
Pak Ridwan mengelus dadanya sambil istighfar melihat sikap Diko. Tidak biasanya Diko seperti ini. Biasanya ia melunak jika diberi nasehat.
"Belajarlah mencintai Riana Nak, karena Mama tahu dia sangat menyayangi kamu. Dulu ketika kamu belum menikah, bahkan Mama tidak sedetail Riana dalam mengurus kamu. Lihat sekarang Riana, mulai dari kamu bangun tidur hingga tidur lagi semuanya ia yang urus" ucap Bu Hesti yang sedih melihat Diko yang seakan tak senang dengan pernikahannya.
"Coba sekarang Mama tanya, kamu tahu tidak dimana letak susunan kaos kaki kamu di rumah?" tanya Bu Hesti.
Diko terdiam kemudian menggeleng.
"Tuh, kan. Karena apa?? Karena setiap detail dari apa yang melekat di tubuh kamu itu semuanya istri kamu yang menyiapkan, mama tahu itu. Dan itu dilakukannya sejak hari pertama kalian menikah" lanjut Bu Hesti pada Diko yang hanya bisa terdiam.
"Apa tidak ada tergerak sedikit perasaan dalam diri kamu melihat istri yang begitu perhatiannya pada kamu?" lanjutnya.
"Biarkan saja Ma, biar nanti dia tahu rasa jika ada orang lain yang lebih menghargai istrinya dibanding suaminya sendiri" ucap Pak Ridwan yang semakin emosi.
"Jadi Papa mendoakan aku dan Riana berpisah?" tanya Diko yang semakin kesal karena ucapan ayahnya.
"Tidak, jangan-jangan itu harapan kamu?" sindir Pak Ridwan sambil membuang muka.
"Aku tidak pernah berharap begitu, aku hanya belum bisa menerima bahwa aku menikah dengan wanita pilihan Papa, bukan pilihanku" jawab Diko sambil turut memalingkan wajahnya.
__ADS_1
"Astaghfirullahaladziim, Dikoo, nyebut kamu Nak. Lembutkan hati kamu, ingat apa yang kamu ikrarkan dalam ijab qabul, kasihan Riana" ucap Bu Hesti sambil mengelus dada.
"Diko" ujar Pak Ridwan dengan nada yang melembut.
"Papa tidak marah sama kamu, maaf kalau tadi papa sempat emosi. Sekarang Papa hanya minta kamu untuk pikirkan kembali apa yang kamu lakukan. Semoga wanita pilihan Papa bisa membuat kamu bahagia, bisa kamu cintai sepenuh hati kamu, kalaupun tidak sekarang, tapi suatu hari nanti kamu pasti akan mengerti" ucap Pak Ridwan sambil berdiri dan menepuk pundak anaknya itu kemudian pergi ke kamarnya.
Sebelum membuka pintu kamarnya, Pak Ridwan kembali melihat Diko.
"Nanti hati-hati pulangnya ya, salam buat Riana. Papa masuk dulu" ucapnya sambil kemudian masuk ke dalam kamarnya.
Diko terdiam kemudian tertunduk kaku. Ia tak menyangka akan membahas hal ini dengan kedua orang tuanya.
Diko langsung berdiri dan mengambil barang-barang yang telah di packing Riana di dalam kamarnya kemudian turun ke bawah.
Baru saja Riana melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah, tangannya langsung di tarik oleh Diko keluar.
"Ayo kita pulang" ucapnya.
"Lho Mas, aku belum pamit sama Papa Mama" jawab Riana yang kebingungan.
__ADS_1
"Papa Mama udah tidur, besok aja ke sini lagi" ucapnya sambil menarik Riana untuk masuk ke dalam mobil.
Tia yang heran melihat abangnya itu hanya bisa terdiam terpaku. Ia merasa ada yang tidak beres dalam percakapan yang dilakukan antara Diko dan orang tuanya tadi. Kemudian ia buru-buru ke kamar orang tuanya untuk mencari informasi.
...***...
"Sebenarnya ada apa sih Mas?" tanya Riana pada Diko yang fokus menyetir.
Diko hanya terdiam dan tetap menyetir tanpa menjawab pertanyaan Riana.
"Mas"
"Mas"
"Maas"
Tetap tak ada jawaban dari yang bersangkutan, akhirnya Riana senyap sampai di rumah.
Riana bingung apa yang terjadi pada suaminya hingga terlihat aneh seperti ini.
__ADS_1