Tamu Hati Tak Diundang

Tamu Hati Tak Diundang
BAB 79


__ADS_3

Setelah puas mengobrol dan bercengkrama dengan teman-teman yang telah lama tak bertemu dengannya, Riana merasa benar-benar telah melepas rindunya dengan cerita-cerita nostalgia mereka waktu SMA.


"Aku ambil makanan sebentar ya Mas" bisik Riana pada Diko yang sedang mengobrol dengan teman Riana yang lainnya.


Kemudian Riana menghampiri deretan prasmanan yang menyediakan potongan buah segar, pancake, dan sosis panggang. Ia mulai mengisi piringnya dengan beberapa potong buah sampai akhirnya ia melirik Dira sedang berada di sampingnya yang juga terlihat sedang mengambil makanan.


Riana pura-pura tak mengenalnya seperti kemauan Dira tadi. Namun saat Riana hendak melangkahkan kaki untuk kembali bersama Diko dan teman-temannya, tiba-tiba gaunnya seperti tersangkut sesuatu yang membuatnya kesulitan untuk melangkah, Dira terjatuh berikut makanan yang sedang ia bawa.


Dengan sigap Diko berlari dan membantu Riana untuk berdiri.


"Kamu ga apa-apa sayang?" tanyanya sambil berusaha membantu Riana.


Riana mengangguk sambil menahan malu. Karena cukup banyak temannya yang melihat kejadian itu.


Diko langsung menatap Dira dengan tajam.


"Apa-apaan kamu? Ini ulah kamu kan?" bentak Diko sambil berusaha mengontrol suaranya agar tidak menarik perhatian orang.


Dira tersenyum sinis.

__ADS_1


"Kenapa tiba-tiba nuduh aku?" tanyanya seolah tak bersalah.


"Kamu kira aku ga lihat kamu tadi dengan sengaja menginjak gaun Riana?" ucap Diko geram.


"Sayang, udahh" ucap Riana menenangkan suaminya yang sedang tersulut emosi.


"Ga bisa sayang, orang kayak gini harus di kasih pelajaran biar ga kurang ajar" jawab Diko sambil menatap Dira dengan sinis.


Dira yang berniat pergi langsung ditahan oleh Diko.


Diko mencengkram pergelangan tangan Dira dengan erat kemudian dibawanya ke dekat lift. Riana mengekor dari belakang sambil kebingungan melihat apa yang akan di lakukan suaminya itu.


"Aku ga sengaja" jawab Dira sambil mengelus pergelangan tangannya yang sakit.


"Jangan berkelit kamu" ucap Diko tak percaya.


"Lihat tuh pacar kamu, dia cuma bisa liatin kamu aja dari jauh. Kenapa ga kesini nolongin kamu? Itu yang namanya prioritas?" sindir Riana.


"Udah deh Dir, kamu ga usah macem-macem. Reyhan itu takut setelah tahu kita sepupuan, karena apa? Karena dia takut aku membocorkan hubungan kalian dengan istrinya. Hanya aku yang pernah bertemu istrinya itu pun secara ga sengaja, teman-teman yang lain tidak pernah dia kenalkan. Kalau dia takut, berarti dia masih ga mau tinggalin istrinya. Dan siapa yang akan dia tinggalin?? Kamu!" ucap Riana kesal.

__ADS_1


"Udah deh Ri, kan aku udah bilang, ga usah urusin urusan aku. Urusin aja ni suami kamu si pecandu ini. Nasehatin orang udah kayak orang bener aja, suami sendiri tuh masih hobby maksiat" ucapnya sambil menatap Diko penuh kemarahan.


Diko tercengang mendengar ucapan Dira.


"Kenapa? Heran?" tanya Dira sambil tersenyum sinis.


"Aku kira pas kita ketemu di rumah Budhe Retno, kamu bakal ingat sama aku" lanjutnya sambil memandang tajam pada Diko.


Diko semakin memutar otaknya mencoba mengingat apakah ia kenal dengan Dira.


"Aku mantan pacarnya Romeo. Kita pernah ketemu di club, kamu sama teman-teman kamu lagi ngefly" jelas Dira lagi.


Diko mencoba mengingat-ingat, memang saat itu ia pernah dikenalkan oleh Romeo dengan pacarnya di sebua club malam. Romeo adalah temannya dulu saat masih terjerumus dalam lembah kemaksiatan. Namun ia sedikitpun tak mengingat bahwa wanita itu adalah Dira.


"Kalau saja Budhe Retno tahu siapa suami kamu, betapa kecewanya dia" sindir Dira sambil tersenyum puas kemudian berlalu meninggalkan Riana dan Diko yang masih saja terpaku.


Tak ingin Diko merasa terpojok terlalu lama, Riana mengelus punggung suaminya itu dengan lembut.


"Maas, udah. Ga usah didengerin omongan Dira. Anggap aja dia bukan orang waras" ucap Riana yang tahu bahwa Diko sedang shock.

__ADS_1


"Yuk kita pulang ya" ajak Riana sambil menarik lengan Diko menuju pintu lift.


__ADS_2