
"Kamu udah gila ya?" teriak Riana pada Pramudya yang masih shock.
Ia tak bisa menjawab sepatah kata pun. Ia tak menyangka akhirnya Diko dan Riana bisa melihat video aslinya.
Diko yang masih emosi berusaha menggapai kerah baju Pramudya. Ia ingin sekali lagi menghajar lelaki yang telah berani mencuri kesempatan dengan istrinya itu.
Namun hal itu di cegah oleh karyawan Pramudya.
"Tenang Pak, tenang dulu Pak" ucapnya berusaha menenangkan Diko ketika beberapa karyawan lain yang mendengar ada keributan masuk ke dalam ruangan tersebut untuk melihat apa yang sedang terjadi.
"Diam kamu! Kamu juga bersekongkol dengan dia untuk memotong videonya!" ucap Diko penuh emosi.
Riana dengan cepat menarik Diko sebelum semakin ramai orang yang melihat.
"Kami akan laporkan ke polisi, tunggu saja surat panggilannya" ucap Diko sambil menunjuk batang hidung Pramudya dan karyawannya itu kemudian keluar.
Riana yang juga shock dengan fakta yang baru saja ia ketahui tadi, sekarang ia juga punya beban untuk menenangkan Diko. Ia sangat hapal tipikal suaminya yang sulit untuk menurunkan emosi. Terlebih saat ini ia akan berkendara, Riana benar-benar khawatir.
"Mas, aku aja yang nyetir" ucap Riana ketika sampai di parkiran.
"Ga usah, aku aja" ucap Diko menolak.
"Mas" ujar Riana sambil meraih kunci mobil yang ada dalam genggaman Diko.
__ADS_1
"Kamu duduk aja ya, biar aku yang nyetir" ucapnya lagi.
Dengan pasrah Diko mengiyakan permintaan Riana. Ia membiarkan Riana duduk di bangku kemudi.
Sepanjang perjalanan keduanya hanya bisa diam dan bercengkrama dengan pikiran masing-masing. Tak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut keduanya.
Diko benar-benar hancur. Ia tak menyangka bahwa balasan karma yang di dapatnya karena dulu suka main perempuan belum juga selesai. Ia mengira sudah bisa hidup tenang dan bahagia saat ini. Namun semua tak seperti yang ia harapkan.
Namun di balik hati Diko yang hancur, Rianalah yang lebih merasa tersakiti. Di satu sisi ia sungguh kecewa dan marah dengan perbuatan Pramudya. Tetapi di sisi lain ia punya rasa kasihan, apalagi saat tadi Pramudya tersungkur tak berdaya karena di hajar Diko.
Bagaimanapun Riana kecewa dan marah saat ini, ia tahu itu tak akan menyelesaikan masalah. Semua akan menjadi lebih rumit bila dihadapi dengan emosi. Selain itu, ada kesedihan yang menjalar dalam dirinya. Kenapa semua ini harus terjadi padanya.
Sesampainya di rumah, keduanya langsung masuk ke dalam kamar. Bi Yum yang sedang mengelap kaca jendela hanya bisa tercengang, suami istri itu kompak masuk ke dalam rumah tanpa sepatah kata pun, bahkan keberadaan Bi Yum di depan jendela pun seolah tak tampak oleh mereka.
Bi Yum mencium bau-bau tak mengenakkan. Ia menebak ada masalah yang sedang di emban kedua majikannya itu.
Diko yang baru saja melepaskan dasinya itu langsung mendekati istrinya.
Diko meraih tubuh Riana ke dalam pelukannya.
Mereka hanya bisa berpelukan dan membisu.
Air mata Riana menetes tanpa di sadari. Ia bisa merasakan ketulusan Diko. Emosi yang ditunjukkannya terhadap Pramudya tadi pun merupakan wujud dari rasa sayangnya pada Riana. Ia juga begitu menghargai Diko dengan segala usahanya sampai semua ini terbongkar.
__ADS_1
"Aku akan melindungi kamu, aku janji. Aku minta maaf sayang, mungkin ini terjadi karena kelalaianku" ucap Diko akhirnya.
...***...
Hari itu juga, Diko langsung menghubungi Ferdy dan tim pengacaranya untuk segera melayangkan laporan atas kasus ini.
Diko ingin kasus ini segera bergulir. Biar semua orang tahu kelakuan busuk Pramudya.
"Mas, kamu yakin akan membawa kasus ini ke ranah hukum?" tanya Riana meyakinkan Diko.
"Kamu sebagai korban di sini menurut kamu gimana?" tanya Diko.
"Aku marah, aku kecewa, tapi aku tak ingin ini menjadi panjang. Aku tak ingin berlama-lama memikirkan kasus ini Mas, aku ingin tenang" jawab Riana.
"Tapi kalau kasus ini hanya dibiarkan begitu saja, nanti dia bisa makin besar kepala. Dikirannya kita melepaskannya begitu saja tanpa ada tindakan apapun. Tidak ada efek jera untuk dirinya" ucap Diko memberi pandangan.
"Tapi kalau kita selesaikan dengan hukum, setelah itu apa lagi Mas?" tanya Riana.
"Maksud kamu?" tanya Diko tak mengerti.
"Setelah nanti kasus ini di tanyani polisi, kemudian Pramudya di hukum, terus apa? Apa itu kepuasan untuk kita melihat dia di hukum?" tanya Riana.
"Hukuman itu tidak menjamin akan memberi efek jera Mas, banyak orang yang sudah di hukum ujung-ujungnya melakukan kesalahan yang sama" lanjut Riana.
__ADS_1
"Kalau penyesalan itu bukan datangnya dari hati sendiri, maka itu belum penyesalan sesungguhnya" lanjut Riana lagi.
"Tapi laporannya sudah masuk ke kepolisian" ucap Diko.