
"Iya Mas.." jawab Riana sambil menoleh kepada Diko.
"Kamu lagi sibuk?" tanya Diko yang tengah melirik ke arah laptop Riana yang sedang menyala.
"Oh, ga kok Mas.. Itu, tadi aku lagi ngerjain laporan tapi udah kelar kok. Santai aja.." jawabnya jujur.
"Hmmm Ri.." panggil Diko lagi.
"Iya Mas," jawabnya yang tahu arah dan maksud tujuan Diko.
"Hmm, Gimana, hmm" ucap Diko sedikit bingung.
"Hmm, gimana? Kamu udh pikirin jawaban yang kemarin? Apa kamu terima lamaran aku?" tanya Diko akhirnya.
Riana tersenyum mendengar pertanyaan Diko.
Jujur saat ini jantungnya berdegub kencang, terlebih melihat Diko yang sedang menatapnya begitu dalam.
"Mas Diko.." ucapnya.
Diko terlihat menyimak dengan seksama dan fokus. Ia tak mau terlewat sepatah kata pun dari mulut Riana.
"Aku terima lamaran Mas Diko" ucap Riana akhirnya.
Diko langsung tersenyum sumringah, ia lega luar biasa saat ini.
Langsung di genggamnya tangan Riana, dibawanya ke dadanya.
__ADS_1
"Makasih ya Ri, aku seneng banget. Makasih banget kamu udah mau terima aku" ucap Diko dengan masih menggenggam tangan Riana erat.
"Hmm, tapi Mas" lanjut Riana.
Wajah Diko langsung berubah,
Ia takut Riana menarik kata-katanya kembali.
"Aku sudah memberi tahu keluargaku. Memang kedua orang tuaku sudah tidak ada Mas, tetapi aku masih ada beberapa Pakdhe dan Budhe di Surabaya. Mereka senang dan bahagia mendengar niatan ini. Mereka juga tidak keberatan jika acaranya akan dilaksanakan dalam waktu dekat. Walaupun mungkin setelah akad nikah tidak ada resepsi yang terlalu besar karena ini semua mendadak, mungkin hanya mengundang keluarga dan kerabat dekat aja" jelas Riana lagi.
"Alhamdulillah," ucap Diko sambil tersenyum.
"Tapi Mas, walaupun mungkin ini terkesan terburu-buru, untuk tidak menghilangkan rasa hormat pada keluarga besarku, aku minta kamu dan keluarga kamu melamarku secara resmi di Surabaya sehari sebelum akad Mas. Kamu keberatan tidak?" tanya Riana.
"Tentu saja tidak, dan memang benar, aku dan keluargaku harus melamar kamu secara resmi di depan semua keluarga kamu" jawab Diko meyakinkan Riana.
"Besok aku akan berangkat ke Surabaya untuk mengurus semuanya, aku cuti beberapa hari dari kantor sampai selesai acara nanti" ucap Riana.
"Baik Ri, kamu berangkat duluan ya besok, besoknya hari Selasa aku menyusul dengan keluargaku. Mudah-mudahan bisa dilancarkan akad nikahnya hari Rabu" jawab Diko dengan tak melepas genggamannya sedikitpun.
"Sekali lagi terima kasih ya Ri, aku ga tau harus bilang apa lagi selain terima kasih ke kamu" lanjut Diko yang masih senang luar biasa. Saking leganya ia seperti menganggap bahwa Riana adalah pahlawan yang menyelamatkan dirinya dari kerumitan yang dialaminya ini.
"Iya Mas, aku juga berterima kasih ke kamu. Karena kamu sudah memilih aku" jawabnya.
"Ri, ini buat kamu" ucap Diko sambil mengeluarkan sesuatu dari saku celananya.
Riana keheranan karena Diko tiba-tiba memberinya sebuah kotak kayu kecil berbalut beludru berwarna biru tua.
__ADS_1
"Ini apa Mas?" tanyanya.
"Buka ya," ucap Diko.
Riana membuka kotak tersebut.
Seketika ia takjub melihat sebuah cincin berpermata berkilau yang sungguh indah dan manis. Ia pun terharu karena Diko menyiapkan ini untuknya.
"Aku pakaikan ya" ucap Diko sambil mengambil cincin tersebut dan menyematkannya pada jari manis Riana.
Riana benar-benar terharu dibuatnya.
"Makasih ya Mas" ucap Riana sambil menitikkan air mata bahagianya.
Diko langsung memeluk Riana, dielusnya punggung Riana dengan lembut.
Tak lama kemudian di lepaskannya, dilapnya air mata Riana yang masih bertengger di pipinya.
"Semoga semuanya lancar, semoga kita bisa membina rumah tangga yang sakinah ya Ri" ucap Diko.
Riana mengangguk dan mengaminkan.
"Oh iya Ri, kamu ganti baju sekarang, kita ke rumah ya ketemu Papa Mama dan Tia. Mereka harus tau hal ini" ucap Diko bersemangat.
"Iya Mas, tunggu sebentar ya" jawabnya sambil berdiri.
"Aku tunggu di luar ya" ucap Diko yang ikut berdiri dan segera bergegas keluar dari kamar Riana dan menunggu di kursi tamu yang berada di depan jendela kamar Riana.
__ADS_1