Tamu Hati Tak Diundang

Tamu Hati Tak Diundang
BAB 14


__ADS_3

Riana sedikit heran dengan sikap Diko yang mendadak manis, tidak jutek seperti kemarin-kemarin. Tapi sejujurnya Riana senang dengan kehadiran Diko sore ini.


Setelah selesai mandi dan berpakaian, Riana pun keluar dari kamarnya. Terlihat Diko yang masih duduk menunggu kemudian berdiri karena kehadiran Riana.


Diko memperhatikan Riana dari ujung rambut hingga ujung kaki, entah kenapa jantungnya berdegub lebih kencang dari biasanya.


Riana terlihat fresh dengan balutan dress jeans selutut yang dipadukan dengan sandal teplek berjenis strappy membuat tampilannya terlihat santai dan segar.


"Udah siap? yuk" ajak Diko pada Riana yang terlihat sedang mengunci pintu kamarnya.


"Yuk," jawabnya sambil berjalan beriringan.


Di dalam mobil, mereka terlihat masih canggung dan tidak banyak bicara. Keduanya masih bingung mau ngobrol apa.


"Ri, kamu ada ide ga makanan yang enak sekitaran sini?" tanya Diko memulai obrolan.


"Hmm, apa ya.. Banyak sih sebenarnya," jawabnya sambil melihat ke kiri dan dan ke kanan.


"Mau coba makan di restoran shabu di depan situ ga?" tanya Riana sambil menunjuk ke arah kanan depan jalan.


"Kalau menurutku sih enak banget" lanjutnya.


"Wah boleh, aku belum pernah coba yang di sini" jawab Diko girang.


Diko pun memarkirkan mobilnya di parkiran restoran tersebut. Terlihat cukup ramai karena waktu menunjukkan jam makan malam. Namun beruntungnya masih ada beberapa tempat yang masih kosong.


Mereka pun segera masuk dan memilih tempat duduk yang nyaman untuk mereka. Tak lama kemudian seorang waitress datang membawa sebuah buku menu.

__ADS_1


Diko dan Riana langsung memilih beberapa menu shabu mereka dan minuman segar untuk melengkapi makan malam mereka saat itu.


Sambil menunggu pesanan mereka datang, Diko terlihat berpikir untuk mencoba membuka obrolan kembali.


"Hmm, Ri, kamu kerja di mana selain ngajar di Unphar?" tanya Diko mencairkan suasana.


"Aku kerja di Graha Cipta, bagian keuangan" jawabnya sambil tersenyum.


"Ooh, aku tahu gedungnya ga jauh dari sini" ujar Diko yakin.


Riana mengangguk mengiyakan.


"Hebat kamu bisa kerja di perusahaan segede itu, bagian keuangan pula" puji Diko.


"Kamu lebih hebat, bisa bikin perusahaan arsitektur sendiri" balas Riana.


Riana tertawa melihat Diko yang keheranan.


"Dulu Pak Ridwan pernah cerita tentang itu dan aku masih ingat" jawab Riana jujur.


"Ah tapi belum besar banget Ri, masih perlu kerja keras supaya lebih besar lagi" jawab Diko merendah.


"Harus tetap bersyukur dong, ya kan?" ucap Riana mengingatkan Diko.


Diko tersipu dan tersenyum mendengar perkataan Riana.


Tak lama kemudian, datang seorang waiter mengantarkan bahan-bahan shabu yang telah mereka pesan.

__ADS_1


Mereka berdua pun terlihat sibuk memasak bahan shabu-shabu sambil sesekali mengobrol dan bercanda. Sepertinya suasana di antara terlihat sudah cair dan mengalir begitu saja.


Setelah setengah jam berlalu, mereka berdua telah menyelesaikan makan malam.


"Duh, kenyang banget aku Ri. Beneran enak banget ini shabunya, ga salah pilih kamu" ujar Diko sambil mengelus perutnya yang membuncit.


Riana tertawa melihat ekspresi Diko yang kekenyangan.


"Oh iya, hmmm.. kamu umurnya, hmm maksud aku.. Aku ga enak nih 'aku kamu' doang, takut ga sopan," ujar Riana penasaran.


"Aku 30 jalan 31 tahun. Udah tua yak" jawab Diko sambil cengengesan.


"Tuhkan aku ga sopan dari tadi panggilnya kamu kamu melulu" ujar Riana tak enak hati.


"Santai aja Ri, kamu bisa panggil aku apa aja. Kalau di rumah adikku panggil aku Mas Diko" ucap Diko.


"Ooh yaudah, biar ga aneh, aku panggil Mas aja kali ya" ucap Riana tersipu.


Diko tersenyum melihat ekspresi Riana. Ia tahu Riana masih canggung dengan dirinya. Mungkin karena awal pertemuan mereka yang kurang baik.


'Tapi benar kata Joe, dengan bersikap baik pada perempuan, perempuan tersebut juga akan bersikap baik pada kita' bathin Diko.


Ia pun sedari tadi merasa Riana adalah Riana yang berbeda dengan pertemuan mereka sebelumnya. Riana yang seperti ini lebih cantik dan manis di hadapannya.


Diko menyadari bahwa Riana orang yang baik dan rendah hati. Tak heran ayahnya mengenalkan dirinya pada Riana. Ia kini tahu alasan kenapa ayahnya memilih Riana di antara banyak dosen single yang lain.


Tapi sampai saat ini ia masih mencoba. Semoga hatinya kian terbuka untuk Riana.

__ADS_1


__ADS_2