
Pagi itu Riana terbangun di pelukan Diko, ia melihat sekelilingnya sudah berantakan.
Sprai di tempat tidurnya sudah entah berbentuk seperti apa, bantal berserakan di bawah, serta pakaiannya dan Diko yang sudah tergeletak di sembarang arah. Ia ingat tadi malam habis terjadi pertempuran yang harusnya terjadi hampir dua bulan lalu. Tetapi banyak drama yang muncul di awal pernikahan mereka hingga mereka baru bisa merasakan malam pertama setelah hampir dua bulan menikah.
"Kamu udah bangun?" tanya Diko yang juga baru saja terbangun dari tidurnya.
"Hmm" jawab Riana sambil merenggangkan tubuhnya.
"Badan aku sakit semua" keluhnya.
Bukannya prihatin, Diko malah tersenyum nakal.
"Kamar kita juga udah kayak habis diterpa badai" ucap Riana sambil duduk dan celingukan memandang kondisi kamarnya.
"Ga apa-apa. Ga usah diberesin. Ntar malem juga berantakan lagi" jawab Diko santai.
Riana menjitak kening Diko sambil tersenyum mendengar jawaban suaminya itu.
Diko menarik tubuh Riana kembali ke pelukannya.
"Makasih ya sayang, kamu udah percaya sama aku, dan kita udah jadi suami istri yang sesungguhnya" ucap Diko yang makin memeluk istrinya dengan erat.
"Iya Mas, mudah-mudahan apapun ujian di dalam pernikahan kita, akan bisa kita lewati bersama" jawab Riana sambil mencium mesra pipi Diko.
__ADS_1
"Aku mandi dulu ya Mas," ucapnya sambil melepaskan pelukan Diko.
Diko mengikuti langkah Riana dari belakang, kemudian menangkap tubuhnya dengan gemas.
"Kita mandi bareng ya, boleh kan?" tanya Diko menggoda.
"Mas, kita kan mesti ke kantor. Kalau mandi bareng, aku yakin pasti jadi lama" jawab Riana yang tahu maksud suaminya.
"Ga apa-apa. Sebentaar aja" jawab Diko kemudian tanpa menunggu persetujuan Riana langsung menarik istrinya itu masuk ke dalam kamar mandi.
Bersama suara gemericik air yang turun dari shower terdengar pula suara desahan keduanya. Seperti tak puas-puasnya menikmati tubuh satu sama lain.
Bagaikan kedua sejoli yang sedang dimabuk asmara, keduanya tak ingat lagi dengan waktu kerja yang sudah mepet. Yang mereka tahu hanya tentang kenikmatan yang membuat keduanya ketagihan ingin mengulang dan mengulang kembali.
Karena waktu yang sudah mepet, Riana tidak sempat lagi membuat sarapan. Bahkan untuk untuk bermakeup pun ia tidak sempat, mau tak mau ia harus berdandan di dalam mobil.
"Mas nanti aku delivery-in kamu sarapan aja ya" ucapnya sambil memakai maskaranya di mobil dengan tergesa-gesa.
"Iyaaa" jawab Diko yang fokus menyetir untuk segera sampai di kantor Riana.
"Kamu sih," ucap Riana menyalahkan Diko atas keterlambatan mereka hari ini.
"Lho kok aku sih?" tanya Diko tak terima.
__ADS_1
"Ya abisnya siapa yang ajak tadi?" tanya Riana sambil berpaling dari cermin bedaknya melihat ke arah Diko.
"Lho, aku kan tadi mau udahan pas selesai yang pertama, tapi kamu yang minta lagi" jawab Diko mengingatkan istrinya.
Wajah Riana bersemu merah mengingat bahwa ia yang tak ingin cepat-cepat selesai.
"Yaaa, tapi kan itu karena kamu yang ajak duluan. Coba aja tadi kita ga mandi bareng, pasti ga telat" ujarnya tetap tak ingin disalahkan.
"Udah deh sayang, ga usah malu-malu. Bilang aja ketagihan, ya kaan?" goda Diko sambil mengacak rambut Riana dengan lembut.
Riana mencubit pinggang Diko gemas.
"Gimana? Kita balik arah pulang ke rumah lagi aja apa?" tanya Diko sambil berpura-pura memelankan laju mobilnya.
"Kalau aku sih ga apa-apa kalau ga ngantor hari ini" goda Diko lagi sambil melirik Riana.
"Atau kita ke hotel aja?" tanya Diko terus menggoda Riana.
"Enak kali ya sekali-sekali bolos ngantor, kelonan bareng istri" lanjutnya.
"Maaaas!" ucap Riana sambil mencubit lengan Diko dengan geram karena terus saja menggodanya.
Diko terkekeh puas melihat Riana yang keki karena ulahnya.
__ADS_1