Tamu Hati Tak Diundang

Tamu Hati Tak Diundang
BAB 34


__ADS_3

Diintipnya ke kamar mandi, tampak bath up yang dipenuhi dengan air dan kelopak mawar yang menggenang di atasnya. Di tambah semerbak wangi dari lilin aromaterapi yang membuat relax siapapun yang berada di sana.


Setelah cukup berkeliling, Riana kembali mencari petugas hotel tersebut. Ternyata ia sedang membuka gorden agar cahaya sore itu masuk ke dalam kamar.


Riana membuka balkon yang ada di balik gorden. Tampak dua buah kursi santai dan sebuah meja kecil disana.


Riana memandang view yang begitu indah yang di suguhkan dari kamar ini.


'Sungguh luar biasa' bathinnya.


View kota Surabaya begitu jelas terlihat. Di tambah lampu-lampu kota yang mulai menyala karena hari sudah senja menambah indah dan mengagumkannya pemandangan dari balkon kamar pengantinnya ini.


Riana pun masuk kembali.


Mata Riana tertuju pada sebuah koper berwarna hitam yang telah berada di samping kopernya.


"Lho Mas, ini koper siapa?" tanya Riana sambil menunjuk koper tersebut.


"Koper suami Mbak, tadi kami yang membawakannya ke sini karena Mas Diko bilang ia mau mandi dulu jadi beliau minta tolong kami untuk membawakan kopernya" jawab petugas itu.

__ADS_1


Riana manggut-manggut mendengar penjelasan tersebut.


"Kalau begitu saya permisi dulu ya Mbak, kalau perlu bantuan silahkan hubungi kami. Selamat beristirahat" ucap petugas tersebut pamit kemudian melangkah pergi.


Riana tersenyum sopan sambil berjalan mengantarkan petugas itu ke depan pintu kamar.


Riana menutup pintu kamar kemudian bergegas membuka kopernya.


Dengan buru-buru dicarinya baju tidur yang sopan untuk dipakai selain daster pendek tak berlengan ini.


Di lihatnya dengan detail satu persatu baju bawaanya, berharap terselip satu baju tidur yang lebih tertutup daripada yang tengah dikenakannya itu yang ia rasa lebih pantas digunakan di depan Diko nanti.


"Duh, Riana pinter banget sih kamu? Masa ga ada bawa baju tidur yang rada panjangan dikit sih?" ucapnya sambil mendumel pada dirinya sendiri.


Ia pun menarik nafas panjang karena hopeless.


Karena tak menemukan satupun baju yang di maksud, ia akhirnya mengambil sebuah celana leging hitam panjang kemudian dipadukanmya dengan sebuah baju kaos berwarna putih.


"Lumayanlah," gumamnya sambil berkaca.

__ADS_1


'Tampak santai dan tidak terbuka', pikirnya dalam hati.


Kemudian diliriknya ke sekitar kamar yang sepi.


Ia mulai berpikir apa yang akan di lakukannya menjelang Diko datang. Kemudian ia juga menerka-nerka bagaimana sikapnya nanti saat berdua dengan Diko di kamar.


Riana menggaruk kepalanya sambil wajahnya bersemu merah. Ia sungguh canggung menghadapi hari pertamanya sebagai istri.


"Hmm, awkward juga ya kalau tiba-tiba Mas Diko masuk terus aku kaya lagi nungguin dia di sini" gumamnya lagi.


"Ya ampun, kok aneh begini sih jadi pengantin baru? Apa-apa serba malu" lanjutnya.


Disambarnya ponselnya, kemudian ia keluar kamar dan menutupnya.


'Mendingan ke kamar Mbak Farah lagi aja deh, nanti kalau Mas Diko mau ke kamar pasti dia telepon aku. Kunci kamar kan ada di aku' bathinnya sambil melangkah ke arah lift.


Setelah turun beberapa lantai dan berjalan menuju kamar Farah, ia pun mengetuk pintu kamar.


Tak lama terdengar suara sahutan Farah dari dalam kamar.

__ADS_1


Begitu pintu terbuka,


"Astagaa Rianaaa, kenapa masih ke siniiiii?" ucap Farah gemas.


__ADS_2