Tamu Hati Tak Diundang

Tamu Hati Tak Diundang
BAB 99


__ADS_3

"Jangan bohong kamu!!" ucap Diko penuh amarah.


"Sumpah, aku berani sumpah aku kenal beberapa orang dengan nama Riko. Tapi tak satupun yang sesuai dengan ciri-ciri yang kamu bilang. Aku ga bohong" jawab Dira lagi.


"Sebenarnya ini ada apa? Tolong jelaskan dulu, aku benar-benar ga ngerti" tanya Dira kemudian.


Kemudian Diko terdiam.


"Halo.. Mas Diko..Halo" ucap Dira di seberang telepon.


"Ada apa ini? Kenapa tiba-tiba kamu bertanya seperti ini seolah menuduhku telah melakukan sesuatu?" tanya Dira setelah tak ada jawaban dari Diko.


"Aku mohon Dira, aku tanya sekali lagi dan jawab dengan jujur. Apakah kamu kenal dengan orang yang aku sebutkan tadi?" tanya Diko dengan suara menahan tangis.


"Aku tidak kenal. Sumpah aku tidak kenal itu siapa. Dan jawab pertanyaanku ada apa ini?" ucap Dira ngotot.


Air mata Diko tumpah setumpah tumpahnya tanpa bisa ia bendung.


"Mas Diko, ada apa ini Mas? Jawab aku!" terdengar seperti suara panik di seberang sana.


"Riana" jawab Diko sesenggukan.

__ADS_1


"Ada apa dengan Riana?" tanya Dira penasaran.


"Aku tak bisa beritahu, maaf" jawab Diko kemudian mematikan panggilannya.


Sekitar setengah jam Diko berhenti dan menenangkan dirinya. Pikirannya benar-benar buntu. Bagaimana jika ia tak kunjung bisa mengungkap semua ini? Apakah ia harus mengikhlaskan kasus ini menguap begitu saja? Hatinya sungguh campur aduk rasanya.


Mengapa karma terasa begitu cepat datang padanya dan begitu pedih? Tapi sebejat-bejatnya ia dahulu, ia tak pernah memaksa teman wanitanya dulu untuk melakukan itu tanpa adanya suka sama suka. Ia tak pernah melakukan pemerkosaan. Tapi kenapa yang datang padanya justru seperti ini? Dan kenapa istrinya yang baru saja memulai hidup bahagia dengannya yang harus merasakan semua ini.


Di depan Riana ia harus bisa berpura-pura tegar dan seperti tak ada apa-apa. Padahal ia adalah salah satu orang yang sangat hancur karena kejadian ini, mentalnya begitu down. Tanpa sepengetahuan Riana ia pun sering menangis merenungi kejadian ini. Namun ia segera sadar, jika ia lemah, siapakah yang akan menguatkan istrinya di saat-saat seperti ini.


Setelah menenangkan dirinya dan mengelap sisa-sisa air mata yang ada di pipinya. Diko pun bergegas pulang ke rumah yang jaraknya tak begitu jauh dengan posisinya saat ini.


Sesampainya di rumah, ia bertemu dengan ibunya yang sedang mengurus tanaman.


"Udah Ma, Riana mana Ma?" tanyanya langsung.


"Lagi di dapur sama Bi Prapti" jawabnya.


"Yaudah aku masuk dulu ya Ma" jawabnya kemudian berlalu.


Diintipnya di dapur, terlihat istrinya sedang memasak dan tak terlihat Bi Prapti di sana.

__ADS_1


Langsung didekatinya kemudian dipeluknya dari belakang. Dihirupnya aroma tubuh istrinya dengan begitu dalam yang biasanya bisa menenangkan dirinya.


"Ya ampun Mas, aku kaget" jawab Riana yang terkejut dengan kehadiran suaminya yang tiba-tiba.


Diko tak menjawab. Ia masih fokus membenamkan wajahnya di tengkuk istrinya sambil memeluk semakin erat.


"Mas, Mas" panggil Riana berusaha melepaskan.


Namun Diko memeluknya semakin erat tanpa menjawab sepatah katapun. Diko hanya ingin kenyamanan sejenak. Ia ingin mencari ketenangan lewat pelukan yang biasa dilakukannya agar sedikit membuatnya lega.


Riana merasa ada sesuatu yang sedang membebani suaminya. Ia sudah hapal jika Diko hanya ingin di peluk tanpa bercerita biasanya ia sedang dalam kondisi yang tidak begitu baik. Oleh karena itu Riana membiarkannya hingga Diko lega. Namun ia tetap melirik ke pintu dapur takut Bi Prapti atau ibu mertuanya tiba-tiba masuk.


"Ada apa Mas?" tanya Riana saat Diko sudah melepaskan pelukannya.


Diko menggeleng.


"Cuma capek aja, banyak kerjaan tadi di kantor" jawabnya berbohong.


Riana tersenyum lega karena ternyata suaminya tidak kenapa-kenapa.


"Kamu mandi dulu ya, aku sebentar lagi selesai. Nanti kita ngobrol" ucapnya sambil mengelus pipi suaminya dengan lembut.

__ADS_1


Diko mengangguk, kemudian mengecup kening istrinya dan berlalu.


__ADS_2