
Setelah puas satu minggu menjalani bulan madu mereka, tiba saatnya keduanya pulang ke tanah air. Ingin rasanya menunda kepulangan, namun tiket pesawat telah dipesan dan Diko harus kembali bekerja.
Namun sebelum pulang ke Jakarta, keduanya menyempatkan diri untuk mampir sehari ke Surabaya mengunjungi keluarga Riana. Karena sudah lama mereka tidak bertemu.
Berbeda dengan keberangkatan mereka yang penerbangan malam, untuk kepulangan mereke menggunakan penerbangan siang.
Pagi harinya, Diko masih terlihat memeluk Riana dengan begitu erat. Riana yang masih tertidur dapat merasakan tangan suaminya yang melingkar erat di pinggangnya.
Ia dan Diko sudah merasa telah melakukan yang terbaik untuk honeymoon mereka, keduanya hanya bisa berharap semoga ini membuahkan hasil. Diko merasa sudah semaksimal mungkin mengerahkan upayanya untuk membuat istrinya hamil. Ia berdoa ada kabar baik setelah kepulangan mereka ini.
"Sayang" panggil Diko tepat di samping telinga Riana.
Riana yang kegelian berusaha untuk bangun dan membuka matanya.
"Hmmm" sahutnya pelan.
"Aku masih mau kita di sini" ucap Diko.
"Aku juga" jawab Riana.
"Rasanya bulan madu kita cepat sekali berakhir" ucap Diko kemudian.
Riana membalikkan badannya dan berbaring di hadapan Diko.
__ADS_1
Kemudian Riana mengangguk setuju.
"Sepertinya kita harus merencanakan liburan selanjutnya" ujar Diko.
Riana juga mengangguk setuju.
"Mudah-mudahan liburannya bukan honeymoon lagi, tapi babymoon" ucap Riana.
Diko tersenyum bahagia sambil mengaminkan doa istrinya itu.
Melihat jam yang sudah menunjukkan pukul 8 pagi, Riana bergegas untuk bangkit dan berniat mandi.
"Ayo Mas, kita siap-siap. Mandi terus beres-beres dan check out" ucap Riana sambil bangkit dari tempat tidur.
Ketika akan masuk ke dalam kamar mandi, Riana terkejut saat tersadar bahwa Diko ada di belakangnya.
"Kan kamu yang ajak tadi. Yuk kita siap-siap, mandi terus beres-beres, begitu tadi yang kamu bilang kan?" ujar Diko dengan wajah sok polos.
"Iya maksud aku ga bareng juga. Ya gantian gitu maksudnya" jawab Riana sambil memukul pelan dada suaminya.
"Ah pokoknya kamu harus tanggung jawab. Kamu yang ajak kok tadi. Ya berarti kita harus mandi bareng" jawab Diko yang membuat Riana semakin mengeryitkan dahinya.
"Biar efisien sayang, hemat waktu" tambah Diko.
__ADS_1
"Bukannya hemat waktu, malah makin lama kalau mandi bareng kamu" ucap Riana sambil mendorong tubuh Diko agar menjauh dan membiarkannya masuk ke dalam kamar mandi.
"Ah ga apa-apa. Aku bisa cepet kok" jawab Diko merayu.
Riana menggeleng dan mendorong tubuh Diko lenih keras.
"Ah lama banget" ucap Diko gemas.
Diko dengan tenaganya yang pasti lebih besar dari Riana langsung mengambil tindakan.
Ia menunduk kemudian satu tangannya merangkul pundak Riana, dan satu tangannya lagi meraih pinggul istrinya. Digendongnya Riana agar tak ada lagi penolakan.
"Mas, apa-apaan ini?" seru Riana.
Diko yang tak menjawab malah mendorong pintu kamar mandi dan memboyong istrinya masuk.
"Mas, waktu kita mepet lho" teriak Riana yang khawatir kalau mereka telat gara-gara adegan mandi bareng pagi ini sambil berusaha melepaskan diri.
Diko tetap tak mengeluarkan suara, dengan langkah pasti ia terus masuk ke dalam kamar mandi tanpa menggubris istrinya. Ia terus melangkah sambil senyum-senyum penuh kemenangan.
"Mas" panggil Riana sambil memukul pundak suaminya.
"Maaas, maas" teriaknya sambil terus berusaha melepaskan diri.
__ADS_1
Namun sayangnya usaha Riana tak membuahkan hasil. Diko dengan pelan membaringkan tubuh Riana ke dalam bath up.
Sepertinya memang tak bisa ia mencegah niatan lelaki di hadapannya ini. Riana sepertinya memang harus pasrah. Ia hanya bisa berharap mereka tidak terlambat pergi ke bandara karena mandi bareng pagi ini.