Tamu Hati Tak Diundang

Tamu Hati Tak Diundang
BAB 106


__ADS_3

Kemudian Diko menyebut-nyebut video. Riana penasaran video apa yang Diko maksud.


Tak lama kemudian, tak terdengar lagi suara Diko. Sepertinya ia sudah mengakhiri panggilannya.


Dengan perlahan Riana masuk ke kamar seolah tak mendengar apa-apa.


Tapi ia tak menemukan Diko di sana. Ia menebak Diko ke kamar mandi setelah menelepon tadi.


Kemudian terdengar bunyi 'ting' dari ponsel Diko.


Riana yang penasaran kemudian mendekat ke nakas di mana ponsel Diko tergeletak. Terlihat pop up muncul di layar ponsel suaminya.


Terlihat seseorang dengan kontak bernama Ferdy mengirimkan sebuah video.


'Oh, ini mungkin video yang di maksud Mas Diko tadi' gumamnya dalam hati.


Kemudian masuk lagi satu buah pesan setelah video tersebut.


'Ini pelakunya, dalang di balik pemerkosaan itu'


Begitu tulisnya.


Darah Riana berdesir. Pelaku pemerkosaan apakah ini yang di maksud.


Pikirannya langsung menuju ke kejadian yang menimpanya berbulan bulan lalu. Tangannya setengah bergetar. Badannya terasa lemah, tulangnya seolah tak sanggup menopang tubuhnya.


'Apa pelaku pemerkosaan itu??' bathinnya.


Dengan rasa keingintahuan yang membuncah, diberanikannya untuk lancang membuka pesan masuk tersebut. Ia kuatkan dirinya untuk mengklik pesan itu.


Dimainkan video kiriman dari pengirim tersebut.


Riana seketika tercengang. Ia sampai menutup mulutnya tak percaya. Kakinya benar-benar tak sanggup lagi menopang tubuhnya. Dengan sekejap badannya sudah terkulai lemas bersandar di tepian nakas.


Handphone suaminya yang tadi ia pegang pun sudah terlepas dan berada di lantai.


Diko keluar dari kamar mandi melihat istrinya sudah terduduk dengan posisi handphone miliknya terbuka.


Diko seketika panik.

__ADS_1


"Sayang, ada apa?" tanya Diko sambil mengguncang Riana yang masih tercengang.


Tanpa jawaban ia langsung menyambar ponselnya dan melihat apa yang di lihat istrinya. Diko langsung tahu kenapa Riana tiba-tiba terkulai lemah.


Diko pun bergegas memainkan video yang sejak tadi ditunggunya itu. Tak jauh beda dengan Riana, ia pun setengah mati tercengang dan tak percaya.


Di video tersebut terlihat seorang wanita yang masih diingatnya. Seorang wanita yang pernah menjadi masa lalunya sekitar beberapa tahun lalu. Wanita yang dulu sempat dipacarinya namun kandas.


Diko menebak pastilah motif ini semua karena unsur sakit hati pada dirinya.


"Ya Tuhan" ucapnya.


Hatinya hancur lebur. Seseorang dari masa lalunya menghancurkan masa depan istrinya yang tak tahu apa-apa.


"Mas, jawab aku jujur, apa itu pelaku.."


Belum selesai pertanyaan Riana, Diko sudah mengangguk mengiyakan. Ia sudah tahu arah pertanyaan istrinya.


Air mata Riana meleleh. Ia menggelengkan kepalanya seolah menolak.


"Itu ga mungkin Mas. Jangan sekali-sekali fitnah seseorang. " ucap Riana dengan penuh rasa tak percaya.


"Kamu kenal dengan orang ini?" tanya Diko.


Riana mengangguk pelan sambil menangis.


"Itu.." ucapnya berusaha menjawab di sela tangisnya.


"Itu, Bu Devi, Atasan ku" lanjutnya tak kuasa menahan air mata.


Hatinya sakit. Ia tak percaya, apakah salah yang telah ia perbuat sampai-sampai Bu Devi tega padanya.


"Kamu kenal dia?" tanya Riana mencoba mencari tahu.


Diko mengangguk pasrah.


"Dia.." ucapnya terbata-bata.


"Dia.. Dia mantan pacarku" lanjutnya mengakui.

__ADS_1


Riana terperangah. Ia makin tak percaya.


Atasan yang selama ini dihormatinya, di sanjungnya dan dikaguminya, adalah mantan pacar suaminya yang sekaligus menjadi dalang pemerkosaan terhadap dirinya dengan motif yang tak ia ketahui, yang membuat hidupnya terpuruk dan hancur belakangan ini.


"Aku harus ke kantor polisi" ucap Diko sambil menghapus air mata istrinya.


"Aku ikut" ucap Riana lantang.


Diko menggeleng.


"Ga sayang, ga" ucapnya menolak.


"Aku ikut" ucap Riana semakin lantang.


Diko lagi-lagi menggeleng.


"Jangan sayang, jangan. Biar aku yang menyelesaikan semua ini" ucap Diko setengah memohon.


Riana menguatkan dirinya untuk berdiri. Dilawannya segala rasa lemah yang sedari tadi menderanya.


"Kalau kamu tidak mau, aku akan pergi sendiri" ucapnya sambil menuju pintu kamar.


Dengan cepat Diko mencegah.


"Sayang, aku mohon jangan" ucap Diko khawatir akan kondisi Riana jika bertemu dengan pelakunya.


Tanpa menjawab sepatah kata pun, Riana berusaha melepaskan dirinya dan membuka pintu.


"Oke, oke" ucap Diko pasrah.


"Oke, kamu ikut" lanjutnya.


"Kamu yakin? Aku takut kamu ga kuat nanti di sana" ucap Diko masih berusaha bernegosiasi.


Riana yang cukup kesal langsung membuka pintu dan keluar.


Diko lagi-lagi menariknya.


"Sayang please" ucapnya sambil menarik tangan Riana.

__ADS_1


"Oke oke, kamu ikut, kamu ikut. Ayo kita berangkat sekarang" jawab Diko sambil menggandeng tangan istrinya menuruni tangga.


__ADS_2