemudian menarik nafas seolah butuh energi lebih untuk berbicara.
"Akira itu mantan pacar aku yang pernah aku ceritakan dulu, dia hamil karena perbuatanku, kemudian dia memilih untuk menggugurkan kandungannya dan pergi menikah dengan laki-laki lain" ucap Diko sambil kemudian membuang muka.
"Kamu masih sakit hati? Atau masih ada r" belum selesai Riana dengan pertanyaannya Diko sudah menyela ucapannya.
"Kamu jangan berpikiran macam-macam, Riana. Aku tidak suka dengan pengkhianatan, sebejat-bejatnya masa laluku, aku tidak pernah selingkuh. Jadi aku benci dengan orang-orang yang pernah mengkhianatiku, kalau bisa aku tak ingin bertemu lagi dengan mereka" jelas Diko.
"Biarlah itu jadi masalalu Mas, tak perlu kamu hindari. Aku bahkan tak pernah memintamu untuk benci pada mantan-mantanmu yg jumlahnya tidak terhitung itu" ucap Riana.
"Aku memang sudah menganggapnya masalalu, tapi kalau melihatnya aku belum bisa menghilangkan rasa sakit hati. Dan aku tak mau berurusan dengan dia lagi. Aku sudah bahagia sekarang dengan pernikahan kita, jadi aku tidak mau merusaknya dengan rasa sakit hatiku bahkan pada orang yang kamu tidak mengenalnya" jelas Diko.
Setelah mengucapkan kata-kata itu, Diko langsung berbalik dan memunggungi Riana.
__ADS_1
"Aku minta maaf kalau aku tadi ga nurut sama kamu" ucap Riana sambil berbaring dan masuk ke dalam selimut.
Ia menangis dan berusaha tak bersuara agak Diko tak mendengar tangisannya. Seharusnya Diko tak perlu semarah ini menurutnya. Harusnya juga Diko bisa menjelaskan dulu sebelum akhirnya marah padanya.
Tapi di sisi lain, Riana bisa mengerti kenapa Diko menghindar dari Akira. Ternyata Akira adalah salah satu pengukir pengalaman cinta yang pahit untuk Diko dan masih membuatnya sakit hati hingga saat ini.
Malam itu ia menangis hingga tertidur.
Ia benci harus bertengkar gara-gara masalah sepele begini. Karena Diko kalau marah hanya diam diam dan diam. Riana tak suka itu.
Ada rasa bersalah di sudut hatinya, seandainya saja kemarin ia menurut pada suaminya, mungkin hal ini tidak akan terjadi.
Rasanya belum lama tertidur dan masih merasa mengantuk tiba-tiba ia terbangun setelah merasakan sentuhan di tangannya.
Setelah berusaha mencerna apa yang sedang terjadi, Riana baru meyadari bahwa Diko sedang memeluknya dari belakang dan menyandarkan wajahnya di pundak Riana.
Riana berusaha membuka mata, bisa dilihatnya dari jendela kamar bahwa matahari sudah masuk ke kamar mereka. Sepertinya Riana tertidur sangat larut malam tadi sehingga matanya masih sangat berat.
Diko mengeratkan pelukannya sampai akhirnya ia tahu bahwa Riana sudah bangun.
__ADS_1
"Maafkan aku sayang" ucap Diko pelan.
"Tak seharusnya aku semarah itu tadi malam" lanjutnya. Sedangkan Riana masih tetap dalam posisinya sambil menarik nafas panjang.