
"Mas, Mas.. Bangun Mas!" ucap adiknya pada Diko yang masih tidur.
Diko yang masih mengantuk tetap tak bergeming mendengar suara adiknya itu.
"Mas, ayo dong bangun. Ada sesuatu yang penting ini lho" lanjutnya sambil menggoyang-goyangkan badan Diko.
"Ya ampuun, ada apa sih Tia? Mas masih ngantuk banget nih" ucap Diko kesal sambil memeluk bantal guling yang berada di sampingnya.
Tia menarik bantal guling dan membuka selimut yang menutupi tubuh Diko. Seketika Diko makin terlihat kesal dan dengan terpaksa bangun serta duduk di atas tempat tidurnya.
"Ada apa sih? Apa ga bisa nanti aja gitu ngomongnya?" tanya Diko sambil mengucek matanya.
"Ga bisa mas, harus sekarang juga. Ini penting banget soalnya," rengek adiknya yang ternyata bernama Tia tersebut.
"Yaudah, cepetan ngomong. Ada apa?" tanya Diko.
"Mas, Mas Reza Mas" ucap Tia setengah merengek.
"Kenapa si Reza? mutusin kamu?" tanya Diko penasaran.
__ADS_1
"Bukaaaan, tapi Mas Rezanya ga jadi pindah tugas bulan depan" jawab Tia sambil menggenggam kedua lengan Diko.
"Tapi dua minggu lagiii" lanjutnya sambil menggaruk kepalanya kebingungan.
"Haah??!Ya Tuhan Tiaaaaaa, lu mau nikah bulan depan aja gue udah bingung setengah mati mau nikahin siapa, lha ini dua minggu lagii" ucap Diko sambil berjalan mondar mandir seperti orang yang sedang panik.
"Nah makanya Mas, aku juga bingung. Aku juga dapet kabarnya barusan. Terus aku juga bingung gimana bilangnya ke Papa Mama" jawab Tia yang mulai menangis bagai anak kecil.
"Udah kamu jangan nangis, itu ga menyelesaikan masalah. Kita coba ngomong ke Papa Mama, mudah-mudahan mereka bisa ngerti dan ijinin kamu nikah duluan ngelangkahin Mas" ucap Diko memberikan solusi.
"Lha terus kalo Papa Mama tetep keukeuh Mas Diko harus nikah duluan gimana? Ya masa aku sama Mas Reza mesti nunggu setahun lagi mas, ini tuh udah tahun ke sepuluh pacaran" jawab Tia yang semakin menangis persis anak-anak yang kehilangan permennya.
"Yaudah, Papa Mama mana?" tanya Diko.
"Di bawah lagi sarapan" jawab Tia di sela tangisnya.
"Yaudah ayo ke bawah, kita obrolin pake kepala dingin mudah-mudahan ketemu solusinya" ujar Diko sambil membuka pintu kamarnya.
"Udah jangan nangis terus kamu, lap dulu tuh air matanya" lanjutnya.
__ADS_1
Tia mengangguk sambil mengelap air mata dengan punggung tangannya.
Mereka berdua bergerak turun menyusuri anak tangga, terdengar suara Pak Ridwan dan Bu Hesti yang sedang mengobrol sambil sarapan.
Melihat kedua anaknya turun, Bu Hesti pun menawarkan untuk segera sarapan, "Eh udah pada turun, ayo sarapan dulu sayang."
"Weekend gini ga kemana-mana?" lanjut Bu Hesti bertanya karena melihat kedua anaknya masih menggunakan baju rumahan.
"Ga ma, paling nanti jam 10 aku ke kantor ada kerjaan" jawab Diko.
"Kamu kerja terus, sesekali istirahat refreshing biar ga stress" ucap Pak Ridwan.
Diko hanya cengengesan saja menanggapi ayahnya.
"Sarapan dulu" ucap Diko sambil menyenggol kaki Tia.
Tia terkejut kemudian mengangguk. Tetap di sendoknya nasi goreng yang ada di atas meja walaupun tak ada sedikitpun selera makannya saat ini.
Diko mencoba untuk terus mengobrol dengan Papa Mamanya guna untuk mencairkan suasana dan membangun mood orang tuanya. Ia berharap jika mood orang tuanya bagus, maka misi mereka akan berjalan lancar.
__ADS_1