
Diko segera mengirimkan pesan pada adiknya, ia memberi kabar bahwa lamarannya diterima oleh Riana.
Tia sontak lompat kegirangan mendengar kabar tersebut.
Tak lupa Diko memberi tahu pada Tia bahwa ia akan membawa Riana ke rumah untuk dikenalkan pada Mama, Papanya dan Tia.
Tak menunggu lama sejak mendapatkan kabar tersebut, Tia langsung melompat dari kasurnya dan berlari menuju kamar ayah dan ibunya.
Tia tak dapat membendung rasa bahagianya, akhirnya abang semata wayangnya akan menikah dan melepas masa lajang. Begitupun Pak Ridwan dan Bu Hesti, mereka sungguh bahagia mendengar kabar tersebut.
Ada kelegaan di hati mereka malam itu.
...***...
"Yuk" ucap Riana sambil mengunci pintu kamarnya.
Diko langsung berdiri dan tersenyum setuju.
Dipandangnya Riana dari atas hingga ke bawah. Sungguh ayu dan tidak berlebihan. Walaupun Riana belum pernah bertemu ibunya, ia yakin ibunya pasti senang dengan Riana.
Mereka pun melangkahkan kaki menuju ke mobil Diko yang terparkir di halaman, dan segera meluncur ke rumah Diko yang hanya berjarak sekitar 15 menit.
Sepanjang perjalanan mereka berdua tak banyak bicara. Riana terlihat kaku dan malu-malu. Padahal sebelumnya ia selalu bersikap biasa saja pada Diko, bahkan sebelum ia menerima lamaran Diko tadi sekalipun. Belum ada rasa gugup pada dirinya.
Entah kenapa setelah ia mengatakan bahwa ia menerima lamaran Diko, ia mulai gugup tak karuan. Jantungnya berdegub sungguh kencang, sampai rasanya ingin ia memerintahkan jantungnya untuk berdegub dengan santai karena takut Diko mengetahui kegugupannya.
Riana berasumsi bahwa kegugupannya itu karena ia mulai jatuh cinta pada pria di sampingnya itu. Ingin ia mengutuk dirinya bagaimana mungkin ia cepat sekali jatuh cinta pada pria yang baru di kenalnya ini, sampai menerima lamarannya dan mau saja mengikuti keinginannya menikah tiga hari lagi.
__ADS_1
Buru-buru ia menepis pikiran yang mengganggunya itu. Dengan segera ia menarik nafas panjang agar pikiran-pikiran jelek tak lagi mengganggu dirinya.
Mendengar suara nafas Riana yang berat, membuat Diko menoleh.
"Kenapa Ri?" tanya Diko.
"Hmm, ga apa-apa Mas. Cuma nervous aja" jawab Riana sambil menyengir.
"Orang tuaku baik kok, aku yakin kamu pasti diperlakukan dengan baik. Mereka semua menantikan kedatangan kamu" ucap Diko menenangkan Riana.
"Iya Mas, aku yakin keluarga kamu baik. Mudah-mudahan semuanya lancar" jawab Riana sambil tersenyum.
Tak lama kemudian mobil Diko memasuki pekarangan rumahnya. Terlihat Bi Prapti, asisten rumah tangga di rumahnya membukakan pagar.
'Pasti Papa atau Mama nih yang suruh Bi Prapti buka pagar, biasanya juga aku buka sendiri' pikirnya dalam hati yang keheranan melihat Bi Prapti yang sudah standbye di dekat pagar. Diko pun sontak tersenyum.
"Yuk kita masuk," ajak Diko.
Riana hanya menyengir tanpa menjawab.
"Udah jangan nervous ya, Bismillah. Insya Allah akan baik-baik aja" ucap Diko sambil mengelus pundak Riana.
Riana tersenyum dan mengangguk. Ia makin gugup karena sentuhan Diko. Entah kenapa selalu ada rasa seperti sengatan yang menjalar pada dirinya setiap Diko menyentuhnya.
Terlebih tadi ketika Diko memeluknya, jantungnya serasa mau copot saking dag dig dugnya. Ia makin panik, apakah ia benar-benar sudah jatuh cinta dengan lelaki ini.
Diko membuka pintu mobilnya kemudian turun. Riana pun mengikutinya, ia turun dari mobil kemudian berjalan di samping Diko.
__ADS_1
Dari kejauhan terlihat Pak Ridwan dan Bu Hesti sudah berada di ruang tamu. Terlihat juga Tia yang baru saja meletakkan sepiring kue di atas meja.
Diko langsung mengambil tangan Riana dan menggenggamnya sambil berjalan menuju pintu masuk rumahnya. Lagi-lagi Riana merasa sengatan itu kembali menjalar ke seluruh tubuhnya, ia mendadak lemas hingga ke kaki. Dengan cepat ia mengeratkan genggamannya pada tangan Diko untuk menjaga keseimbangannya.
Ia pun menarik nafas panjang, ia mulai khawatir bisa-bisa ia pingsan jika terus menerus di sentuh oleh Diko seperti ini.
Dari dalam Rumah terlihat Pak Ridwan dan Bu Hesti tersenyum lebar menyambut kedatangan mereka berdua. Riana langsung menyalami Pak Ridwan dan Bu Hesti.
"Duuh ayuneee calon mantu" ucap Bu Hesti sambil memeluk Riana.
Riana sontak malu-malu mendengar ucapan calon ibu mertuanya itu.
"Ri, ini adikku, Tia" ucap Diko sambil menunjuk Tia yang sedang tersenyum manis.
Riana langsung menyalami dan memeluk Tia.
"Makasih ya Mbak, udah nerima lamaran Mas Diko" ucapnya sambil mengusap punggung Riana.
Riana mengangguk kemudian tersenyum mendengar ucapan Tia.
"Ayo duduk" ucap Pak Ridwan pada semuanya untuk segera duduk agar bisa mengobrol dengan nyaman.
"Ri, mulai sekarang panggil Mama sama Papa ya" ucap Bu Hesti pada Riana.
Riana tersenyum bahagia mendengarnya. Ia bagai menemukan kehangatan keluarga di sini. Kehangatan yang sudah lama tak ia rasakan.
Malam itu mereka mengobrol tentang persiapan pernikahan yang tinggal mengihitung hari. Keluarga Diko berencana akan berangkat ke Surabaya pada hari selasa.
__ADS_1