
Diko terlihat menggenggam tangan Riana dengan begitu erat. Dilapnya keringat yang bercucuran di kening istrinya. Sesekali ia menempelkan bibirnya di kening Riana sebagai support.
Tampak seorang dokter sedang memberi aba-aba pada Riana untuk segera mengejan. Beberapa perawat terlihat stanbye untuk turut membantu persalinan.
Riana merintih kesakitan. Sakit yang tak pernah ia alami sebelumnya, tak pernah ia merasakan kondisi sesakit ini sepanjang hidupnya. Rasanya nyawanya sudah siap untuk melayang. Antara hidup dan mati ia pertaruhkan saat ini.
Terbayang wajah ibunya di saat hampir kontraksi bukaan lengkap. Penyesalan demi penyesalan timbul atas segala perlakuan kurang menyenangkan yang pernah ia lakukan pada masa remaja labilnya dulu. Sungguh luar biasa perjuangan seorang ibu, untuk melahirkan anaknya ke dunia harus bertaruh nyawa.
Kontraksi selama 13 jam sungguh membuatnya hampir kehabisan tenaga. Di sisa-sisa tenaganya bukaan yang hampir lengkap akhirnya datang.
Setetes air mata mengalir dari sudut matanya. Diko mengelapnya sambil memandang Riana.
"Kamu pasti bisa sayang, kamu harus semangat, sedikit lagi" ucap Diko lembut.
Dokter terlihat memberi aba-aba pada Riana untuk mengejan.
Diko membantu sedikit mendorong punggung Riana agar semakin kuat dalam mengejan.
__ADS_1
"Aku ga bisa Maas" ucap Riana setelah gagal pada kesempatan pertamanya.
"Bisa sayang, kamu bisa. Kita coba lagi ya" ucap Diko menyemangati.
"Ayo Ibu, kita coba lagi. Sedikit lagi" ucap Dokter yang terus memantau jalan lahir.
"Hhhhrrrrgh" suara Riana mengejan sekuat yang ia bisa.
"Ayo terus Ibu, sedikit lagi" ucap Dokter tersebut.
"Bisa sayang, kamu bisa. Percaya aku, kamu bisa. Sebentar lagi kita bertemu dengan anak kita, kamu harus semangat" ucap Diko berusaha memberikan semangat terbaiknya di saat-saat genting seperti ini.
"Ayo Ibu, sekali lagi" ucap Dokter memberi aba-aba.
"Hhhhhrghhhhhhhhhhh" suara Riana yang berusaha dengan sisa-sisa tenaganya sambil meneteskan air mata.
Terlihat wajah sumringah sang Dokter sambil menyambut bayi perempuan yang keluar dengan sehat selamat dari jalan lahirnya. Terdengar suara tangis bayi memenuhi ruangan, suara sukacita yang dinantikan Diko dan Riana saat itu.
__ADS_1
Dokter langsung menginstruksi Diko untuk memotong tali pusar anaknya. Dengan tangan gemetaran, Diko menggunting tali pusar darah dagingnya itu.
Kemudian dihampirinya Riana dengan wajah sembab karena air mata yang tak bisa di bendung itu keluar sejak melihat anaknya keluar dan menangis.
"Selamat ya sayang, terima kasih sudah berjuang dengan sangat hebat. Aku sayang kalian" ucap Diko di sela tangisnya.
Riana mengangguk sambil tak kuasa menahan air matanya.
Diko mencium kening istrinya berkali-kali sambil mengucapkan kata mesra sebagai wujud perasaan bahagia dan senangnya, dan juga sebagai penghargaan atas perjuangan Riana selama hamil dan juga proses persalinan yang baru sekali seumur hidup disaksikannya ini. Pengalaman luar biasa baginya melihat seorang anak manusia lahir dari istrinya yang mana merupakan darah dagingnya. Dengan proses yang membuatnya semakin takjub akan kekuasaan Tuhan.
Perawat meletakkan bayi mereka yang masih belum di bersihkan ke atas dada Riana. Riana semakin terisak menangis bahagia. Dielusnya buah hati mereka dengan lembut.
Diko memeluk keduanya dengan perlahan.
Hari ini kebahagiaan paling dinanti telah menjadi pelengkap kehidupan mereka. Diko berjanji dalam hatinya untuk menjaga istri dan anaknya sampai kapanpun. Ia juga berdoa semoga Tuhan memberikan karunia kebahagiaan dalam keluarganya. Tuhan begitu baik padanya karena masih diberikan kesempatan untuk merasakan kebahagiaan ini dengan masalalunya yang kelam. Tak heran moment ini akan menjadikan taqwanya akan Tuhan semakin lebih dalam.
...TAMAT...
__ADS_1