
Pagi itu selepas Diko berangkat kerja, Riana menyibukkan dirinya dengan membaca buku tentang kehamilan. Karena dirinya benar-benar merasa awam tentang masa kehamilan.
Apalagi di usia kandungannya yang hampir memasuki 8 minggu ini, ia semakin sering mengalami morning sickness. Tiada hari tanpa adegan mual dan muntah yang pasti dialaminya. Sikat gigi, mual. Mencium bau nasi panas, muntah. Mencium bau masakan Bi Yum, tutup kamar rapat-rapat biar tidak tercium dan tidak mual serta muntah. Begitulah sebagian kecil drama dari kehamilan Riana.
Di tengah konsentrasinya membaca, tiba-tiba ponsel Riana berdering. Ternyata panggilan video dari suaminya. Memang sejak Riana hamil, Diko semakin posesif. Tiap sebentar selalu menelepon untuk memastikan keadaan Riana baik-baik saja.
"Hai Mas" jawab Riana setelah menjawab panggilan tersebut.
"Iya sayang, kamu lagi apa? Mual muntah lagi?" tanya Diko perhatian.
"Ga kok Mas cuma tadi aja sekali, aku di kamar aja lagi baca buku. Bi Yum lagi masak soalnya" jawab Riana.
__ADS_1
"Syukurlah kalau begitu, mudah-mudahan mual-mualnya cepat hilang biar kamu ga sembunyi terus kalau Bi Yum lagi masak" ucap Diko.
"Oh iya, kamu kok udah lama ga kepingin apa kek gitu?" tanya Diko.
"Maksudnya?" tanya Riana balik.
"Yaa biasanya kamu suka bilang kepingin ini itu, tapi kayaknya semingguan ini anteng-anteng aja ga ada kepingin apa-apa" jawab Diko.
"Nanti kalau aku lagi kepingin sesuatu kamu yang susah lho" ucap Riana.
Riana tergelak mendengar jawaban Diko. Ia terbayang bagaimana suaminya kesana kemari mencari orang yang jual bubur kacang ijo tengah malam.
__ADS_1
"Kamu jangan ketawa dong, kasihan dong sama aku tengah malam ngetuk pintu rumah tukang bubur campur" ucap Diko sambil manyun mengenang malam itu. Di tengah keputusasaannya mencari bubur kacang ijo tengah malam, akhirnya ia mendapat ide dan pencerahan, ia berinisiatif mendatangi rumah abang-abang tukang bubur campur yang biasa mangkal pagi-pagi di ujung gang dekat perumahan mereka, karena kemungkinan buburnya sudah dimasak dari malam hari. Berbekal idenya itu, akhirnya ia berhasil membawa pulang sebungkus bubur kacang ijo permintaan istrinya yang tengah mengidam, yang walaupun setelah suapan ketiga istrinya itu sudah ogah untuk memakan bubur kacang ijo tersebut.
"Maaf deeh sayang, namanya juga ibu hamil" ucap Riana sambil tertawa geli.
"Kalau ngidam lain kali yang gampang di dapat aja yaa" ucap Diko.
"Kalau ngidamnya tas merk Her*es yang harganya seharga rumah baru gimana? Gampang didapat lho Mas, tinggal pesen langsung deh datang" ucap Riana bercanda.
"Yaah jangan yang mahal juga dong sayang. Selain mudah di dapat, juga jangan kemahalan. Mendingan uangnya untuk biaya pendidikan anak kita" ucap Diko.
"Kalau ga di turutin, ntar anak kita ngiler lho Mas. Emang kamu mau anak kita ileran?" tanya Riana sambil terkikik geli.
__ADS_1
"Sayanggg, kayaknya mendingan aku beli celemek buat lap iler anak kita aja deh dari pada beli tas Her*es. Beli celemek bayi 1 juta udah dapat sekeranjang, lha kalau tas Her*es sejuta talinya doang juga belum dapet. Ga apa-apa deh, ileran ileran dah" ucap Diko.
Riana semakin tertawa lebar mendengar alasan suaminya itu. Alasan yang cukup masuk akal namun membuatnya geli.