Tamu Hati Tak Diundang

Tamu Hati Tak Diundang
BAB 26


__ADS_3

Riana menyeret koper yang baru saja ia ambil di sudut bertuliskan baggage di arrival hall Bandar Udara Internasional Juanda, Surabaya.


Ia segera melangkahkan kakinya menuju pintu keluar. Sambil berjalan ia memeriksa ponsel yang baru saja ia aktifkan.


Ada pesan masuk dari Budhe Retno, kakak perempuan ayahnya. Dibacanya pesan tersebut dengan seksama.


'Ndhuk, nanti Dira yang jemput di bandara ya. Budhe tunggu di rumah'


Wajah Riana langsung berubah. 'Duh kenapa Dira sih yang jemput. Mending naik taksi aja kalau tau' bathinnya dalam hati.


Dira adalah anak dari Tante Risna, adik ayahnya. Sebenarnya ia dan Dira sebaya, hanya saja mereka tidak begitu dekat.


Pasalnya, sejak remaja Dira selalu merasa tersaingi oleh Riana dalam hal apapun yang membuat Dira selalu sinis padanya. Padahal dari kecil hingga beranjak remaja, mereka sangat akur dan dekat sekali. Mungkin karena circle pergaulan yang berbeda, membentuk karakter mereka yang berbeda pula.


Begitu berada di pintu keluar, Riana langsung notice dengan keberadaan Dira yang sedang duduk sambil memainkan ponselnya. Ia langsung mendekat ke arah sepupunya itu. Ya mau bagaimana lagi, Dira sudah terlanjur berada di sana membuat Riana tak bisa beralasan untuk tidak pulang bersamanya.

__ADS_1


"Dir," panggilnya.


Dira menoleh ke asal suara tersebut.


"Eh, udah sampe? Yaudah yuk" ucapnya sambil memasukkan ponselnya ke dalam tas, tas yang terlihat mahal, berlogokan huruf L dan V yang mungkin gaji Riana 1 tahun baru bisa membelinya.


Tanpa basa basi saling bertanya kabar atau apapun, kedua saudara sepupu itu langsung berjalan beriringan menuju parkiran dan masuk ke dalam mobil.


Terlihat Dira membuka pintu mobil berwarna putih bermerk Lexus yang Riana tahu dengan jelas harganya setara dengan sebuah rumah mewah.


Riana yang sadar diri langsung memasukkan kopernya dengan perlahan karena takut membuat lecet mobil Dira yang mahal itu. Dua atau tiga tahun gajinya pun belum tentu bisa membeli mobil itu.


Riana yang baru saja masuk dan duduk di samping Dira langsung menarik nafas panjang. Baruuu saja bertemu, Dira sudah menyebalkan menurutnya.


Riana yakin Dira mengira bahwa dirinya menikah mendadak karena hamil.

__ADS_1


"Iya, calon suamiku ga mau lama-lama. Ya namanya juga jodoh kan" jawab Riana dengan berusaha ramah.


"Oh iya, makasih ya Dir kamu udah mau repot jemput aku" ucap Riana basa basi.


"Iya tadi pagi Budhe telepon aku soalnya Bintang mendadak ada jadwal operasi" jelas Dira.


Riana pun mengangguk. Ia mengerti sekarang, seharusnya Bintang, anak kedua Budhe Retno lah yang menjemputnya. Berhubung Bintang ada jadwal operasi mendadak, jadi Budhe Retno minta tolong pada Dira. Ya, Bintang adalah seorang dokter yang sekitar setahun ini resmi menjadi dokter spesialis bedah. Ia praktek di salah satu rumah sakit di Surabaya.


Riana, Dira dan Bintang hanya terpaut beberapa bulan dari segi usia. Itu membuat sejak masa kecil hingga remaja mereka tumbuh bersama. Sampai akhirnya saat Riana kelas 1 SMP ayah Riana harus pindah ke Jakarta dan membuat mereka jarang bertemu.


Walau pada akhirnya saat Riana di bangku kuliah ayah dan ibunya kembali pindah ke Surabaya, Riana dan sepupunya masih saja jarang bertemu sebab ia kuliah di Jakarta.


"Kamu masih kerja di perusahaan property yang dulu?" tanya Dira sambil fokus pada jalanan.


"Iya, dari awal kerja sampai sekarang aku belum pindah, masih betah di sana" jawab Riana jujur.

__ADS_1


"Ooh, betah ya kamu kerja kantoran" ujar Dira.


"Kalau aku sih kayanya ga betah. Capek, hasilnya juga belum tentu sebanding sama kerjaan kita" lanjutnya.


__ADS_2