
Seorang supervisor supermarket tersebut yang kebetulan ada di sana langsung berinisiatif menyuruh Bi Yum untuk membantu Riana duduk di ruangan kantor agar lebih tenang.
Bi Yum segera membantu Riana untuk berdiri. Dengan masih menutup wajahnya Riana bangkit dengan lemah dan dipapah oleh Bi Yum untuk masuk ke sebuah ruangan agar tak menjadi pusat perhatian pengunjung lain.
Sekitar 20 menit kemudian, Diko datang sambil berlari mencari keberadaan istrinya. Setelah menelepon Bi Yum menanyakan keberadaan mereka, ia langsung menuju ke ruangan yang di maksud.
Begitu melihat Diko, Riana langsung memeluk suaminya itu sambil menangis.
"Aku takut Mas" isaknya.
Diko mengelus punggung istrinya seraya menenangkan.
"Kamu aman sayang, tidak ada yang jahat sama kamu. Ada aku, ada Bi Yum juga di sini" ucap Diko.
Diko bertanya tentang kronologi kejadian tersebut pada Bi Yum. Kemudian Bi Yum menjelaskan apa yang terjadi.
"Bisa Bi Yum tunjukkan yang mana pramu iaga tadi?" tanya Diko.
Bi Yum mengangguk, kemudian melongok ke arah luar dan menunjuk seorang pramuniaga yang di maksud.
__ADS_1
Diko mengangguk paham. Sekarang ia mengerti mengapa Riana tiba-tiba ketakutan. Ternyata pramuniaga tersebut berpakaian serba hitam. Mulai dari sepatu hitam, celana serta baju hitam. Sepertinya pramuniaga yang sedang magang atau training karena pakainannya berbeda sendiri dengan pramuniaga lainnya.
"Sayang, itu hanya seorang pramuniaga, bukan orang jahat. Kamu lihat kan?" ucap Diko sambil menunjuk.
Riana masih tak mau melihat. Ia masih dalam kondisi yang belum stabil.
"Yuk kita pulang yuk" ucap Diko sambil merangkul istrinya perlahan.
Setelah berterima kasih pada supervisor yang telah memperbolehkan mereka berada di sana, mereka pun pamit dan pulang.
Di dalam mobil pun Diko tak henti-hentinya menenangkan Riana. Istrinya pun perlahan mulai bisa tenang dan kembali seperti semula.
"Kamu istirahat ya sayang. Jangan mikir yang macam-macam, ga ada orang yang berniat jahat sama kamu" ucap Diko menenangkan.
Diko merasa bersalah atas kejadian ini. Seharusnya ia belum mengizinkan Riana untuk pergi ke tempat umum tanpa dirinya. Ternyata Riana belum sepenuhnya pulih. Ia masih perlu didampingi agar tak terjadi hal seperti ini lagi.
"Maafkan aku ya sayang. Nanti kalau mau pergi-pergi, sama aku aja ya" ucap Diko.
"Kamu ga salah Mas" jawab Riana.
__ADS_1
"Pokoknya lain kali kalau mau pergi-pergi harus sama aku ya" ucap Diko sambil mengelus rambut Riana.
Riana mengangguk mengiyakan.
"Maafkan aku juga ya Mas. Seharusnya aku sadar diri dan ga pergi tanpa kamu" ucapnya merasa bersalah.
"Kamu jangan begitu. Kamu ga salah. Cuma mungkin waktunya belum tepat. Aku yakin kamu pasti bisa sayang" jawab Diko kemudian.
"Pelan-pelan aja. Aku yakin lama kelamaan kau pasti bisa. Kamu kuat" lanjut Diko.
Riana tersenyum kemudian mengangguk.
"Ya udah kamu istirahat ya supaya tubuh dan pikiran kamu rileks" ujar Diko.
"Makasih ya Mas" ucap Riana yang salut dengan suaminya yang benar-benar siaga itu. Selalu terdepan dalam melindunginya.
Diko tersenyum kemudian mencium kening istrinya itu dengan begitu mesra.
Di tungguinya sampai Riana tertidur, kemudian sebelum ia kbali ke kantor ia berpesan pada Bi Yum jika nanti Riana terbangun dan mencarinya.
__ADS_1