Tamu Hati Tak Diundang

Tamu Hati Tak Diundang
BAB 142


__ADS_3

"Tapi Bi, aku pasti bakal bosen kalau harus di kamar terus" rengek Riana.


"Yaah jangan gitu Bu. Ibu nonton TV atau Youtube aja gitu biar ga bosen. Soalnya tadi Bapak sudah pesen ke Bibi kalau Ibu ga boleh banyak kegiatan. Nah kalau ibu ga nurut nanti bisa-bisa Bibi yang dimarahin Bapak" ucap Bi Yum dengan aksen khas sundanya yang kental.


"Serius Bi? Bapak sampai pesen ke Bi Yum begitu?" tanya Riana yang hendak memasukkan sepotong sosis ke mulutnya.


Bi Yum mengangguk mengiyakan.


"Yaudah deh Bi, aku bakal usahakan untuk ga ngapa-ngapain" jawab Riana cemberut.


Bi Yum pun segera kembali ke dapur untuk melanjutkan pekerjaannya.


Belum sampai satu jam Diko berangkat kerja. Tiba-tiba ponsel Riana berdering, tampak sebuah panggilan video call dari Diko.


"Hmmm" jawab Riana sambil mengunyah buah potong yang baru saja di bawakan Bi Yum.


"Kamu lagi apa?" tanya Diko penasaran.


"Nih, lagi rebahan sambil makan buah" jawab Riana sambil merubah angle kameranya agar Diko dapat melihat aktivitas yang tengah ia lakukan.


"Good girl" ucap Diko sambil tersenyum puas.


"Kok istriku ini cemberut sih? Lagi ngambek ya?" tanya Diko saat melihat Riana yang manyun.


"Masa aku ga boleh ngapa-ngapain" rajuk Riana yang enggan melihat ke arah kamera.


Diko tersenyum melihat istrinya yang tengah merajuk itu.


"Aku ga bermaksud apa-apa sayang. Coba kamu istirahat dulu beberapa hari ini, anggap saja ini sebagai bentuk sebagian kecil usaha kita agar segera punya anak. Sabar ya sayang ya" bujuk Diko agar istrinya itu tak sebal padanya.


"Tapi sepertinya ini berlebihan Mas. Seharian di kamar kayak orang sakit, aku ga terbiasa" ucap Riana kesal.


"Tanaman udah seminggu ditinggal, aku mau ngecek tanaman boleh ya, please" rayu Riana ke suaminya itu.


"Kan ada Bi Yum, pasti udah di siram" jawab Diko.

__ADS_1


"Ya tapikan Bi Yum kerjaannya bukan cuma itu Mas, itu udah banyak daun yang kuning-kuning kan mesti dipotongin biar bagus" lanjut Riana lagi.


"Kamu ini ya, beneran deh susah diatur banget. Kali ini nurut ya sayang" jawab Diko yang masih keukeuh dengan aturannya.


"Kalau tanamannya nanti kuning semua gimana?" tanya Riana kesal.


"Yaudah ga apa-apa, biar halaman kita ganti suasana yang biasanya hijau jadi kuning. Kan bagus, jd cerah gitu suasana tamannya kuning kuning" jawab Diko yang makin membuat Riana keki setengah mati.


"Yaudah ya sayang, aku kerja dulu. Kamu istirahat ya" ucap Diko yang tanpa menunggu jawaban Riana langsung memutuskan sambungan video call nya.


Riana langsung menghentak-hentakkan kakinya geram karena kebiasaan Diko yang kalau sedang membuatnya kesal kemudian langsung menghilang begitu saja.


"Sebel!" ucap Riana sambil mengambil potongan melon dan memasukkannya ke dalam mulut serta mengunyahnya dengan kasar untuk melepaskan rasa kesalnya.


Tak lama kemudian, Bi Yum masuk lagi kamar Riana sambil membawakan yoghurt.


"Bi Yuuum, ini apa lagi?? Buah tadinaja belum abis" ucap Riana.


"Kata Bapak, Bibi harus sering-sering bawain Ibu makanan sehat" ucap Bi Yum jujur.


Riana mengambil sendok dan mencicipi yoghurt yang dibawakan oleh Bi Yum.


"Enak" ucapnya dengan mata berbinar.


"Sini Bi yoghurtnya, enak" ucap Riana sambil mengambil yoghurt yang dibawakan Bi Yum.


Riana terlihat asyik menikmati makanannya, bolak balik ia menaruhkan potongan buah dan menyantapnya sekaligus.


Bi Yum hanya bisa menggelengkan kepalanya. Ia heran pada majikannya ini, padahal tadi kayak ga mau. Eh sekarang malah lahap.


Melihat Riana yang fokus dengan yoghurtnya, Bi Yum pun kembali ke dapur.


...***...


Riana terbangun setelah merasakan ada kecupan lembut di pipinya. Dilihatnya Diko duduk di dekatnya dengan masih berpakaian kerja lengkap.

__ADS_1


Riana melirik jam dinding ternyata masih pukul setengah satu siang.


"Kok kamu udah pulang Mas?" tanya Riana heran.


Diko tersenyum manis sambil membelai rambut istrinya.


"Aku makan siang di rumah biar bisa nemenin kamu. Biar kamu ga bosen sendirian di kamar. Nanti setelah makan siang aku balik lagi ke kantor" ucap Diko.


Riana sontak memeluk pinggang Diko. Di tenggelamkannya wajahnya ke dada suaminya itu.


"Kamu bikin aku sebel" rengeknya.


Tanpa menjawab, Diko hanya mengelus-elus punggung Riana dengan lembut.


Entah kenapa kalau ia sedang suntuk, sedih, marah,dan banyak pikiran ia selalu ingin memeluk Diko. Aroma maskulin khas lelaki hasil wangi parfume yang bercampur dengan keringat selalu bisa membuatnya nyaman dan tenang.


"Yuk kita makan sayang. Aku bawain bento kesukaan kamu" ucap Diko sambil menunjukkan plastik bungkusan bento yang telah dibelinya.


Tercium aroma yang begitu enak yang membuat siapa saja yang menciumnya menjadi lapar. Riana langsung luluh dan mengangguk.


Dalam hati ia merutuki dirinya sendiri kenapa harga dirinya hanya sebatas bento dengan mudahnya ia luluh pada Diko.


Setelah selesai makan, Riana mengambil ponselnya dan mengecek aplikasi untuk mencatat tanggal menstruasinya. Tertera prediksi tanggal tamu bulanannya yaitu hari ini.


Riana cukup deg-degan setelah melihatnya, ia takut kalau hari ini darah haidnya akan keluar dan menandakan bahwa ia tidak hamil.


Dalam hatinya langsung berdoa agar Tuhan segera memberi mereka kepercayaan untuk memiliki anak.


"Ada apa sayang?" tanya Diko saat mendapati wajah Riana yang serius.


Riana langsung tersenyum seolah tak ada apa-apa.


"Ga apa-apa Mas, ini, hmm, aku, aku lagi baca berita online" jawab Riana berbohong.


Ia tak ingin Diko ikut-ikut kepikiran dan deg-degan seperti dirinya. Ia tak ingin mengecewakan Diko setelah segala usaha yang telah dilakukannya.

__ADS_1


__ADS_2