
Diko memarkirkan mobilnya di parkiran kos Riana. Ia sengaja main ke kostan Rio untuk bertemu Riana. Namun karena gengsinya yang masih tinggi, ia berpura-pura main ke kamar Rio, padahal niat awalnya yaitu mencoba untuk bertemu dengan Riana.
Ia setuju dengan omongan Joe tadi pagi, cocok atau pun tidak, seenggaknya Diko sudah mencoba membuka hatinya untuk berkenalan lebih jauh dengan Riana. Ia pun tahu bahwa waktunya tak banyak, ia harus segera tahu lebih dalam tentang Riana.
Jika memang tak cocok, ia bisa segera memberitahu ayahnya dan bernegosiasi untuk tetap melaksanakan pernikahan Tia tanpa perlu menunggunya menikah terlebih dahulu.
Entah kenapa ia tak berani berharap banyak. Dan ia pun tidak tahu kenapa hatinya masih saja membeku dan susah untuk membuka hati pada wanita. Padahal sebenarnya ia pun tahu bahwa umurnya tak lagi muda. 30 tahun adalah umur yang sudah sangat pantas untuk menikah bagi laki-laki di Indonesia. Apalagi dirinya terbilang sudah mapan, pekerjaan sudah settled, ia pun sudah memiliki rumah sendiri walaupun sampai saat ini belum ditempatinya, kendaraan pribadi pun sudah dimilikinya.
Setelah obrolannya dengan Joe, Diko jadi sadar bahwa pernikahan itu bukan hanya standart kebahagiaan orang tua, tapi juga untuk pasangan yang menikah tersebut.
Saat itu ia menganggap bahwa ia menikah untuk kebahagiaan orang tuanya, namun kini ia berpikir bahwa tak cuma orang tuanya saja yang bahagia jika ia menikah, ia juga harus bahagia atas pernikahan tersebut.
Diko melangkahkan kaki turun dari mobilnya. Dilihatnya ke sekitar, ia berharap bertemu Riana. Sampai di depan kamar Riana, sengaja dipelankan langkahnya agar bisa sambil melirik ke dalam kamar.
__ADS_1
Di lihatnya ke dalam kamar lewat gorden jendela kaca yang terbuka, terlihat sepi.
'Sepertinya Riana belum pulang kerja,' ucapnya dalam hati.
Diliriknya jam tangannya, ternyata pukul 16.30 WIB. Ia pun langsung menuju ke kamar Rio yang hanya berjarak beberapa kamar dari kamar Riana.
Ia dan Rio telah berteman sejak lama. Sejak SMA, tepatnya. Namun saat kelas 2 SMA, Rio dan keluarganya pindah ke Surabaya. Sekitar dua tahun lalu, Rio kembali ke Jakarta untuk bekerja.
Diko telah sampai di depan kamar Rio. Ia mengetuk pintu kamar dan tak lama terdengar suara sahutan Rio dari dalam.
"Eh, bro. Ayo masuk. Kemana aja lu udah lama ga kesini" ucap Rio mempersilahkan Diko untuk masuk.
"Iya, lagi banyak kerjaan" jawabnya sambil membuka sepatunya dan meletakkannya di depan pintu kamar Rio.
__ADS_1
Kemudian Diko pun masuk dan langsung berbaring di kasur milik Rio seperti yang selalu ia lakukan jika datang ke kostan Rio.
Diko tidak bilang pada Rio bahwa tujuannya yaitu bertemu Riana. Apalagi bercerita tentang ayahnya yang menjodohkan mereka. Ia belum mau banyak orang yang tahu tentang hal itu.
Sambil mengobrol dengan Rio, matanya pun terasa begitu berat. Ia mengantuk dan tertidur.
Rio yang melihat Diko tertidurpun hanya tersenyum.
'Mungkin Diko kecapean ingin istirahat,' pikirnya dalam hati.
Dibiarkannya Diko tertidur begitu pulas di kamarnya. Ia pun menghidupkan laptopnya dan melanjutkan pekerjaannya.
Sampai pukul 18.00 Diko pun masih terlelap dan lupa akan tujuannya datang kesana.
__ADS_1