
Sepulangnya mereka dari kantor Pak Yohanes, Diko ingin mengajak istrinya bicara serius. Ia sudah menantikan ini sejak minggu lalu, namun karena adanya masalah ini, maka ia menunda untuk memberi tahu Riana.
Namun saat ini sepertinya sudah saatnya. Ia menunggu sampai selesai makan malam.
Diko menyusul Riana ke meja makan, terlihat Riana sedang mempersiapkan piring untuknya dan Diko. Bi Yum terlihat membawa beberapa lauk dan meletakkannya ke atas meja. Ditatanya piring-piring yang berisi ayam kecap, sayur bening bayam, dan bakwan jagung dengan rapi. Tak lupa nasi beserta kerupuk sebagai pelengkap.
Riana langsung mempersilahkan Diko untuk makan malam. Diko yang sudah tak tahan melihat ayam kecap yang begitu menggugah seleranya itu langsung mengangguk mantap dan duduk manis.
Sambil makan, Diko sesekali melirik Riana yang makan dengan lahapnya. Ia senang hari ini Riana mulai berselera makan lagi, karena beberapa hari kebelakang nafsu makan istrinya itu begitu menurun karena terbebani pikiran tentang masalah dengan Pramudya.
Diko berinisiatif menambah sesendok nasi ke piring Riana. Riana terlihat melotot namun Diko hanya tersenyum dan meneruskan mengambilkan sepotong ayam lagi, sayur dan satu buah bakwan jagung ke dalam piring Riana.
"Makan yang banyak, biar kamu sama anak kita makin sehat. Aku suka kalau kamu makin chubby" ucap Diko dengan senyum khasnya.
Riana tertawa mendengar ucapan Diko.
"Kalau aku chubby kamu ga ngelirik yang langsing-langsing kan?" tanya Riana.
"Kok kamu nanyanya gitu sih, kamu chubby kan karena biar anak kita sehat. Lagian aku suka kok" jawab Diko sambil mengacak rambut istrinya.
__ADS_1
Riana hanya bisa tersipu malu.
Setelah selesai makan, Diko melihat Riana masuk ke dalam kamar. Di ikutinya, ternyata Riana ke kamar mandi.
Kemudian Diko duduk di tepi tempat tidur menunggu Riana keluar dari kamar mandi.
Tak lama kemudian Riana pun keluar dan melihat Diko sedang menunggunya. Diko melambaikan tangan dan menepuk tempat tidur sebagai isyarat agar Riana duduk di sebelahnya.
"Ada apa Mas?" tanya Riana heran.
"Sini dulu sayang, ada yang mau aku omongin" ucap Diko.
"Sayang, sebenarnya aku udah mau ngomongin ini dari minggu lalu, aku ragu awalnya, tapi mau coba diskusiin ini sama kamu. Waktu itu aku tahan dulu karena kita lagi menghadapi masalah. Dan dengan adanya masalah ini, keraguan aku berubah menjadi keyakinan dan mudah-mudahan kamu juga begitu" ucap Diko mengawali pembicaraanya.
Riana menyimak dengan seksama kata perkata yang disampaikan oleh suaminya. Ia menunggu kelanjutan penjelasannya.
"Jadi, sebenarnya kantor aku buka cabang baru. Semua sudah ready tinggal opening dan mengurus beberapa kelengkapan berkas saja. Makanya beberapa waktu kemarin aku sibuk harus sampai bawa kerjaan ke rumah, semua untuk persiapan cabang baru ini" lanjut Diko lagi.
"Cabang barunya tapi bukan di Jakarta, melainkan di Jogja. Awalnya, aku dan Joe sepakat untuk mengutus salah satu karyawan yang sudah kami percaya untuk memegang cabang baru di sana. Tapi setelah melalui beberapa diskusi dengan Joe, Joe menawarkan bagaimana kalau aku saja yang menghandle kantor di Jogja. Kalau Joe yang handle, urusannya sedikit lebih ribet. Karena istri Joe statusnya masih bekerja di salah satu perusahaan, dan anak Joe juga sudah sekolah di Jakarta. Kalau Joe yang pindah ke Jogja, yaaa pastinya urusannya jadi lebih lama dan panjang kan sayang. Aku mau ngajak kamu diskusi tentang ini awalnya karena aku juga mau minta pendapat kamu. Tapi, dengan adanya masalah kemarin, aku jadi yakin dengan ini" ucap Diko lagi.
__ADS_1
Riana sedikit kaget dan belum bisa berkomentar.
"Kamu mau kalau kita pindah ke Jogja?" tanya Diko serius pada Riana.
"Mudah-mudahan dengan pindah, kita bisa lebih tenang dan tidak lagi dalam bayang-bayang apa yang pernah terjadi di Jakarta" ucap Diko.
"Gimana sayang?" tanya Diko hati-hati.
Riana terlihat berpikir sejenak.
Kemudian ia mengangguk sambil tersenyum.
"Iya Mas, aku mau" jawab Riana.
Diko terlihat tersenyum puas.
"Kemanapun kamu, aku sebagai istri akan ikut dan mendukung kamu sepenuhnya" ucap Riana.
Diko tersenyum senang. Di peluknya istrinya itu dengan begitu erat.
__ADS_1